
"Yang dicintai mas Elang dari dulu? siapa?" pertanyaan Mitha bahkan membuat semua orang terkejut. Elang yang terlihat canggung segera berdehem untuk menghilangkan kegugupannya. Leo dan Bian langsung memasang ekspresi tak tau apa-apa dan seolah tak terjadi apa-apa. Jika si pria saja bersikap tak ingin membahasnya, mana mungkin mereka bisa dengan lancang mengatakann hal yang bukan ranahnya untuk bicara? Lancang!
"Kak?" buru Mitha pada semua orang dengan rasa ingin tau yang membuncah.
"Ehmmm...sebaiknya aku kedalam, sepertinya Sarah sudah bangun." Leo yang kebetulan melirik pintu kaca seperti memperoleh angin segar karena melihat Gea menghampiri Zahra yang terlihat bergerak. Sontak pandangan semua orang beralih padanya lalu bergerak mengikuti langkah Leo masuk ke kamar perawatannya.
"Mitha....." suara lemah Zahra membuat Mitha mendekat dan memegang tangan sahabatnya. Air matanya menggenang. Sungguh, melihat Zahra seperti sekarang pasti membuat dirinya juga Gea ikut merasakan sakitnya. Sementara itu, Bian menahan tubuh Leo yang akan mendekat. Terlalu cepat bila mereka mengatakan yang sebenarnya saat Zahra baru saja bangun dari pengaruh obat. Biarkan adik bungsu mereka itu rileks sejenak.
"Apa yang kau rasakan sekarang Za?" tanya Mitha hati-hati. Bibir pucat Zahra tersenyum.
"Aku baik Mith, terimakasih sudah ada untukku." Serempak Gea dan Mitha memeluk erat tubuh lemah Zahra. Anehnya mereka tertawa bersama, seperti anak kecil yang baru memenangkan permainan beregu saja.
"Kalau bagitu cepatlah sembuh. Kita janji kok bakalan sering main ke tempat kamu Za." Gea yang periang malah sudah bersemangat menghibur sang sahabat. Lama mereka saling bicara hingga Bian mendekat.
"Sarah amelia aszahra." panggil Bian hingga Zahra menoleh. Tak banyak yang tau nama lengkapnya, yang membuatnya heran adalah Bian yang note bane tak terlalu dekat dengannya malah menyebut namanya dengan benar.
__ADS_1
"I...iya pak." Sontak Mitha berpindah tempat, memberi ruang pada Bian dan Leo untuk mendekat.
"Apa kau mengenalnya?" Leo mengeluarkan selembar foto wanita muda yang jika dilihat sekilas amat mirip dirinya dari dalam tasnya. Mata Zahra membola.
"Ibu...." desisnya lirih. Leo dan Bian mengangguk bersamaan dengan mata berkaca. Dugaan mereka benar, Zahra adalah sang adik yang hilang.
"Pak Leo...dari mana pak Leo punya foto ibu saya?" Gea segera membantu Zahra yang terlihat ingin duduk dengan menaikkan sandaran tempat tidurnya hingga sang sahabatnya itu lumayan nyaman. Tangan ringkihnya bergetar mengambil foto itu dari tangan Leo dan menciuminya, mendekapnya di dada. Air matanya jatuh.
"Ibu...." panggilnya lirih diantara isakan tertahan. Hatinya pilu.
"Apa kau masih tak mengenalku?" kali ini mata sembab Zahra menengadah, mencoba mengingat siapa pria yang tadi membawa ibunya. Tapi hasilnya tetap sama. Dia tetap Leo yang dia kenal sering mengunjungi kediaman Abimana karena merupakan anak angkatnya. Selain itu dia tak ingat apa-apa. Zahra menggeleng dengan pandangan bingung. Leo menarik nafasnya dalam. Lagi dan lagi dia menarik dua lembar foto dari dalam tasnya lalu menyerahkannya pada Zahra.
"Kak Ahmad...." nafas lega serentak berhembus dari rongga dada semua orang yang ada disana.
"Itu aku...." Ucap Bian lembut. Digenggamnya jemari Zahra yang masih melongo bingung.
__ADS_1
"Aku Ahmad Nabihan kakakmu Za."
"Kakak??" ulang Zahra tak percaya. Bian mengangguk.
"Kau adik kami. Ini kak Lukman, ibu kita...Fatimah, sudah meninggal saat tsunami itu melanda Za. Kau tau, bertahun-tahun tuan Abi mencarimu hingga kami dewasa. Kemana saja kau Za?" Zahra tetap terisak, namun ingatannya sudah terlempar pada masa kecil yang menyeretnya memasuki panti asuhan di Banda Aceh. Salah satu relawan yang akan pulang ke Jakarta lalu mengadopsinya setelah tau semua keluarganya meninggal sesuai laporan. Keluarga relawan itu membesarkannya penuh kasih sayang karena istrinya memang di vonis tak bisa punya anak. Hingga Zahra bersekolah dibangku SMA. Malang tak dapat ditolak untung tak bisa diraih, mereka tewa dalam kecelakaan beruntun saat Zahra masuk semester pertama akademi perawat. Dari tabungan orang tua angkatnya itulah dia bisa meneruskan sekolah meski sudah di usir dari rumah oleh keluarganya. Untunglah ibu angkatnya yang seperti punya firasat sudah menyerahkan emas dan tabungannya untuk Zahra jaga saat dia dan suaminya akan bepergian di hari naas yang merenggut nyawa mereka.
"Mereka yang menolongku sudah tiada...aku sendirian." Bian yang tau adiknya kembali bersedih mengingat kedua orang tua angkatnya segera memeluknya.
"Sudahlah Za, doakan saja mereka agar memperoleh tempat terbaik di sisi Nya. Mulai sekarang kau tidak sendiri. Ada aku dan kak Lukman yang akan menjagamu." Bian mengelus pundak adiknya penuh kasih. Lukman hanya menepuk bahunya pelan, ikut bahagia.
"Hanya aku yang tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini." ucap Mitha lirih seperti sebuah keluhan. Elang yang berdiri di dekatnya tentu saja mendengar perkataan istrinya itu walau lirih. Tak ingin menganggu moment kebahagiaan Zahra, dia menarik pelan tangab istrinya keluar kamar lalu memepetnya ke dinding lorong rumah sakit yang sepi.
"Mas...kenapa?" Mitha tentu terkejut karena kelakuan suaminya yang secara tiba-tiba membawanya keluar.
"Kau bilang apa tadi? kau bilang tak punya siapa-siapa?" tanya Elang penuh intimidasi. Mitha menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
__ADS_1
"Maksudku...mereka semua punya orang tua atau kakak, adik atau saudara, sedangkan aku hanya sendirian." Ungkap Mitha mengingat dirinya adalah anak tunggal saat orang tuanya meninggal. Wajah ayunya berubah sendu. Elang meraih dagunya, sedikit memaksanya melihat padanya.
"Apa kau lupa jika papa dan mama bukan hanya mertuamu tapi juga ayah ibumu? aku juga suami sekaligus kakakmu sayang. Kau tak pernah sendiri dan tak akan kubiarkan seorang diri. Aku akan selalu menemanimu hingga maut memisahkan kita Paramitha putri pratama Abimana." desis Elang sebelum mengecup bibir manis istrinya.