Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Alasan


__ADS_3

Elang tersenyum lebar saat Mitha datang dengan satu gelas coklat hangat beserta pastel mini buatannya. Elang yang minta dibuatkan di gelas besar saja agar bisa minum berdua. Hujan rintik-rintik masih membasahi bumi, hawa dingin juga masih menusuk tulang. Tapi sup daging buatan bik Sri sudah membuat mereka lebih hangat malam itu.


Akhirnya, disinilah pasangan muda itu berada. Minum cokat hangat berdua di tepi jendela kamar ruang keluarga mereka di lantai dua. Menikmati setiap tetes air yang jatuh diantara dedaunan yang terpantul oleh lampu taman dalam keremangan cahaya kamar yang lebih suram dari lampu-lampu di luar sana. Ahh..andai ini siang hari, pasti akan indah. Tapi malampun tak mengapa, toh suasana romantis yang mereka bangun tak akan berubah karena kegelapan malam.


"Sini." Mitha mendekat dan duduk merapat disamping Elang. Tangannya melungkar manis di perut lelakinya tanpa disuruh.


"Capek?" Mitha menggeleng. Kerja di kantor suaminya sendiri apa yang bikin capek? Bahkan semua staf dan kepala divisi sudah menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Bisa dikatakan dia hanya datang untuk melayani suaminya saja seolah dirinya ini makhluk manis yang bisa menyemangati lelahnya seorang Elang Narindra abimana.


"Mas Elang yang capek. Mau kupijit?" tawar Mitha. Dia tau meninjau proyek pasti membuat Elang lelah seharian ini. Untuk CEO perusahaan besar sekelas Abimana, Elang termasuk sangat rajin dan disiplin. Lelakinya itu bahkan jarang bicara jika di kantor. Aura tegas dan leadership begitu mendominasi wajah tampan itu. Kagum? tentu Mitha amat kagum padanya.


"Tidak. Aku hanya butuh pelukanmu saja. Kita bisa pijat berdua besok." Mitha langsung cemberut dalam diam. Elang tentu saja menyadari perubahan ekspresi istrinya meski dalam cahaya remang.


"Mas Elang pengen dipijat yang cantik-cantik ya di spa?" tanyanya lirih, namun membuat pria tampan rupawan itu terkekeh geli. Mitha jadi lucu saat merajuk. Ingatannya kembali berputar saat wanitanya masih jadi siswa SD kala itu. Mithalah gadis kecil paling cantik diantara teman-temannya yang lain. Kulit putih, mata bulat, pipi mulus dan tembem, rambut bergelombang yang selalu diikat bagai tokoh utama film action Cina jaman kerajaan. Ahh...Mitha memang paket kecantikan lengkap.


"Sayang...kan kita perginya berdua? satu ruangan pula. Apa yang kau takutkan? atau jangan-jangan kau cemburu hemm??" godanya lagi. Elang sangat suka melihatnya cemberut begitu. Andai dia tak menurutkan kata hati dan pergi ke opa Hans, mungkin dia akan lebih dekat dan mengawasi tumbuh kembang wanitanya itu.

__ADS_1


"Ya." sungut Mitha kesal.


"Ya apa?" buru Elang setelah mendengar jawaban pendek istrinya yang terkesan malas menjawab.


"Ya aku cemburu mas. Aku istrimu tapi tak pernah menyentuh tubuhmu. Lah mereka? tukang pijat biasa malah bisa mijitin kamu, tanpa pakaian pula." dengus Mitha amat kesal sambil menjauh dari tubuh Elang yang sudah terpingkal karena jawabannya. Mitha yang kesal jadi tambah kesal karena sikap Elang yang sengaja membuatnya begitu.


"Cemburuan banget sih?" Mitha masih melengos kesal saat Elang kembali menarik tubuh langsingnya ke dalam pelukannya. Satu tangannya meraih gelas dan menyuruh Mitha meminumnya lebih dulu sebelum dia ikut menikmati coklat itu. Minum berdua memang makin mencetak kesan romantis bagi mereka.


" Kalau kamu tidak suka aku pijat diluar ya udah, besok biar Udin saja yang pijat di rumah. Dia juga tukang pijat sebelum kerja sama kita dulu. Aku nggak akan melakukan apa yang kamu tidak suka." Apa Mitha boleh merasa amat bahagia mendengar penuturan suaminya sekarang? Pria ini jadi amat perhatian dan menjaga perasaannya.


"Tidak lagi."


"Hmmm baguslah."


"Mas...."

__ADS_1


"Ehmmm....apa apa?" Elang mengelus wajah istrinya yang terlihat ragu.


"Apa mas Elang sangat kecewa padaku karena...malam pertama kita yang....."


"Sssstt...jangan dibahas lagi." potong Elang. Susah payah membangun suasana romantis begini, dia tak ingin semuanya rusak begitu saja.


"Aku bisa jelaskan semuanya mas." lirih Mitha canggung. Entah kenapa dia jadi amat ingin menjelaskan semuanya agar mereka bisa hidup layaknya pasangan tanpa kesalah pahaman berkepanjangan.


"Itu tidak perlu Mith."


"Lalu sampai kapan kita akan terus begini mas? kamu pria normal yang juga punya hasrat. Apa aku salah jika aku takut mas Elang mencari wanita lain diluar sana?" Elang menatap istrinya dalam. Mitha terus menundukkan kepalanya hingga dia tau wanitanya sedang bersedih hati.


"Bagaimana aku mencari wanita lain jika kau terus ada dismpingku setiap waktu Mith? apa kau tak sadar, itulah alasanku menyuruhmu ikut bekerja? aku tak ingin ada kesalah pahaman dan fitnah diantara kita."


"Tetap saja aku seorang istri yang butuh nafkah batin mas."

__ADS_1


__ADS_2