Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Lulus


__ADS_3

Mitha berpelukan dengan sahabatnya setelah dinyatakan lulus sidang skripsi. Tawa bahagia dan ucapan syukur meluncur tak ada hentinya dari mereka yang sudah lulus sepertinya. Mitha yang amat bahagia berswafoto bersama dan mangungahnya distatus whatsaap ataupun akun instagramnya.


"Abis ini tinggal wisuda kita." teriak beberapa rekan cewek yang langsung heboh seputar acara sakral itu. Ponsel pintar Mitha berdering, ada nama Elang disana. Dia berjalan sedikit menjauh dari keramaian dan mengangkat panggilan itu.


"Hallo kak.."


"Kamu dimana, kutunggu digerbang kampus." masih dalam mode hemat bicara. Mitha menarik nafas dan berkata jika sebentar lagi dia kesana. Langkahnya sedikit teegesa menuju gerbang.


Benar saja, saat sampai disana dia melihat Elang yang berdiri disamping mobilnya, menunggunya. Hatinya berbunga. Berlari kecil dia menghampiri Elang dan memeluk tubuh gagah itu dengan tawa bahagia.


"Kakak...aku lulus." teriaknya lantang. Sungguh dia ingin berbagi dengan orang-orang tercintanya.


"Selamat ya Mith....."


.....deg.....deg....


Suara itu?


Mitha melepaskan pelukan sepihaknya karena Elang yang sama sekali tak membalas pelukan erat itu. Pria itu bahkan berdiri tanpa ekspresi menatapnya.


"Kak Sindy....." gumam Mitha yang mau tak mau menerima uluran tangan wanita cantik itu. Dia menarik bibirnya, terpaksa.

__ADS_1


"Terimakasih kak..." sahutnya lalu menundukkan wajahnya. Dalam hati dia meruntuki kebodohannya. Dia terlalu bahagia hingga tak melihat sekitarnya. Pantas saja Elang bersikap demikian. Sekarang dia tau dimana posisinya.


"Lang...jadi ke kafe nggak?" tanya Sindi manja pada suaminya. Wajah datar itu langsung sumringah.


"Jadi dong...yuk!" ajaknya lalu memutari mobil mewahnya menuju kursi kemudi. Sindi juga sudah membuka pintu depan, tempat awal dia duduk. Tempat yang seharusnya milik Mitha. Wajah Mitha keruh. Dadanya serasa dihimpit beban berat kala membuka pintu belakang dan masuk ke dalamnya.


"Mith...Mithaaaa....!!!" teriak suara cempreng dikejauhan. Gadis itu urung masuk kemobil dan menatap seseorang yang menempatkan motornya asal lalu berlari ke arahnya.


"Gea." bisik Mitha dengan senyum terkembang. Gea mengatur nafasnya saat sudah sampai didekatnya.


"Lupa ya kita ada acara?"


"Acara?" beo Mitha bingung. Seingatnya dia tidak ada janji dengan Gea. Tadi ketemu di koridor kampus juga nggak bicara apa-apa. Tapi injakan keras disepatunya membuatnya sadar.


"Iya dong. Tuh udah ditungguin teman-teman." Tanpa banyak bicara Gea mengetuk kaca mobil yang langsung dibuka oleh Sindy yang tersenyum ramah padanya.


"Kak, maaf..saya pinjam Mitha dulu ya. Soalnya abis ini mau ada acara kampus." pamitnya. Elang mendengus kesal.


"Tadi Mitha tak bilang apa-apa." ketus Elang.


"Lupa kali Mithanya kak. Dia fokus sidang sih." elak Gea cepat. Kalau soal akting, sahabatnya ini memang jagonya. Wajahnya bisa beralih-alih ekspresi dengan cepat dan kemampuannya meyakinkan orang pantas diacungi jempol.

__ADS_1


"Mitha...pulang!!" sarkas Elang dingin.


"Maaf kak...aku sudah bikin janji dengan mereka. Bukannya janji adalah hutang? aku takut ditagih diakhirat. Kakak jalan aja sama kak Sindy. Have nice day. Bye kakak..." dan kali ini Mithalah yang gantian menarik lengan Gea hingga gadis manis itu hampir terjungkal karena kaget. Mereka serempak berlari ke arah motor matic Gea dan menjauh dari mobil itu, meninggalkan Elang yang sudah mengepalkan tangannya kuat.


"Jalan yuk!" ajak Sindy lembut. Elang menghidupkan mesin dan menjalankan mobilnya.


"Ge, makasih ya." ujar Mitha. Mereka keluar dari gerbang lain dan keluar dari area kampus.


"Apa sih yang nggak buat kamu bestiii.." tawa mereka pecah. Gea membawa Mitha jalan-jalan walau udara terik. Kebiasaan lama mereka berempat saat gabut. Bedanya hanya tak ada Zahra dan Andra diantara mereka.


Lelah berjalan, Gea berbelok menuju kafe dipinggir kota. Tempat yang nyaman dan tentu saja dengan harga bersahabat. Orang yang tak tau siapa Mitha pasti mengira dia anak dari keluarga biasa saja karena sama sekali tak pernah berprilaku seperti anak keluarga kaya. Sahabat Gea itu amat sederhana.


"Nangis aja kalau mau nangis Mith." dan tanpa menunggu lama tangis Mitha pecah. Gea dengan suka rela meminjamkan pundaknya untuk Mitha yang terlihat tenggelam dalam sakit hati.


"kenapa rasanya sakit banget ya Ge?" ujarnya diantara isakan. Pelayan yang membawakan pesanan mereka tersenyum ramah lalu berlalu pergi.


"Sabar Mith. Berdoa saja agar semuanya cepat berlalu. Jodoh kita tidak tau Mith. Wanita yang baik akan mendapatkan pria yang baik pula. Anggap saja ini cobaan untuk bertemu dengannya."


"Dia siapa?"


"Ya jodohmu."

__ADS_1


"Kak Elang suamiku Ge."


"Suamimu juga belum tentu jodohmu. Banyak orang bercerai karena tak berjodoh bukan? bisa jadi kak Elang jodohmu...bisa juga tidak. Tetaplah berbua baik dan sabar, selalu berprasangka baik pada Allah. Ntar juga nemu jalannya." nasehat Gea bijak.


__ADS_2