
"Sssttt...bisakah kau tak berteriak hemm?? Apa kau ingin membuat ibu merasa jika aku memukul atau menyiksamu?" Bian menempelkan jari telunjuknya pada bibir Gea yang langsung mengatupkan kedua bibirnya rapat. Dia memang terkejut tadi. Tapi Bian benar, dia terlalu mendramatisir suasana dan bisa menumbulkan salah paham.
"Maaf." katanya singkat lalu membalikkan tubuhnya, memunggungi Bian. Sebenarnya tubuh Gea lumayan capek hari ini. Tapi tidur dengan orang asing di tempat tidurnya yang hanya berukuran segitu juga membuatnya risih. Gea sudah terbiasa tidur sendiri sejak kecil. Aneh saja rasanya jika ada orang lain disampungnya.
"Apa kau susah tidur?" tanya Bian. Pasti pria itu tau jika Gea tak nyaman.
"Aku akan segera tidur." jawab Gea yang berusaha memperbaiki posisi tidurnya. Tapi sebuah tangan besar sudah memegang pundaknya dan menariknya kuat hingga tubuh langsingnya berbalik arah. Belum sempat mencerna apa yang terjadi, Bian sudah merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya.
"Pak..ini..." Gea berusaha menyingkirkan tangan Bian.
"Kenapa? aku suamimu dan kau istriku. Wajar bukan kalau kita berpelukan? apalagi ini malam pertama kita." sahut Bian dengan ketenangan ekstra.
__ADS_1
"Tapi ini....ahhh saya susah bernapas pak. Lepaskan!!" Gea kembali berusaha melepaskan diri.
"Sssttt...diluar hujan. Aku tak terbiasa tidur diruangan tanpa penghangat atau AC. Jika kau terus bergerak dan membangunkan ular nagaku maka kupastikan malam ini benar-benar akan jadi malam pertama kita." Bisik Bian penuh ancaman. Gea tentu langsung merinding parah karenanya. Bian dengan cepat menutup matanya, tidur. Menyisakan Gea yang berusaha melepaskan diri tapi tak berhasil. Kuncian tangan Bian begitu kuat hingga dia tak bisa bergerak hingga gadis itu memilih diam. Sebuah senyum terbit di sudut bibir sang sekretaris saat merasakan Gea berhenti melawan.
Esok paginya, Gea yang baru terjaga merengangkan otot tubuhnya. Entah kenapa tubuhnya terasa sangat segar pagi ini. Dia juga tidur sangat nyenyak semalam. Tidur?? Ngomong-ngomong soal tidur dia jadi ingat pelukan Bian semalam. Kenapa pelukan hangat itu membuatnya....candu? apalagi aroma parfum ocen fresh dari tubuh suaminya yang menyejukkan jiwa. Salahkah dia jika menganggap pria itu memabukkan?
Gea menggelengkan kepalanya, mengusir berbagai pikiran negatif di kepalanya. Kenapa ada Bian...Bian dan Bian saja dalam otaknya seolah suami barunya itu sosok idolanya? Gea bergegas bangun dan menuju kamar mandi. Lamat-lamat dia mendengar suara tawa ringan dari arah dapur.
"Dek, cepetan mandi. Abis ini kita ke KUA. Mumpung masih pagi." Gea jadi ling-lung mendengarnya. Dek? kedengarannya manis juga.
"Hmmm baiklah." Senyampang Gea pergi mandi dan bu asih mencuci piring, Bian menata makan pagi mereka di meja makan.
__ADS_1
"Aahhh...pak Biaaannn!!" teriak Gea dari dalam kamar mandi. Bian yang baru meletakkan gelas segera berlari mendekat. Spontan membuka pintu kamar mandi itu lalu menerobos masuk, takut terjadi apa-apa pada Gea. Entah harus bersyukur atau bagaimana, dia malah menemukan istrinya yang hanya mengenakan pakaian dalamnya saja menatap marah padanya.
"A...ada apa?" Baru kali ini Bian gagap di depan seseorang. Dan naasnya dia adalah seorang wanita. Istrinya sendiri. Gea bersungut kesal sambil menunjuk lehernya.
"Apa yang sudah pak Bian lakukan!??" dengusnya marah. Bian menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu menatap istrinya.
"Hal yang seharusnya dilakukan pengantin baru dek." jawabnya santai tapi malah menyulut emosi Gea. Bagaimana tak emosi? Bian bahkan sudah memberikan tiga tanda disana. Di tempat yang sangat mudah dilihat orang lain. Dasar kurang ajar. Ehh...tapi dia sudah jadi suami sahnya.
"Kenapa pak Bian melakukannya? malu tau!!" sergah Gea dengan mata berkilat marah. Tapi Bian tetap tenang. Pandangan matanya tetap mengarah ke wajah tanpa berani melirik yang bawah. Begitu saja dia sudah kesusahan meredam irama detak jantungnya, apalagi melihat surga dunia disana?
"Kenapa mesti malu? Kita menikah secara sah. Lagipula aku merasa perlu melakukannya agar ibu percaya jika kita pasangan bahagia. Itu juga teguran buat kamu agar segera menutup aurat. Ehhmm...satu lagi, jangan biasakan memanggil suami jika kau seperti ini atau kau akan tau akibatnya."
__ADS_1
"Aaaahhhh....eehhmmmmpptttt .." Gea memekik kaget saat melihat keadaan dirinya, tapi sebelum teriakan itu jadi keras, Bian sudah bergerak cepat masuk ke kamar mandi kecil itu dan menutup bibir Gea dengan bibirnya. Untuk sesaat Gea dibuat melotot karena kaget. Tapi saat matanya bertatapan dengan mata sayu Bian, Gea tak kuat. Mata itu seperti amat layu dan penuh hasrat...membuatnya memejamkan matanya secara naluriah. Lupakan sejenak keadaan mereka. Gea hanya sanggup diam dan menikmati ciuman pertamanya dengan pasangan halalnya. Sang sekretaris yang dia benci.