
"Selamat datang...silahkan memesan menu sarapan anda..." Mitha menatap takjub seorang pelayan resto yang tampil cantik.dan rapi dengan kaos merah putih dan topi putih yang terkesan amat bersih dan menyala tentunya. Mereka menyambut para pengunjung dengan keramahan juga pelayanan yang cepat. Lihatlah ruangan yang ditata rapi dengan warna cerah dan hiasan berbau rumahan yang membuat pengunjungnya serasa makan di rumah sendiri. Benar-benar kreatif dan apik.
"Duduklah..kau mau sarapan apa?" Elang menarik kursi di dekat jendela untuk istrinya. Resto itu terlihat ramai meski tak seramai dan semewah S&M miliknya. Tapi setidaknya resto dengan menu sarapan pagi yang hanya buka hingga jam sepuluh siang itu lumayan menarik banyak pejalan kaki yang melintas karena baliho besar di depannya.
"Ehmm...adanya apa sih mas?" Elang menyodorkan daftar menu pada istrinya yang langsung membaca dengan seksama. Entah kenapa Mitha menjadi amat lapar saat melihat foto nasi kuning lengkap disana.
"Nasi kuning saja mas ehh tambah susu jahe ya." Elang segera memesan menu yang sama dengan istrinya, tak lupa memesan cemilan khusus yang menarik di etalase resto.
"Ini sudah lama buka nya mas?" kepala Mitha sudah celingukan kesana-kemari mencari keberadaan sang pemilik resto. Berani-beraninya dia buka resto sendiri meski dengan menu berbeda dengan S&M. Awas jika dia bertemu nanti. Namun Mitha terpaksa menyimpan kekesalannya karena pesananya sudah datang. Bumil itu segera mengambil sendok dan memakan sarapannya dengan lahap. Entah kenapa dia jadi ingin sekali makan cepat hari itu.
"Ya ampun...rasanya mirip masakan mama mas." Elang terdiam. Benar, rasanya amat mirip dengan masakan mamanya yang memang mantan chef. Maria tak hanya pintar memasak masakan barat, tapi juga lokal hingga keberadannya patut diperhitungkan. Dimana Bian belajar memasak seperti ini? setau mereka berdua Maria tak pernah memberitau siapapun soal resepnya.
"Selamat pagi bos. Akhirnya anda datang kemari." Sontak Mitha dan Elang menengadahkan kepalanya. Sebenarnya tanpa menolehpun mereka sudah tau siapa orangnya. Mitha tersenyum kecut saat sekretaris suaminya itu ikut nimbrung dengan duduk disamping mereka.
__ADS_1
"Kak Bian sekarang berani ya buka-buka usaha tanpa bilang ke aku. Ini juga menunya mirip rasanya dengan buatan mama. Itu bubur ayamnya juga pasti meniru masakan mama. Kak Bian benar-benar ya!" gerutu Mitha kesal. Elang hingga harus mengelus bahunya agar istrinya berhenti bicara dan memberi Bian kesempatan untuk balik menjawab.
"Untuk itu aku minta maaf Mith. Tapi sumpah ya..terpaksa juga melakukannya. Aku lagi butuh uang banget untuk melamar seseorang." Mitha menatap sekretaris yang sudah dianggap kakaknya sendiri itu tak percaya. Dia sangat tau siapa Bian. Dia sangat rajin dan bisa dibilang punya segalanya. Mau menikah kapanpun juga dia pasti mampu. Rumah ada, kendaraan tersedia, tabungan juga pasti cukup untuk menikah. Lalu apa lagi? dia bahkan tak perlu susah-susah kerja sampingan begini.
"Memangnya minta mahar apa sih? lagian beruntung banget sampe segitunya. Mas Elang saja tak seperti itu." Elang yang gantian tersenyum kecut. Dalam hal ini dia memang bersalah. Tapi pernikahan mereka juga digelar secara tiba-tiba hingga dia tak bisa memberikan sesuatu yang istimewa pada istrinya.
"Sayang maafkan aku. Sebagai gantinya aku akan...."
"Ganti? mas Elang mau menikah lagi?" potong Mitha cepat, tentu dengan wajah yang lagi dan lagi dipasang amat cemberut.
"Ehmm itu...soal mahar...dia minta sekolah yang layak untuk anak-anak TK dan prasekolah." Bian mencoba mencairkan suasana tegang diantara suami istri itu dengan menjawab pertayaan Mitha.
"Maksudnya sekolah milik sendiri? wah...hebaatt..." celoteh Mitha dengan wajah riang.
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan aku ikut mengajar disana kak."
"Tidak!!" Pungkas Elang cepat. Mitha menoleh pada suaminya yang menatap tak suka padanya.
"Kau hanya akan mendidik dan mengajari anak-anak kita Paramitha putri pratama abimana. Bukan anak orang lain!"
"Memangnya mau bikin berapa anak sih bos? segitu amat wajahnya." Bian tau Elang bukan orang yang ekspresif. Jika bosnya itu bisa begitu memperlihatkan wajah tak sukanya, berarti Elang serius sekarang.
"Ya berapapun yang dia mau. Mau mengajar enam, tujuh, delapan atau selusin anak sekalian tetap akan kubuatkan!" sahut Elang geram, tak melepaskan tatapannya pada sang istri yang menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal.
"Busyeett...demen banget bikin anaknya."
"Makanya...coba sana!!" teriak pasangan itu kompak sambil melotot pada Bian yang cengengesan tak jelas.
__ADS_1
"Tumben kompak." celutuknya nyengir kuda.