
"Ge, keruangan saya sekarang!!" kata Bian tegas saat melewati meja Gea yang ada di depan ruangannya. Gea yang masih meneliti beberapa file segera mengiyakan lalu berdiri, menyusul Bian yang sudah lebih dulu masuk ke ruangannya dengan langkah panjang.
"Ya pak, ada yang bisa saya kerjakan?" Bian menatap Gea tajam. Entah kenapa Gea merasa tatapan itu malah mengibarkan api permusuhan sepuluh kali lipat dari biasanya. Tapi gadis itu berpikir positif saja. Toh tiap hari mereka musuhan. Ada kerja sama juga karena niat Bian ingin membantu membeli lahan sekolah. Selebihnya bertengkar.
"Kerjakan ini dan jangan pulang jika pekerjaanmu belum selesai!" Gea membelalak. Bagaimana Bian bisa memberinya tugas itu selepas makan siang? Setumpuk berkas sudah disiapkan di mejanya. Melihatnya saja Gea tak yakin bisa menyelesaikannya hingga jam pulang kerja.
"Pak, anda taukan jika saya ada janji jam 7 malam nanti? pekerjaan ini terlalu banyak buat saya. Bagaimana jika saya membawanya pulang jika belum selesai nanti. Saya berjanji besok pagi sebelum pak Elang masuk, pekerjaan saya sudah selesai." Bian tersenyum smirk. Sebuah decihan keluar dari bibirnya.
"Janji yang kamu bikin tak ada hubungannya dengan pekerjaan. Terserah kamu mau bagaimana menyelesaikannya. Yang jelas kamu tak boleh pulang jika semuanya belum rampung." Balas Bian galak. Ingin rasanya menonjok wajah itu jika Gea tak ingat dia dalam jam kerja. Dia harus profesional.
"Baik pak, saya permisi." Lebih baik segera pergi dan menghilang dari sana. Bertengkar ataupun protes pada Bian hanya akan buang waktu dan tenaga saja. Lebih baik segera menyelesaikan pekerjaan dan pulang secepatnya. Itu akan lebih aman untuknya.
"Dasar belagu!! memangnya dia siapa hingga main perintah seenaknya? awas saja kau Bian! dasar siaallll!!" maki Gea kesal usai menutup pintu ruangan Bian. Jadilah hari itu dia menghabiskan sorenya dengan bekerja...bekerja dan bekerja. Mengabaikan keadaan sekitarnya hingga sebuah tepukan mendarat di pundaknya.
"Ge..." panggil Mitha lembut. Gea menengadahkan kepalanya lalu mendorong mundur kursinya. Kehadiran Mitha sedikit membuat moodnya membaik.
"Kamu mau pulang?" tanya Gea mendapat anggukan Mitha. Dia memang keluar duluan dari ruangan suaminya setelah seharian ini menghabiskan waktu dengan rebahan dan melihat suaminya bekerja. Tenang rasanya melihat si tampan sibuk. Beberapa kali Elang menyuruh dia tiduran di kamarnya, tapi Mitha selalu menolak. Dia ingin begitu saja. Sama-sama nonton drakor tapi rasanya beda jika dekat dengan Elang. Sifat manjanya tak berhenti sampai disitu. Makan minta disuapi, tidur minta dielus, pokoknya tidak mau jauh dari Elang.
"Iya. Nunggu mas Elang beres-beres. Pulang yuk!!" Alangkah bahagianya jika yang berkata begitu adalah Bian. Artinya neraka buatan itu akan berlalu darinya. Sebenarnya dia bisa minta bantuan pada Mitha dan mengadukan kesewenang-wenangan Bian pada Elang, tapi Gea cukuo tau diri. Bagaimanapun dia pegawai baru disini. Sudah sewajarnya jika dia lembur bukan?
"Ntar aja Mith. Nanggung, kerjannya masih belum finish. Pulang duluan aja. Baby kalian pasti pengen istirahat." Mitha mengelus perutnya lembut. Sindrom kehamilan ini benar-benar membuatnya jadi super bahagia.
