Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Sama saja


__ADS_3

"Tentu saja honey."


"Ho...honey??" ulang Sindy dengan mata melotot. Tentu saja dia kaget karena Elang memanggil Mitha dengan honey. Selama ini pria itu sangat enggan memanggil namanya wanita yang sekarang menjadi istrinya itu, apalagi mengakui dia sebagai adik. Elang akan sangat enggan membicarakannya juga melihatnya. Tapi kenapa sekarang pria itu malah terlihat begitu nyaman disisi Mitha?


"Kenapa kak? apa ada yang aneh?" tanya Mitha dengan senyum simpulnya.


"Kekanakan sekali." tukas Mitha berdecih tidak suka. Mitha tertawa sumbang.


"Kekanakan? nggak pernah pacaran ya? ini namanya romantis. Kak sindy nggak pernah punya panggilan mesra pada kak Leo ya?" goda Mitha makin semangat. Entah kenapa melihat Sindy kesal dia makin merasa gembira dan ngebet ingin mengerjainya.


"Nggak pernah pacaran? ha...ha....suami kamu ini mantan pacarku. Kami hampir 5 tahun pacaran." balas Sindy balik mengejek penuh kesombongan. Tentu saja dia jadi merasa diatas angin karena gelar mantan yang disandangnya. Dia pacar pertama dan terakhir Elang karena setelah putus darinya, pria tampan berdarah Inggris Jawa itu sudah enggan pacaran.


"Pacaran 5 tahun tapi berakhir jadi mantan? ahh Ya Tuhan...kasihan sekali nasibmu kakak cantik. Btw makasih lho kak..udah jagain mas Elang untukku." ejekan ringan namun mampu membuat Sindy merah padam. Terlihat sekali jika perempuan itu amat marah karenanya.


Bel berbunyi. Bik Sri yang awalnya asyik menyaksikan aksi saling ejek dua wanita cantik itu langsung membuka pintu. Seorang kurir mengantarkan paket makanan yang langsung dibawa bik Sri ke meja makan.


"Apa ini? honey..kamu yang pesan?" Elang terheran begitu Mitha menyentuh paket berbungkus plastik dengan logo resto terkenal itu dan membukannya.


"Ini aku pesan untuk sarapan kita hubby." ucap Mitha sambil mengeluarkan kotak makanan itu ke atas meja.


"Delapan porsi?" gumam Elang terheran-heran. Bukan masalah uang, karena mereka lebih dari mampu untuk membelinya. Tapi pada siapa makanan sebanyak itu akan dibagikan?"

__ADS_1


"Selamat pagi tuan muda, nyonya..apa saya terlambat?" sebuah suara menginterupsi Mitha yang akan menjawab pertanyaan suaminya. Semua mata menatap padanya.


"Kau belum terlambat. Duduklah Bi." Sekretaris Bian mengangguk lalu mengambil duduk tanpa menyapa Sindy yang makin tidak menyukai kehadirannya. Wanita itu terlihat amat kesal. Adik iparnya itu datang tiba-tiba diluar jam kerja. Keanehan hakiki yang tak pernah terjadi sebelumnya.


"Honey, pesan makanan sebanyak ini untuk apa?" tanya Elang masih dalam mode heran.


"Ya untuk dimakan hubby." balas Mitha amat santai sambil membuka penutup makanan dan menyajikannya untuk Elang. Aroma capjay goreng mahal dengan olahan spesial itu langsung menggelitik perut Elang yang memang sangat menyukai masakan Cina. Mitha langsung meletakkan satu kotak untuk Sindy dan Bian. Tatapannya beralih pada bik Sri yang masih berkutat di dapur tanpa sekat mereka. Membersihkan alat masak yang dipakai Sindy barusan. Dalam hati wanita itu menggerutu. Nyonya rumah itu saja tidak menyusahkan dirinya saat memasak. Mitha selalu mandiri tanpa meninggalkan kotoran di dapur saat memasak.


"Bik, bisa tolong panggilkan satpam yang diluar?" Ucap Mitha membuat bik Sri menjeda pekerjaannya.


"Yang mana nyonya? Pak Ali atau anaknya?"


"Pak Amir juga nyonya?"


"Iya."


"Baik nyonya." bik Sri menuju pintu samping, memanggil pak Amir, tukang kebun mereka lebih dulu, lalu menyuruhnya memanggil pak Ali dan anaknya yang berjaga di pos depan.


Tak lama ketiga pria itu datang, mengangguk hormat pada tuannya yang masih bingung dengan maksud istrinya.


"Silahkan duduk pak, kita makan bareng. Bik Sri juga. Ayo duduk sini." ujar Mitha tersenyum ramah. Mereka hanya saling pandang satu sama lain, merasa heran dan takut. Tapi begitu Elang memberi isyarat agar mereka duduk, barulah mereka menurut. Bik Sri menyajikan kotak makanan mahal itu didepan ketiganya, lengkap dengan air minumnya sebelum dia duduk di kursi paling ujung.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? kenapa kita makan dengan pembantu dan ini...apa ini...tukang kebun, satpam!!! benar-benar keterlaluan kau Mitha!" hardik Sindy makin marah.


"Lah memangnya kenapa kak?" Jika tak ada Elang disana, mungkin Sindy sudah menerkam Mitha yang berlagak polos didepannya.


"Kenapa? mereka ini nggak pantas ya makan bareng kita. Strata sosialnya aja beda. Nggak salah kamu?"


"Nggak. Lagian strata sosial yang mana sih yang kakak maksud? Kalau masalah kerjaan mereka...satpam, tukang kebun dan pembantu itu pastinya nggak ada bedanya dong dengan kakak?"


"Nggak ada bedanya gimana sih? sarjana tapi nggak ngerti strata sosial." hardik Sindy lagi.


"Ya karena saya ngerti makanya saya ajak mereka semua makan bareng kak. Pak Ali, Arul, pak Amir dan bik Sri itu pembantu rumah kami. Sedang kak Bian dan kak sindy itu sekretaris mas Elang. Pembantu suami saya di kantorkan? lalu apa bedanya sih? kalian kan sama-sama pembantu. Cuma tempat dan sebutannya aja yang beda." jelas Mitha makin membuat gigi Sindy bergemletuk menahan marah.


"Kau sangat keterlaluan Paramitha!!" sentak Sindy tanpa sadar. Elang yang tadinya diam langsung menatap nyalang. Matanya berkilat marah.


"Jangan membentak istriku dan jangan memanggil dia semaumu. Dia istri bosmu. Panggil dia nyonya!!" tentu saja Sindy terkejut karenanya. Wanita cerewet itu langsung duduk dan menundukkan kepalanya, takut melihat sorot kemarahan di mata seorang Elang.


"Kita disini mau makan. Jadi mulailah makan!"


"Baik tuan muda." sahut mereka semua serempak.


"Silahkan dinikmati ya..." timpal Mitha ramah. Mereka yang sudah bekerja puluhan tahun disana tentu saja amat hafal watak Mitha dan Elang yang ramah dan baik hati. Sontak acara makan itu jadi santai seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2