Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Nyatanya


__ADS_3

"Mas, kenapa pulangnya malam sekali sih? nggak biasanya mas pulang sampai jam segini." Omel Mitha saat Elang baru saja melewati pintu utama. Pria tampan itu menarik nafasnya panjang. Jika Mitha bilang dirinya tak biasa melakukan itu, lalu apa yang dilakukan istrinya itu? tak biasanya juga dia mengomel saat dirinya pulang bekerja. Sepertinya Mitha terlihat bersungut kesal entah karena apa.


"Suami datang bukannya salim diberi senyuman malah diomelin. Kira-kira bagaimana pendapat mama di surga kalau tau anak gadis kesayangannya malah bersikap begitu pada putra semata wayangnya ya?" Elang memilih berkata seolah pada dirinya sendiri dari pada meladeni perkataan istrinya. Pria tampan itu duduk di sofa, melepas dasi dan jasnya. Ada senyum kecil saat melihat istrinya masih membatu di tempatnya. Dia tau Mitha akan sangat sedih jika ada yang menyingung soal mama mereka. Dia masih belum bisa menerima kepergian Maria sepenuhnya.


"Sini!" Elang melambaikan tangannya pada sang istri, menepuk sofa kosong disampingnya lembut. Tak menunggu dua kali, Mitha sudah bergerak mendekat dan duduk kaku di dekatnya dengan wajah cemberutnya.


"Kenapa marah? bukannya aku sudah pamit tadi hemm? Lagian aku berangkat dari rumah juga selepas makan siangkan? Jadi apa aku pulang terlalu malam? Ini masih baru masuk isya lho sayang." Mitha menundukkan wajahnya. Tak ada yang salah dari suaminya memang. Pria itu selalu mengabarinya kemanapun dia pergi. Memfoto aktifitasnya bersama Bian seharian tadi. Tapi entah mengapa dia menjadi sedikit sensi saat melihat story whatsap Bian yang memotret suaminya tengah bicara saling berhadapan dengan relasi cantiknya hari ini. Wanita itu terlihat menatap suaminya penuh damba.


"Mitha..." Panggil Elang saat istrinya cuma diam saja. Pria itu beringsut mendekat, memangkas jarak diantara mereka.


"Apa yang membuatmu marah dan tak nyaman? bicaralah, aku akan menjelaskan sebisaku. Jangan terbiasa memendam masalah lalu marah-marah." Mitha tak berani menatap iris sehitam jelaga suaminya saat pria itu meraih dagunya dan memaksanya menengadah untuk menatap dirinya.


"Sayang..bagaimana masalah ini akan selesai jika kau hanya diam hemmm?" Apa ini keuntungan menikah dengan pria yang bertahun lebih tua darinya? Suaminya itu terlihat sangat sabar dan tak meladeni mood buruknya. Mungkin benar jika pernikahan adalah sekolah paling lama dalam kehidupan. Dia akan belajar lebih banyak hal dari sebuah pernikahan.


"Kenapa mas Elang terlihat amat mesra dengan wanita itu? Pasti nggak langsung pulangnya karena keasyikan ngobrolkan?" Ucap Mitha berapi. Elang terkekeh.


"Wanita mana sih? Catherine maksudmu? Jadi ceritanya istriku cemburu nih?" godanya membuat Mitha makin cemberut. Tapi lelakinya itu segera memeluknya dan membawanya bersandar di dada bidangnya hingga Mitha tak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


"Wanita itu memang begitu. Bian bilang dia selalu memanfaatkan kerja sama sebagai jembatan perselingkuhan. Maka itu proyek kita akan ditangani oleh Gea saja. Awalnya dia tidak mau dan kerja sama ini nyaris buyar. Aku sih tak keberatan, toh kita juga tak rugi-rugi amat jika tak bekerja sama dengan mereka. Tapi akhirnya Cath bersikeras deal dan menangani proyek ini. Jadi salahku dimana sayang?" Mitha hanya diam mendengar penjelasan suaminya.


"Dan soal ngobrol, aku juga tak sedekat itu. Bian mengambil angle yang tepat saat memotret kami. Rasanya aku harus memotong gaji dan tunjangannya bulan ini."


"Jangan mas!"


"Kenapa? dia membuatku diintimidasi oleh istriku. Juga....membuatnya cemburu."


"Pokonya jangan mas. Aku saja yang salah paham. Jangan libatkan kak Bian dalam masalah kita."


"Kenapa sih mas Elang selalu memanfaatkan keadaan?" protes Mitha sengit.


"Ya karena kau langsung menuduh. Lain kali tanya baik-baik kalau ada masalah. Jika suamimu ini terbukti salah, ya kamu berhak marah. Jangan asal sewot begitu. Suami pulang capek-capek malah diomelin."


"Maafkan aku mas." Ucap Mitha lirih. Elang mengecup pucuk kepalanya lembut. Amat salah jika dulu dia menganggap pernikahan adalah beban. Nyatanya dia amat menikmati tiap moment bersama istri tercinta. Entah itu manjanya, marahnya atau amukannya. Kenapa semuanya membeei hidupnya banyak warna?


"Hmmm...lain kali jangan begitu ya. Pasangan itu harus saling percaya. Lagian Cath tak semanis dirimu. Kau harus percaya tak ada seorang wanitapun yang bisa membuatku tertarik selain dirimu honey." Mitha mengeratkan pelukannya ke tubuh sang suami. Tak dia hiraukan aroma keringat si tampan yang belum mandi. Baginya wangi itu amat maskulin dan menenangkan.

__ADS_1


"Aku tau.."


"Tau apa?"


"Kalau mas Elang mencintaiku."


"Apa aku pernah berkata begitu?" Mitha kembali dibuat diam oleh pertanyaan Elang. Memang suaminya itu tidak pernah menyatakan perasaannya padanya, apalagi kata cinta. Sama sekali tidak. Apa itu artinya selama ini dia yang terlalu gede rasa dengan mengklaim jika Elang juga mencintainya? Ahh...Mitha jadi ingat jika mereka adalah produk perjodohan.


"Maafkan aku." kali ini air matanya menggenang dan hampir terjatuh. Susah payah dia menahannya agar tak membasahi kemeja sang suami.


"Kenapa minta maaf lagi?"


"Tak apa." Elang sudah lebih dulu mengeratkan pelukannya saat sang wanita hendak bangkit. Lagi dan lagi Mitha dibuat membeku tak bisa apa-apa. Tangis itu pecah sudah.


"Maaf karena aku menganggap mas mencintaiku. Aku hanya...ahh...sudahlah!!" Elang menatap wajah sendu istrinya, bergerak mengecup kedua matanya yang berkaca. Hatinya trenyuh.


"Nyatanya aku memang mencintaimu Paramitha putri pratama abimana, sangat mencintaimu hingga aku sama sekali tak bisa berpaling darimu." dan sebuah ciuman berlabuh di bibir si wanita yang masih terisak.

__ADS_1


__ADS_2