
Elang sudah duduk manis di kursi ruang makan dengan mie goreng ayam yang masih mengepulkan asapnya. Di depannya, seduhan air serai dan jahe merah dengan aroma yang menggoda baru saja dihidangkan Mitha.
"Duduk disini Mith." katanya sambil menunjuk kursi disampingnya. Mitha yang awalnya ingin duduk di kursi lain kembali berputar menuju kursi disamping Elang. Mereka melewati sesi sarapan dalam diam. Hanya Elang yang terlihat lahap menyantap sarapannya lalu meneguk air serai sedikit demi sedikit setelahnya.
"Setelah acara tujuh harian mama kau ikut aku ke kantor." ucap Elang membuka percakapannya.
"Tapi mas ...."
"Mitha kita sudah sepakat untuk meneruskan perusahaan peninggalan papa dan mama berdua. Kita harus bekerja sama. Kau baru boleh berhenti ke kantor setelah nanti kau hamil." Elang yang sadar baru saja keceplosan bicara langsung terlihat gugup karenanya.
"Ehhmm..maksudku..."
"Bagaimana bisa hamil? disentuh aja nggak." gerutu Mitha membuat Elang makin salah tingkah.
"Aku hanya salah bicara Mith. Sudah abaikan saja." Mitha melengos sembari menghabiskan makanannya.
"Sini." Elang mengulurkan tangannya meraih piring bekas makan istrinya.
"Lho..mau dibawa kemana mas?" Mitha menatap suaminya bingung.
"Ya dicucilah." jawab Elang enteng sambil beranjak dari duduknya. Mitha dengan cepat memburunya.
"Biar aku saja." Elang menepis tangan Mitha lemah lalu meneruskan langkahnya menuju wastafel.
"Kan sudah kubilang, mulai sekarang kita partner. Kita kerja sama, bahu membahu. Kau sudah memasak, biar aku yang mencuci."
"Partner?" ulang Mitha mengeja.
"Ya, partner kerja, partner dirumah...."
"Yang jelas bukan partner bikin anak." potong Mitha tanpa rasa bersalah sembari memutar langkah ke ruang tv sambil membawa gelas seduhan serai miliknya.
__ADS_1
Berulang kali menekan tombol remote membuatnya berhenti saat mendapati salah satu stasiun tv menayangkan drakor favoritnya. Film lama sih, tapi dia sangat suka , berulang kali nonton sampai dia hafal alur ceritanya.
"Hedewh...romantis bangett....so sweett.."ucapnya sambil menyeruput minumannya.
"Itu cuma di film." sarkas Elang yang tiba-tiba sudah duduk disampingnya.
"Tapi aku suka." Balas Mitha kembali melengos. Mereka kaum lelaki memang bukan penikmat drakor. Jangankan sampai baper, menyimak saja nggak pernah.
"Sayangnya cerita di film mereka kontras dengan kehidupan dunia nyata mereka." keluh Mitha penuh penyesalan.
"Memangnya mereka kenapa?" Tuh kan ..Elang tak tau apa-apa?? Bikes deh.
"Ya mereka sempat nikah sih, tapi cuman sebentar. Trus pisah." jelas Mitha tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
"Berarti mereka nggak jodoh." Komentar Elang ringan.
"Nggak jodoh kok menikah." kilah Mitha seraya melirik Elang sekilas.
"Seperti kita." pungkas Mitha dengan wajah sayu. Yang dia katakan benar adanya. Nasib pernikahannya mengenaskan.
"Apa yang kau katakan? bukannya kita sudah sama-sama sepakat untuk belajar saling mengerti dan juga ...mencintai." ucap Elang pelan di dekat telinga Mitha. Seketika bulu disekitar leher Mitha meremang. Dia tetap wanita normal pada umumnya. Nafas Elang yang menerpa lehernya meningingatkannya pada panasnya malam pertama mereka walau harus berakhir dengan hati yang panas pula. Mitha mengalihkan pandangannya, tak berani bersitatap dengan sang suami yang berada pada jarak amat intim dengannya. Secara naluriah tubuhnya mencoba menjauh.
"Kenapa hemm??" Tentu saja Mitha dibuat gelagapan karena Elang kembali memajukan wajahnya. Nafasnya juga sempat tertahan karenanya. Tapi lagi dan lagi dia salah duga. Elang dengan gerakan berlahan mencari posisi nyaman dan membaringkan tubuhnya dan menjadikan paha Mitha sebagai bantalannya.
"Kok...mas Elang malah rebahan lagi?" tanya Mitha tak mengerti.
"Aku sudah pamit cuti seminggu pada Bian. Lebih baik kerja dari rumah hingga acara tujuh harian mama usai." soal itu Mitha sudah tau. Tapi kenapa acara liburnya malah diisi dengan hal beginian?
"Kuambilkan laptop sama ponsel mas Elang ya?" tawar Mitha yang tentu saja hanya alasan agar bisa pergi dari zona nyaman Elang.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Ya untuk mas Elang kerja." Elang terbahak oleh sikap polos Mitha. Jemari besarnya menyentil lembut hidung mancung si wanita yang masih terpesona pada wajah tampan rupawannya.
"Memangnya apa yang bisa kukerjakan sekarang? Mereka bahkan baru masuk jam kerja, beberapa jam lagi baru ada email masuk. Bilang saja kau ingin menghindariku." Kata Elang seolah bisa menebak jalan pikiran Mitha.
"Hmmm...bukan begitu." Mitha jadi tak enak hati. Hubungan mereka baru saja membaik, dua harus meminimalisir salah paham atau pertengkaran yang berakibat fatal bagi hubungan keduanya.
"Lalu?"
"Aku hanya...."
"Risih?" tebak Elang tepat sasaran. Memang hal itu yang dirasakan Mitha saat ini. Tapi dia tak bisa mengakuinya begitu saja.
"Mas Elang bisa melakukan hal yang lebih penting."
"Nemenin istri nonton drakor juga penting Mitha sayang."
......bluuussss......
Wajah Mitha merona karenanya. Panggilan sayang dengan nada romantis itu benar-benar membuatnya malu. Dadanya...dengarkan detak jantungnya yang tidak normal. Ahh...dia takut besar kepala dan salah menafsirkan sikap Elang padanya.
"Wajahmu....kenapa merah begitu? kamu suka dipanggil sayang? Elang mendongakkan kepalanya dan mengamati istrinya yang salah tingkah.
"Hmmmm....."
"Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu begitu." putus Elang secara sepihak.
"Sekarang ceritakan tentang dirimu."
"Aku?" Mitha menunjuk dirinya sendiri dan mendapatkan anggukan dari Elang.
"Ya, terlalu banyak masa yang kulewatkan saat jauh darimu. Sekarang ceritakan semuanya padaku." pinta Elang dengan suara lembutnya.
__ADS_1
"Apa itu perlu?"