Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Bersyukur


__ADS_3

Elang dan Mitha baru saja sampai di ambang pintu rumah saat ponsel si pria berdering. Elang bergegas mengambil ponselnya dari saku celana bahannya lalu mengangkat panggilannya. Tubuh tegapnya dia dudukkan di sofa sembari memberi isyarat agar istrinya mendekat dan duduk disampingnya.


"Hallo...ya tuan Tan." Mitha mengrenyitkan dahinya bingung. Siapa gerangan yang menelepon suaminya sesore ini?


"Baiklah, saya akan segera kesana." ucapnya lalu menutup panggilannya.


"Siapa mas?" rasa penasaran Mitha membuncah. Sepertinya ada hal serius yang akan lakukan suaminya.


"Tuan Tan, kolega bisnis kita yang kemarin menawarkan kerjasama." jawab Elang singkat.


"Terus?" Elang membelai kepala istrinya lembut.


"Tuan Tan ingin bertemu untuk membicarakan kerja sama malam ini."


" Malam ini? dimana? mendadak sekali." buru Mitha makin penasaran. Jika benar orang bernama tuan Tan itu ingin bekerja sama, bukankah seharusnya mereka bicara besok saja di jam kerja? kenapa justru mengundang suaminya untuk datang?


"Dipinggir kota." mendengar lokasinya saja sudah kembali membuat Mitha bertanya-tanya. Kenapa harus dipinggir kota? seperti tak ada tempat lain saja. Sore begini pula. Elang juga belum sempat istirahat setelah seharian bekerja di kantor. Perasaan Mitha jadi tak enak.


"Kenapa tak besok saja?"


"Besok dia sudah harus kembali ke Cina. Ini saja dia menyempatkan diri bertemu. Mitha...kerjasama ini akan banyak menguntungkan kita karena nominalnya yang besar. Jadi aku harus menemuinya."

__ADS_1


"Tapi mas...perasaanku tidak enak." kata Mitha jujur. Entah kenapa perasaannya berkata jika ada hal tak diinginkan akan menimpa keluarga mereka. Mitha amat gelisah.


"Sayang dengar...aku tidak sendirian. Bian akan menemaniku kesana. Jadi kau tak usah khawatir." bujuk Elang dengan nada rendah, mencoba meyakinkan istrinya yang terlihat gundah.


"Mas..." Wajah Mitha berubah memelas, hampir juga menitikan air mata. Elang mengusap pipi wanitanya berlahan.


"Sayang, kamu kenapa sih? tidak biasanya mellow begini?"


"Apa mas Elang akan marah jika aku memintamu tak pergi malam ini?" Elang menatap istrinya dalam.


"Katakan kenapa aku harus menurutimu hemm?" kali ini Elang beralih menyandarkan dirinya di sofa, menghilangkan sejenak rasa penat pada raganya. Bik Sri datang dengan dua cangkir teh dan menghidangkannya lalu pamit kembali ke dapur.


"Apa selama ini aku terlihat tak bersyukur?" tanya balik Elang sambil menyeruput teh hangatnya.


"Bukan begitu." sanggah Mitha pendek.


"Lalu?"


"Tak ada yang bisa menjamin jika kita kerja keras tak kenal waktu akan menambah harta kita atau membuatnya kekal jadi milik kita. Sesungguhnya rejeki itu sudah ditakar mas. Kita hanya harus bersyukur dan membelanjakannya sesuai syariat." Kali ini wajah Mitha menjadi amat serius hingga Elang juga dibuat lebih serius saat menatapnya.


"Dengan kata lain kita tak usah bekerja lalu rejeki datang sendiri? mana ada seperti itu Mith? kekeh Elang panjang sambil mengacak poni Mitha.

__ADS_1


"Ya bukan segitunya mas. Bekerja juga ibadahkan? ya kita juga harus konsisten bekerja tapi juga jangan lupa bersyukur. Tubuh kita ini juga perlu beristirahat lho. Ya berikan haknya beristirahat agar kita tak lupa bersyukur karena seharian ini kita sudah memforsirnya."


"Apa ini perkataan mama yang kau sitir?" Elang hafal betul jika dari almarhumah mamanyalah perkataan itu keluar. Mitha amat mengagumi Maria hingga semua yang dikatakan mamanya diserap habis olehnya tanpa saringan sama sekali.


"Bukan. Itu papa yang bilang." kali ini Elang dipaksa heran oleh jawaban istrinya.


"Tumben?"


"Harus dong mas. Tanpa mereka berdua aku tak akan seperti sekarang." protes Mitha keras. Emosional sekali jika menyebut orang tua angkat yang sudah jadi mertuanya itu. Mungkin karena Mitha belum sepenuhnya menghilangkan kesedihan karena kehilangan mama mereka hingga membuatnya seperti itu. Elang menghela nafas panjang.


"Dengan kata lain aku tak kau ijinkan pergi?" tanya Elang lagi, kali ini wajahnya terlihat amat tenang. Ragu, Mitha menganggukkan kepalanya. Dia tau betul resiko berpendapat di depan Elang yang disiplin dan keras kepala. Dari cerita Maria sedikit banyak dia tau jika suaminya itu tipe workaholic yang mungkin tak menerima saran orang lain. Mitha sudah siap jika opininya ditolak.


"Hmmm...baiklah." Iris kecoklatan Mitha membola saat Elang mengedurkan dasinya juga membuanganya asal usai melepaskannya. Pria itu bahkan sudah menempatkan kepalanya dipangkuan Mitha yang sudah menjadi tempat paling nyaman baginya.


"Mas Elang nggak jadi pergi?" pertanyaan sia-sia setelah tau jawabannya. TapI Mitha hanya ingin memastikan saja. Takut jika dugaanya salah.


"Seperti yang kau lihat....kata orang, suami harus kerja keras untuk membahagiakan anak istrinya. Ada rejeki istri dari kerja keras suaminya. Kalau istriku saja sudah merasa cukup, lalu untuk apa aku bekerja lebih keras lagi? kau benar sayang...kita hanya harus bersyukur." ucap Elang seraya memadang wajah Mitha yang sudah bersemu merah karena ucapan manisnya.


"Lalu tuan Tan?"


"Kenapa memikirkan dia? aku tinggak mengirim pesan jika tak bisa kesana. Salah sendiri buat janjinya mendadak. Dia pikir aku masih lajang apa?" gerutu Elang sambil menuliskan pesan pada tuan Tan dan Bian karena dia tak jadi datang.

__ADS_1


__ADS_2