
Mitha membersihkan meja makan dengan santainya pagi itu. Masih ada banyak waktu sebelum pergi ke kantor sambil menunggu Elang yang menikmati kopi hitamnya. Lihatlah wajah suaminya itu terlihat amat tampan dengan sisiran rapinya. Siapa yang bisa menolak kharismanya?
"Biar saya yang cuci non." tawar bik Sri tak enak hati. Jika tak sangat sibuk Mitha memang memasak sendiri menu makananya. Bukan tak suka masakan bik Sri, tapi dia selalu ingat ucapan mamanya agar melayani suami sebaik mungkin, jangan terlalu mengandalkan pembantu. Berulang kali bahkan Mitha mengingatkan bik Sri agar tak terlalu sungkan jika dia masak. Toh pembantu rumah tangga mereka itu sudah banyak membantu pekerjaan rumah selain masak dan mencuci piring. Mitha sudah sangat berterimaksih karenanya.
"Hmmm...baiklah bik, saya tinggal ya." Mitha segera meletakkan bekakas kotor yang barusan dia pegang lalu mencuci tangannya sebelum mendekati Elang lalu menyusul duduk di sampingnya.
"Ehmm...mas." Elang yang dari tadi sibuk dengan ponselnya, menengadah.
"Ya?"
"Apa orang yang bernama tuan Tan itu benar akan datang hari ini?" tentu saja Mitha ingin tau soal tuan Tan yang semalam meminta suaminya datang secara mendadak.
"Dia bilang begitu." sahut Elang pendek. Entah kenapa Mitha kembali dibuat resah mendengarnya.
"Kemarin katanya mau balik ke negaranya? kok sekarang mau datang?" mau tak mau pertanyan yang sedari tadi berputar dikepalanya keluar juga. Aneh kalau dipikir-pikir. Benar jika orang yang bernama tuan Tan itu kaya raya dan punya banyak lahan bisnis diberbagai negara. Orang sepertinya memang bebas melakukan apapun. Tapi Mitha benar-benar merasa ada yang janggal, entah apa itu.
"Mungkin dia berpikir ulang dan merasa kerja sama ini penting. Sudahlah...toh tak malam-malam seperti kemarinkan? dia juga yang mau datang ke kantor kita. Tenanglah dan buang pikiran was-wasmu itu." tutur Elang menasihati. Mitha hanya diam tak menanggapi.
"Mau berangkat sekarang?" tawar Elang lembut.
__ADS_1
"Terserah mas saja." Elang berlahan berdiri, mengandeng tangan Mitha untuk ikut berdiri. Seulas senyum tercipta di bibir tipis si wanita menerima perlakuan lembut suaminya itu. Suami yang dicintainya tapi tak tau apa perasaanya pada dirinya. Yang jelas Mitha sudah sangat bahagia dengan kenyamanan kecil yang diberikan seorang Elang padanya.
Tangan kanan Mitha membawa tas kerja suaminya setelah menyampirkan tasnya sendiri dipundak. Lagi-lagi dia merasakan tangan Elang sudah melingkar disana. Ya Tuhan...kenapa pagi ini Elang bersikap amat manis padanya?
"Mith..." panggil Elang setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil. Mata coklatnya menatap lurus Mitha yang barusan memakai seat beltnya.
"Ya, ada yang ingin mas katakan?" gemas rasanya melihat Mitha yang menatapnya balik dengan mata mengerjab lucu.
"Besok jangan pakai rok pendek jika ke kantor." Mitha langsung mengamati rok abu-abu yang dipakainya. Tak terlalu pendek. Untuk ukuran seorang pekerja kantor rok selututnya juga masih tergolong sopan. Kemarin saat dia pakai yang modelnya sama Elang tak protes sedikitpun.
"Memangnya kenapa mas? karyawati kita malah banyak yang roknya lebih pendek." protes Mitha lemah agar Elang tak tersinggung. Bukannya tak mau menuruti suami, tapi setidaknya dia butuh alasan untuk tak memakainya lagi dilain hari.
"Engg...aku turun aja ya mas. Ganti baju dulu." Elang segera menghentikan gerakan Mitha yang ingin melepas kembali seat beltnya.
"Aku bilangnya besok Mith, bukan sekarang."
"Sekarang atau besok sama sajakan mas? lebih cepat lebih baik. Aku tak ingin mas Elang merasa tak nyaman dengan penampilanku."
"Nggak...begini saja. Nyaman kok. Besok saja ganti pakai celananya."
__ADS_1
"Mas Elang nggak marah? Tanya Mitha menelisik. Elang terkekeh sambil membelai rambutnya yang disanggul cantik kebelakang.
"Tidak. Aku malah suka punya istri yang nurut apa kata suami sepertimu." Pipi Mitha memerah saat Elang mencuri ciuman di pipi kanannya sekilas.
"Kau cantik hari ini." bisiknya makin membuat Mitha merona dan terpaksa membuang pandangannya keluar jendela hingga mereka meninggalkan rumah.
Tiga puluh menit perjalanan suami istri itu tiba di halaman perusahaan Abimana. Mitha dan Elang turun bersamaan lalu melangkah memasuki kantornya. Elang sedikit kaget saat melihat Bian sudah berdiri menunggunya.
"Loh Bi...ada apa?"
"Bos, setengah jam lagi tuan Tan dan sekretarisnya akan datang. Tadinya saya mau telepon, tapi bos udah keburu datang." jelas Bian membuat kening Elang berkerut.
"Sepagi ini?"
"Dia juga beri kabarnya tiba-tiba bos. Saya suruh buat janji dulu dianya malah maksa datang pagi ini."
"Aneh ya Bi...semalam dia mau kita datang, sekarang dia mau datang tapi waktunya hhhhh....terlalu pagi bahkan untuk meeting karyawan sekalipun. Tapi sudahlah. Kita bersiap saja." putus Elang sambil menggelengkan kepala bingung.
"Gea sudah menyiapkan ruangannya bos. Anda dan nyonya tinggal kesana. Saya akan menyambut mereka.
__ADS_1
"Hmmm baiklah." Elang kembali menggandeng Mitha keruang meeting. Mitha dengan semangat menjajari langah suaminya. Ada Gea disana. Setidaknya dia bisa sedikit berbincang dengan sahabatnya itu.