Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Isu hamil


__ADS_3

"Bagaimana keadaan papa saya dokter?" tanya Elang dengan wajah cemas begitu dokter yang memeriksa papanya keluar. Tak hanya dirinya, Paramitha dan Richard juga ikut mendekat. Hanya Malika yang tetap duduk di kursi walau dengan wajah cemas. Setidaknya dia harus menahan diri pada yang lebih berhak atas diri Abimanyu. Apalah dia yang hanya mantan adik ipar pria yang pernah singgah dalam hatinya itu. Meski tak bisa dipungkiri jika dia masih menaruh hati padanya.


"Tuan Abimanyu sudah melewati masa kritisnya. Buatlah dia senyaman mungkin karena jantung yang ditrasplantasikan pada dirinya masih butuh waktu untuk beradaptasi." jelas sang dokter serius. Dia juga memberikan banyak arahan untuk kesembuhan Abi pasca operasi. Elang mengangguk paham.


"Apa kami sudah bisa menemuinya dok?"


"Tentu saja. Silahkan masuk." Sang dokter memberi ruang dengan menggesar tubuhnya kesamping sebelum berpamitan kembali ke tempatnya. Elanglah yang pertama masuk ke ruang perawatan papanya.


"Elang.....nak..." panggil Abi dengan suara lemah. Elang segera mendekat, meraup tangan sang papa dan menciumnya takzim. Air mata membasahi pipinya.


"Papa....terimakasih sudah kembali untukku. Maafkan Elang papa..." ucapnya terbata. Abi terkekeh karenanya. Tangannya terulur membelai kepala putra semata wayangnya.


"Papa pasti akan kembali untuk menimang cucu papa." katanya disertai senyum lebar.


"cucu?" ulang Elang dengan ekspresi bingung. Pun Mitha yang barusan datang juga terlihat sama bingungnya saat Elang menyebut kata cucu tadi. Baru saja akan menjawab atau berkata-kata, Richard ikut mendekat.


"Apa kau lupa kak? Kak Mitha kan sudah telat dua minggu." pungkas Richard dengan senyum serupa papanya. Elang langsung menatapnya tajam saat kaki sepupunya itu malah menginjak sepatunya ringan sambil tersenyum lebih lebar padanya. Elang mulai paham meski tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya wajib mengikuti skenario yang sudah dilakukan sebelum tau kebenarannya. Dia hanya ingin Abi lekas sembuh seperti sediakala.

__ADS_1


"Aku terlalu panik hingga lupa soal kehamilan menantumu pa." timpal Elang, membuat bola mata Abi berbinar.


"Dia juga putriku Lang. Kemarilah Mith." Mitha mendekat, memeluk tubuh papanya erat. Tangisnya pecah seketika.


"Kenapa kau menangis hemm?? Sebentar lagi kau jadi ibu. Papa sangat bahagia melihat kalian seperti ini."


"Mitha takut kehilangan papa." ucapnya terisak. Abi terus tersenyum melihat kebersamaan kedua anaknya. Semula dia begitu ragu akan kelangsungan kehidupan rumah tangga anak-anaknya. Tapi sekarang...hatinya sudah sedikit lega.


"Papa akan tetap ada untuk kalian." bisik Abi dengan suara seraknya. Mereka terus bercengkrama hingga seorang wanita dan pria berseragam maid datang. Dibelakangnya, seorang perawat datang untuk memeriksa memberikan suntikan untuk papanya.


"Bi Yola, paman Yuan..kalian sudah datang?" sapa Richard ramah. Dua orang asisiten rumah kakek Hans itu mengangguk hormat.


"Mereka akan menunggui auncle Abi kak." jelas Richard.


"Tapi aku akan menunggui papa Rich."


"Kakak ..kau dan kak Mitha baru saja menempuh perjalanan jauh. Pulanglah untuk beristirahat. Besok kalian bisa kembali kemari. Kasihan kak Mitha kak." bujuk Richard lembut. Dia tau sepupunya itu termasuk pria keras hati yang sulit dinasihati.

__ADS_1


"Tapi Rich...."


"Tuan Abi baru akan bangun esok hari tuan. Beliau baru saja mendapatkan suntikan penenang agar bisa istirahat cukup. Anda bisa menemuinya besok." Jelas perawat tadi. Sekilas Elang melirik papanya. Benar saja, sekarang papanya terlihat mengantuk dan memejamkan matanya.


"Sayang apa kau ingin pulang?" tanya Elang pada Mitha yang masih setia disampingnya.


"Aku ikut saja. Kalau mas mau pulang ya aku pulang, kalau mau disini ya aku disini."


"Aku menyarankan kalian pulang kak. Lagipula auncle akan aman disini. Dua pengawal rumah akan ada diluar ruangan untuk menjaga auncle." kali ini Richard kembali berusaha meyakinkan pasangan itu. Sebenarnya ruangan VVIP itu punya tempat tidur yang lumayan bagus untuk penunggu pasien. Juga dilengkapi fasilitas mewah. Tapi yang namanya rumah sakit pastinya akan terasa tidak nyaman.


"Hmmm...baiklah. Kita pulang." putus Elang. Dia mengengam jemari Mitha lalu menuntunnya keluar. Wanita muda itu menatap bingung pada suaminya. Tadi panggilan sayang, sekarang pegangan tangan. Ohh ya Tuhan...kenapa pria itu begitu terlihat manis jika demikian??


Richard yang mengikuti langkah mereka segera masuk ke jok depan disamping sopir pribadi mereka. Pun Elang dan Mitha duduk berdampingan dibelakangnya. Tangan kekar itu tak hentinya mengenggam jemari wanitanya seolah takut ditinggal pergi walau berulang kali Mitha mencoba mengurainya.


"Jelaskan padaku kenapa papa sampai berpikir jika Mitha hamil?" desak Elang secara langsung. Pertanyaan itu terus menelusup di sanubarinya. Kebohongan macam apa lagi yang dilakukan saudaranya itu.


"Opa yang melakukannya." balas Richard kemudian.

__ADS_1


"Opa...tapi kenapa?"


"Karena Auncle Abi sama sekali tak mau diobati dan melakukan operasi meski sudah ada donor. Melihat aunty yang makin drop membuat beliau juga kehilangan semangat hidup. Kakek terpaksa berbohong untuk kebaikannya." lagi-lagi Elang dibuat termenung karenanya.


__ADS_2