
Derap langkah kaki Elang memasuki kamarnya terdengar jelas di kesunyian. Sebagian lampu rumah sudah padam. Elang melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, masih jam tujuh malam lewat. Artinya hari belum terlalu malam. Tapi karena dia hanya tingga berdua saja dengan Mitha rumah besar itu terlihat lengang. Hanya ada dua satpam yang berjaga di depan sedang kedua pembantu rumah tangga mereka belum kembali bekerja.
Tergesa dia membuka pintu kamarnya.Sedikit kesal kala tak ada siapapun disana. Dalam hati dia berharap ada Mitha yang membuat kamar itu berpenghuni selain dirinya. Mitha...entah sudah berapa kali dia berkata padanya agar tidak ada pisah kamar. Suka atau tidak, cinta atau tidak, mereka adalah sepasang suami istri. Aneh rasanya jika tidur terpisah.
Sambil menahan kekesalannya Elang keluar lagi.dari kamarnya dan menuju kamar Mitha yang bersebelahan dengan kamarnya. Diketuknya pintu berulang, tapi tak ada jawaban.
'Apa dia sudah tidur ya.' gumam Elang menduga-duga. Pelan dia membuka pintu kamar Mitha. Kosong. Lagi-lagi dia dibuat kesal. Apa istrinya itu belum pulang? apa semua ini ada hubungannya dengan Andra? Saat Elang akan berbalik, ekor matanya melihat sesuatu yang tersembul dari dalam laci meja rias Mitha yang paling bawah.Bergegas dia menghampiri dan mengambilnya. Selembar foto pemuda tampan berkulit kuning langsat tapi terlihat amat gagah dalam balutan pakaian olah raga basket warna putih yang membuatnya bak atlet profesional yang penuh kharisma.
'Andra.' desisnya dengan wajah masam. Laporan Bian kembali terngiang ditelinganya membuat tangannya terkepal kuat. Ternyata Mitha memang masih menaruh hati pada pemuda ini. Buktinya dia masih menyimpan fotonya meski sudah menikah dan menjadi istrinya. Pantas saja dia amat kerasan di kamarnya dan harus selalu diingatkan agar pindah dan tidur sekamar dengannya. Ternyata pemuda itu penyebabnya. Tanpa aba-aba Elang melangkahkan kakinya keluar dari kamar Mitha. Foto itu dia genggam erat ditangan kanannya.
"Mitha...Mitha!!" teriakan keras Elang kembali bergema di kesunyian sambil menuruni tangga. Perasaannya amat kesal sekarang.
"Ya kak." sahut Mitha dari sisi kanan tangga dimana dapur berada. Hampir saja Elang berjingkat kaget karenanya.
"Siapa dia?" sekilas Mitha menatap foto Andra yang ditunjukkan Elang padanya.
"Andra." jawabnya pendek lalu kembali acuh dan berjalan ke dapur. Elang segera mengikutinya.
__ADS_1
"Maksudku siapa dia? Pacarmu? Ohh..biar kuralat...apa dia selingkuhanmu?" Wajah Mitha keruh. Matanya nyalang menatap pria yang bergelar suaminya itu.
"Dia temanku." Lalu dengan cekatan dia menumis bumbu dan memasukkan beberapa jenis sayuran kedalam wajan dan mulai memasak.
"Teman? ha...ha...kurasa dia akan jadi teman tidurmu juga dilain hari." ejek Elang tanpa ekspresi. Kali ini Mitha mematikan kompornya dan mulai mendekat pada Elang. Ditatapnya wajah tampan itu tajam.
"Apa kakak ingin begitu? kalau iya maka aku akan dengan senang hati mengabulkan permintaan kakak. Ingat kak, perkataan adalah doa." kata Mitha ketus sambil melepas celemeknya dan dengan gerakan gesit merampas foto Andra dari tangan Elang dan berlalu ke kamarnya. Dia tidak peduli lagi makan malam, memasak, kewajiban atau berkata sopan. Sudah cukup dia melakukan semuanya.
"Untuk apa kau simpan fotonya? Kau sudah menikah. Tidak dibenarkan jika kau menyimpan foto pria lain dikamarmu." hardik Elang penuh emosi.
"Kalau begitu peraturannya berarti aku juga tidak boleh menyimpan uang dikamarku bukan? Karena ada gambar banyak pria ditiap lembarannya."
"0h ya? kalau begitu aku akan menyiramnya biar basah dan tidak garing lagi." sahutnya acuh sembari kembali berjalan.
"Mitha! Mitha tunggu!" teriak Elang makin keras. Tapi Mitha sudah menulikan pendengarannya.
"Berhenti kau anak haram!!" Spontan M
__ADS_1
itha menghentikan langkahnya. Tubuhnya kaku dengan rahan mengeras. Seperti robot tak bernyawa dia berbalik.
"Ada lagi yang ingin kau katakan tuan Elang narendra abimana?" tanyanya dingin.
"Satu lagi..."
"0hmmm...katakan."
"Buang semua foto pria itu dan lupakan dia!" kata Elang tegas dengan dagu terangkat. Sombong. Mitha yang juga diliputi emosi juga mengangkat dagunya..
"Kakak ingin aku melupakan dia bukan? apa boleh aku meminta hal yang sama agar kita adil? aku melupakan Andra dan kakak melupakan Sindy. Bisa?"
"Kau jangan mengada-ada." sergah Elang cepat.
"Kakak juga jangan ngatur-ngatur." protes Mitha keras.
"Tapi kau istriku!"
__ADS_1
"Oh ya....terimakasih sudah mengakuiku sebagai istrimu, tapi aku sudah tidak tertarik." dan kali ini Mitha benar-benar masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya rapat.