Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Sebelum sah


__ADS_3

Elang menggandeng tangan istrinya saat memasuki kediaman Andra. Rumah yang megah dengan gaya Eropa klasik. Pasti mendiang papanya adalah pria yang amat mengen seni hingga tiap sudut bangunan dihiasi oleh grafiran indah dan elegan.


"Harusnya kau mendapatkan pria kaya raya jika papa mama tak menjodohkan kita." bisik Elang ke telinga istrinya. Mitha mendengus tak suka dan serta merta menghentikan langkahnya. Menatap Elang kesal.


"Tuh kan mulai lagi. Kalau mas Elang tetap begitu mendingan kita pulang saja." ketus Mitha dengan wajah juteknya. Elang tersenyum kikuk. Mitha kalau sudah marah benar-benar membuatnya gemas. Andaikan mereka ada di rumah, Elang tentu sudah menerkamnya sekarang.


"Aku hanya becanda. Lagian aku juga tak kalah kaya darinya. Bahkan lebih tampan aku dari pada dia." kali ini Elang sudah mulai menyombongkan dirinya. Yang dikatakannya benar. Permana grup dan Abimana sama-sama perusahaan besar walau beda bidang usaha. Kekayaan merekapun hampir setara jika tak ada sokongan dana dari orang tua Maria di Eropa sana. Jadi bisa dibilang secara finansial Abimana grup sedikit lebih unggul dari mereka.


"Tadi kumat cemburunya, sekarang jadi kumat sombongnya. Segini amat dapat suami." Mitha yang masih kesal terus mengomel walau cuma dalam volume kecil. Tentu saja Elang hanya senyum-senyum saat mendengarnya. Baginya ocehan Mitha bak suara penyanyi favoritnya dalam sebuah lagi. Jarang sekali istrinya itu terlihat kesal begitu. Sekali kesal, pasti ada kaitannya dengan seorang Andra Reynaldi. Jebakan hebat yang dibuat Elang untuknya.


"Trus maunya kamu apa sayang? aku harus kumat yang bagaimana hemm?? kumat posesif saat mencintaimu?" Mitha langsung diam saat suaminya sudah berkata dengan suara beratnya. Pasti pria ini kumat dengan hasratnya. Apalagi sejak tadi mata sehitam jelaga itu terus memindai seluruh tubuhnya dengan kilatan mesum khas lelaki kelaparan.


"Lang." panggil seseorang diseberang sana. Elang menoleh, mendapati Leo mendatanginya bersama seseorang yang tidak dia kenal. Mereka saling mendekat dan bersalaman. Ternyata dia wanita muda sedikit dibawah Elang. Telihat ramah dan terpelajar.


"Kau sudah lama datang?" Tanya Elang berbasa-basi. Siapapun tau jika Leo adalah orang pertama yang mensupport pernikahan adiknya dengan Andra. Pantaslah jika dia hadir duluan dan memastikan acara itu berjalan lancar.

__ADS_1


"Lumayan. Beberapa menit setelah makan pagi. Ohh iya...perkenalkan, dia Lusia." Elang menatap sekilas wanita disamping Leo sambil mengingat sesuatu.


"Dia..."


"Saya sepupu Andra tuan." potong Lusia cepat sambil mengulurkan tangannnya sopan. Elang menyambutnya demikian pula Mitha yang langsung memeluknya seolah mereka sudah sangat kenal lama. Untuk urusan persahabatan dan ramah tamah, istrinya itu memang tak ada duanya.


"Dia datang atas panggilan polisi." Sekarang Elang baru ingat jika Lusia adalah salah satu korban pelecehan Permana seperti yang dituturkan Andra beberapa hari lalu.


"Hmmm baiklah. Apa anda juga tinggal di rumah ini nona Lusia?" tanya Elang untuk mencairkan suasana. Lusia mengangguk.


"Lalu dimana nyonya Permana?" Bukannya ibunda Andra menyambut para tamunya hari ini? tapi perempuan itu seperti tak terlihat sejak tadi.


"Dia dikamar, Zahra baru saja memberikan obat bagi bibi."


"Apa mereka sedekat itu?" timbrung Bian yang barusan datang diikuti Gea yang tak lepas dari gandengannya walau sempat kesulitan berjalan karena tak biasa dengan sandalnya. Ingin rasanya Gea melepas dan melemparkan sandal itu jauh-jauh. Rasanya pakai sneaker atau sandal jepit jauh lebih nyaman di kakinya.

__ADS_1


"Perkenalkan, dia Bian. Adik keduaku, dan ini Gea. Dia....."


"Hanya karyawan tuan Elang yang kebetulan kubawa tadi." potong Bian santai. Sama seperti tadi, mereka saling beramah tamah seolah teman lama.


"Ehmmm nona Lusia, aku mengulang pertanyaanku yang tadi. Apa adikku dan nyonya Permana sedekat itu?" Kali ini Bian bertanya dengan nada seriusnya. Lusia tak menjawab. Dia malah menarik tangan Bian yang tetap tak mau melepaskan tautan tangannya dari Gea hingga dipintu sebuah kamar besar. Dia menyuruh Bian mengintip ke dalam sana. Entah apa yang dirasakan Bian saat melihat adiknya yang baru saja dirias oleh seorang MUA tengah berbincang sambil menyisir rambut mertuanya, yang sesekali ikut menimpali perkataan Zahra yang bahu membahu dengan calon suaminya yang mengolesi tubun lemah itu dengan minyak khusus. Pengalaman bekerja sebagai seorang perawat di rumah sakit besar sudah membuat adik bungsunya itu amat terampil dan penuh kasih. Sekarang Bian baru mengerti jika nyonya Permana terkena stroke ringan hingga tak bisa menyambut tamunya.


"Apa sekarang kau percaya jika adikmu akan baik-baik saja di rumah ini? bukan hanya Andra dan bibi, akupun akan menjaganya." ungkap Lusia dengan segenap kesungguhan.


Bian tak menjawab. Dia kembali menggandeng Gea yang sudah memasang wajah kecutnya kembali pada Elang dan Leo yang masih asyik berbincang.


"Lalu bagaimana dengan...istrimu?" tentu Elang tak ingin menyebut nama Sindy saat Mitha ada disisinya. Meski wanitanya tak seposesif dirinya, Elang tau bagaimana menjaga perasaannya. Leo menerawang. Andai dia mengikuti kata-kata Elang bertahun lalu, tentu rumah tangganya tak secarut marut sekarang.


"Dia sudah dijadikan tersangka." sambung Leo kemudian. Elang hanya mengangguk paham.


"Lalu pernikahan kalian?" tanyanya hati-hati.

__ADS_1


"Apa yang bisa kuharapkan dari pernikahan ini Lang? dia sudah banyak melakukan kejahatan dan manipulasi di belakangku. Anak itu...kau tau dia juga bukan darah dagingku. Selamanya dia tak akan bisa menerimaku yang hanya pegawai pemerintah saja. Dia ingim CEo besar sepertimu. Dan kurasa aku tidak mampu." Elang menepuk bahu sahabatnya. Dia cukup tau bagaiman kehidupan pasangan itu. Mungkin hanya Leolah yang selama ini sibuk berusaha mempertahankan rumah tangga mereka. Sedang Sindy? Wanita itu sibuk dengan obsesinya.


__ADS_2