
"Maaf sudah membuat mas Elang kecewa." kata Mitha penuh penyesalan. Elang tersenyum kecil seraya membelai kepala istrinya.
"Itu kecelakaan Mitha, tak ada yang bisa disalahkan. Papa dan mama juga tak kan mengira kau akan mengalaminya. Bukannya kau sudah takut naik kuda dari awal, tapi tetap di paksa juga?" Ingatan Mitha melayang pada peristiwa sepuluh tahun yang lalu. Dia yang masih belia sama sekali tak tertarik untuk berkuda. Jangankan menaikinya, mendekati binatang berbulu coklat itu saja dia takut. Tapi papa mamanya yang saat itu sedang ada acara berkuda bersama rekan-rekannya terpancing komentar beberapa rekannya yang membawa anak-anaknya turut serta agar membuat Mitha berani naik kuda. Alhasil Mitha terpaksa naik walau penuh perasaan takut. Kuda yang awalnya baik-baik saja menjadi panik dan berlari tak tau arah kala Mitha yang panik berulang kali menarik tali kekangnya. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba dia terpelanting dan mengalami cidera yang cukup serius hingga dibawa ke rumah sakit. Siapa mengira selaput daranya robek saat itu juga, bersamaan dengan kulit lutut, tangan dan bagian tubuhnya yang berdarah.
"Apa papa juga sudah menceritakan hal yang lain?"
"Hal lain?" ulang Elang tak mengerti. Mitha mengangkat tubuhnya, duduk disamping suaminya. Elang yang melihatnya bergerak cepat menempatkan kepalanya dipangkuan istri cantiknya, posisi yang sangat disukainya.
"Ya, hal lain yang menjadi alasan pernikahan kita." Elang meraih jemari Mitha dan meletakkannya di atas kepalanya. Entah kenapa belaian lembut wanitanya membuatnya candu. Usapan lembutnya seolah membawa aura tenang yang amat menentramkan hatinya. Dia rindu Maria yang selalu melakukannya saat dirinya masih kanak-kanak dulu. Ahh...mengingat sang mama membuatnya nelangsa.
"Mas....."
"ehhhmmm..."
"Apa mas tak ingin tau?" Pertanyaan yang tak segarusnya karena Elang sama sekali tak minta penjelasan. Tapi jauh di dasar hatinya dia ingin segalanya terang benderang hingga tak ada beban dimasa yang akan datang.
"Katakan saja jika kau tau, tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan hal itu." ucap Elang acuh. Tak suka rasanya mengacaukan momet indah karena sebuah alasan masa lalu yang ingin diungkit Mitha. Dia sudah cukup tenang dengan kehidupannya yang sekarang.
__ADS_1
"Dokter memvonisku akan kesulitan memiliki anak karena trauma di dinding rahim. Papa dan mama amat khawatir dengan masa depanku hingga tak mau hal buruk terjadi. Maka itu mereka memaksa mas Elang menikahiku." Tak ada rasa terkejut atau reaksi berlebihan dari Elang. Pria tampan itu masih dalam posisinya seakan dia tak mendengar apa-apa.
"Mas...." panggil Mitha lagi, merasa diacuhkan sang suami.
"Hmmmm..." lagi-lagi hanya berdehem ringan seperti orang yang mengantuk hingga Mitha merasa putus asa. Semua pria memang begitu setelah mendapatkan pelepasannya, tidur.
"Apa mas tak terkejut?" rasa penasaran yang cukup sulit disembunyikan. Bagi sebagian pasangan, kehadiran anak adalah hal penting. Tapi ini...suaminya malah bersikap cuek bebek dan menganggapnya gurauan atau mungkin halusinasi.
"Sayang, sudah kubilang aku tak tertarik." balas Elang malas. Pria itu bergerak menyusul istrinya, duduk bersandar di kepala ranjang.
"Alasanku menikahimu adalah karena aku mencintaimu. Itu saja. Tak ada hal lain gadis kecil. Dan soal perkataan dokter, aku juga tak bisa seratus persen percaya. Mereka hanya memprediksi, bukan menuliskan takdir. Sulit bukan berarti tak bisa bukan? masih banyak cara untuk mendapatkan keturunan, sekarang jaman sudah modern Mith. Jangan terlalu berpikiran negatif." Mitha menatap Elang takjub. Pria itu ..kenapa dia sedewasa ini? kemana Elang yang selalu berkata kasar padanya? kepalanya kembali rebah di dada sang Elang.
"Aku tidak akan meninggalkanmu karena seorang keturunan Mitha. Aku juga tak akan poligami hanya untuk mendapatkannya. Kau tau, aku cukup lama di Eropa. Ada banyak pasangan yang bahkan tak ingin punya anak dan hidup bahagia. Nikmati saja yang diberikan Tuhan pada kita. Kita hanya perlu berdoa agar Allah mempercayakan seorang anak untuk kita. Lagian kita baru dua kali melakukannya bukan?" Tangis Mitha pecah. Refleks dia memeluk Elang dan menitikan air matanya.
"Sayang kenapa kau menangis hemm..."
"Terimakasih sudah mau menikahiku mas..." ujarnya disela isakan yang tak kunjung berhenti karena haru. Bahagia? tentu saja wanita itu amat bahagia. Elang yang sedari tadi mengelus kepalanya menariknya lebih dalam ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tanpa disuruh oleh orang tua kitapun aku akan tetap menikahimu Paramitha. Aku tak akan membiarkanmu sendirian di dunia ini." lagi dan lagi Mitha menangis haru.
"Sudah..jangan menangis seolah kau sudah kehilangan aku. Lebih baik sekarang kita mulai usahanya." Elang menowel hidung Mitha yang memerah karena menangis.
"Aku pasti akan berusaha mas." ucap Mitha diantara isakan yang mulai reda.
"Ya sudah....kita mulai sekarang."
"Se...sekarang?" tentu saja Mitha tergagap karena kaget. Barusan bercinta, tapi suaminya ini sudah minta usaha lagi.
"Mas Elang nggak capek?" bingung juga akhirnya. Bukannya menurut artikel yang dia baca para pria akan langsung tidur setelah bercinta? kenapa suaminya tidak?
"Melihatmu begini saja sudah membuatku menginginkanmu lagi." balas Elang dengan suara berat.
"Mas...mas nggak lagi minum obatkan?"
"Maksudmu obat kuat?" takut-takut Mitha mengangguk. Elang yang semula hanya menduga-duga menjadi terbahak karena wajah polos istrinya.
__ADS_1
"Paramitha sayang....tanpa obat begituanpun aku masih bisa membuatmu mendesah sepanjang malam." jawab si pria penuh rasa percaya diri.