
"Mas...bangun." bisik Mitha pada Elang sambil menepuk Pundaknya pelan. Matahari sudah muncul walau embun masih bermahkotakan kabut. Seandainya Elang tidak memeluknya posesif dan membuatnya tak bisa bergerak seperti sekarang, mungkin dia tidak akan membangunkan suaminya itu. Wajah lelah elang juga membuatnya tak tega.
"Hooaamm...sudah pagi rupanya." ujar Elang sambil meregangkan tubuhnya. Mitha yang tanggap segera melapaskan dirinya dari pelukan tubuh Elang yang sejujurnya sudah membuatnya tertidur amat nyenyak dan nyaman semalaman.
"Aku ke kamar dulu ya." pamit Mitha seraya berdiri dari duduknya, ingin membuka pintu tenda, tapi sebuah tangan kekar sudah menarik tubuhnya lagi agar terduduk dipangkuannya.
"Masih terlalu pagi. Tetaplah disini." bisik Elang lirih ditelinga kanannya. Mau tak mau bulu kuduk Mitha meremang karenya. Apalagi saat Elang sudah mengecupi leher belakangnya mesra. Dalam hati Mitha meruntuki dirinya sendiri yang sudah menggulung rambutnya ke atas sepagi ini. Pasti Elang mengira dia menggodanya.
"Mas..aku...belum mandi." bisik Mitha, mencoba menahan ******* yang bisa saja lolos dari bibirnya. Apalagi satu tangan Elang sudah masuk ke dalam jaketnya dan meremas pelan salah satu bukit kembarnya amat sensual. Nafas suaminya itu juga terdengar berat dan tak beraturan menahan gelombang nafsu yang menderanya.
"Aku menginginkannya Paramitha." desisnya amat jelas sambil membalik tubuh semampai Mitha dan mengungkungnya dalam dekapan kuat. Mata keduanya terpaut. Berlahan bibir padat Elang mendekat, mencercap bibir sensual wanitanya yang langsung memejamkan matanya rapat karena tak kuat bersitatap dengan bola mata Elang yang sudah tersulut gairah. Entah apa yang merasuki hati pria tampan itu hingga tak bisa menahan diri seperti biasanya. Yang dia tau Mitha mencintainya, itu saja sudah cukup baginya untuk bertindak lebih jauh pada wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
"Le..lepaskan mas." ujar Mitha tersengal mengatur nafasnya. Elang sama sekali tak memberinya kesempatan menghirup udara hingga dia seperti kehabisan nafas.
"kenapa?" bisik Elang dengan suara seraknya. Pria dewasa itu sudah benar-benar dilingkupi kabut gairah.
__ADS_1
"Ini sudah pagi. Takut dilihat orang." Elang menarik nafasnya, frustasi. Mitha benar. Bisa saja pak Man tukang kebun mereka yang juga suami bik Sri datang untuk bersih-bersih. Bik Sri sendiri atau mungkin satpam yang memeriksa keamanan sebelum pergantian shift. Mereka tak bisa gegabah.
"Kita ke kamar?"
"Mas, sudah waktunya kamu ngantor kan? jangan aneh-aneh."
"Aneh bagaimana? aku menginginkan istriku, apa itu aneh?" sergah Elang kesal. Mitha mengelus pipinya lembut.
"Tidak. Tapi kau harus bekerja. Aku juga. Sudah lama tidak ke resto. Aku kangen kembali kesana." Seketika Elang melembut.
Mitha dan Elang masuk ke dalam rumah beriringan. Bik Sri tersenyum senang melihat kedua majikannya tampak mesra setelah kemah aneh sang istri. Melihat mereka begitu membuat hatinya tenang. Tadinya wanita paruh baya itu takut jika keduanya terus berantem.
"Sudah kusiapkan air hangatnya mas. Tinggal mandi saja." kata Mitha usai keluar dari kamar mandi pada Elang yang masih asyik melihat berita pagi ditelevisi kamar mereka. Elang segera berdiri dan mandi kilat, seperti ada sesuatu yang harus dikejarnya.
"Ehmm mas...." desah Mitha saat lagi-lagi lengan kekar itu melingkar dipinggangnya yang masih berbalut bathrope. Tak hanya itu, Elang juga kembali mencumbui leher dan telinganya. Hampir saja Mitha memekik kaget kala sebuah benda keras sudah menempel di belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang aku menginginkannya sekarang...aku ..aku sudah tidak bisa menahannya lagi." bisik Elang dengan tatapan nanar yang memantul di cemin besar meja rias. Mitha hanya bisa pasrah saat suaminya sudah menggendong tubuhnya ke ranjang, meletakkannya pelan lalu mulai mencumbu panas tubuhnya.
......drrtttt...drrrttt.....
Ponsel diatas nakas terus berdering, menganggu aktivitas panas pasangan pengantin baru itu. Elang yang awalnya bersikap tak mau tau akhirnya menyerah juga saat Mitha memaksanya mengangkat telepon. Elang mengeram kesal. Nafsu sudah diubun-ubun, targetnya juga sudah pasrah, malah diganggu telepon tak tau sopan.
"Hallo Bi." sapanya. Hampir saja dia berteriak kesal karena Bian mengabarkan meeting dimajukan pagi hari, satu jam lagi. Padahal rencananya akan dilakukan makan siang nanti. Klien mereka akan kembali kenegaranya pagi ini karena ada urusan mendadak. Sangat menyebalkan.
"Baik, aku turun setengah jam lagi Bi." putusnya kemudian. Tak ada pilihan. Dia tak ingin terlihat buruk dihadapan klien penting mereka. Dan lagi...ini adalah pertama kalinya mereka akan melakukan kewajiban sebagai suami istri. Dia tak ingin terburu-buru dan malah menyakiti Mitha dengan nafsu sepihaknya.
"Berangkatlah mas, masih ada banyak waktu untuk kita kok." kata Mitha sambil membenahi bathropenya sebelum turun dari ranjang. Dia mengambilkan pakaian kerja Elang dan membantu suaminya berpakaian.
"Tidak usah ke kantormu pagi ini Mith." perintahnya saat Mitha memasangkan dasinya. Mitha mengrenyit heran. Tak biasanya Elang bersikap begitu. Biasanya dialah orang pertama yang menyemangatinya pergi bekerja.
"Tapi kenapa mas? aku jenuh dirumah." balas Mitha merajuk
__ADS_1
"Ssttt...persiapkan dirimu. Malam ini aku akaj benar-benar meminta hakku Paramitha. Tidak ada penolakan. Apa kau paham?" Mitha kembali terdiam dengan pipi merona. Malam pertama?? aaahhh....membayangkannya saja sudah membuat tubuhnya gemetaran tak karuan.