__ADS_1
"Ehhmmm sepertinya iya Ge. Tapi baby minta sate nih. Dari tadi malah." Mitha benar. Sudah dari tadi siang dia ingin makan sate di dekat perumahan mereka. Tapi dia sama sekali tak ingin mengganggu suaminya bekerja. Sekarang saatnya pulang dan menuruti keinginan baby.
"Sayang, pulang sekarang?" percakapan mereka terputus karena Elang sudah berdiri di depan meja Gea dengan gagahnya. Mitha segera menghampirinya dan menggandeng lengan sang suami.
''Ge..kita pulang dulu ya. Jangan maksa banget kerjanya. Buat besok aja. Sekarang waktunya pulang oke?" Gea hanya mengangguk pasrah. Ekor matanya melirik pada Bian yang sudah muncul dari ruangan bos mereka dengan tatapan permusuhan.
"Oke. Bentar lagi juga aku nyusul pulang." balas Gea yang dibuat dengan nada seriang mungkin. Mitha mengangguk senang lalu meninggalkan ruangan itu diikuti Gea yang menarik nafas kesal dalam mode lelah.
"Jangan bermimpi bisa pulang sebelum semuanya selesai." Bian lagi...Bian lagi. Kesal jadinya. Tapi Gea sama sekali tak berminat untuk menyahut. Diam, lebih baik diam.
Setengah jam kemudian seorang kurir makanan datang membawa dua tas berisi makanan. Gea memincingkan matanya begitu tau pemesannya. Sebelum dia sempat berpikir, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dari Bian. Lagi dan lagi Gea dibuat kesal karena sekretaris sombong itu malah memintanya membawa makanan itu ke ruangannya.
"Masuk!" perintah Bian setelah Gea mengetuk pintu.
"Ini pesanan anda pak."
"Taruh saja di meja."
"Baik pak, saya permisi."
"Eits..mau kemana kamu?"
__ADS_1
"Saya? mau balik menyelsaikan tugas bapak." Gea menunjuk dirinya bingung. Apa Bian sudah pikun karena terus bertanya. Dia sendiri yang melarang dirinya pulang. Malah masih bertanya mau kemana. Dasar pria aneh."
"Buatkan dulu minuman untuk kami."
"Saya pak??"
"Iya..siapa lagi!!"
"Kan ada OB, kenapa bapak nyuruh saya?" Protes Gea kesal. Tugas satu belum selesai malah nambah tugas lagi. Bukan bagiannya pula. Siapa sudi menuruti atasan stress macam Bian?
"Kamu nggak lihat ini jam berapa? mereks juga pasti sudah pulang."
"Ya kalau begitu pak Bian bikin sendiri saja." ketus Gea dengan perasaan dongkol. Entah kenapa dia merasa seolah Bian sudah merendahkannya dihadapan Vera dengan memanfaatkan kekuasaannya.
"Kamu ini bawahan saya Ge!!" sentak Bian dengan nada tinggi. Sayangnya Gea sama sekali tak terpengaruh. Sudah biasa juga dibentak-bentak orang pas kerja di kafe. Kebal parah.
"Iya saya tau. Saya juga bawahan yang punya hak pulang...dan saya mau pulang!"
"Gea!!" teriak Bian penuh amarah karena gadis itu masih amat tenang menyikapi dirinya tanpa rasa takut.
"Iya pak. Saya nggak tuli. Sekali lagi saya bilang...saya mau pulang. Titik!! kalau pak Bian mau menghalangi saya silahkan. Tapi mulai detik ini saya resign dari sini. Selamat sore pak." dan tanpa menunggu jawaban Bian, Gea sudah keluar dengan langkah lebar, mengambil tasnya kasar lalu berlari ke dalam lift dengan perasaan lega.
__ADS_1
"Huufft...aku mau kembali hidup normal. Kerja kantoran hanya akan membuat otakku tak waras. Semangat Ge....semangattt!!" pekiknya menyemangati diri sendiri.