Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Pijat


__ADS_3

"Aku bisa sendiri mas." kata Mitha sambil berusaha menggapai piring yang di pegang Elang. Tapi pria itu malah menjauhkan piringnya, tak memperbolehkan Mitha mengambilnya. Dia malah mengambil sendok dan menyuapi Mitha, tak menerima protes apapun meski istrinya itu tetap mengatakan jika dirinya hanya terkilir saja, bukan sedang stroke hingga tak bisa makan sendiri.


"Habiskan lalu minum obatnya." ujar sang suami saat Mitha sudah hampir menyelesaikan makannya. Lagi-lagi Elang melarangnya mengambil gelas di meja. Pria itu malah mengambilnya dan mendekatkannya pada bibir Mitha yang masih terbengong menatapnya. Mau tak mau Mitha meminumnya. Pun saat Elang menyodorkan obat untuknya, dia sama sekali tak bisa menolak.


"Bian bilang ada ahli pijat di dekat kantor yang bersedia dipanggil dirumah. Aku sudah menyuruhnya kesini."


"Pijat? memangnya boleh dipijat dalam kondisi begini?" tanya Mitha tak mengerti.


"Tak ada larangan dari dokterkan?" tanya balik Elang.


"Tidak, tapi aku takut....."


"Takut apa? takut makin parah? Mitha dengar, papa mengatakan jika terkilir atau keseleo bisa di pulihkan lebih cepat dengan dipijat oleh ahlinya. Toh tidak ada keretakan. Atau kau ingin sakit lebih lama?" suara lembut Elang sudah membuat Mitha mati kutu. Yang terbayang dalam benaknya kini adalah rasa sakit. Kakinya sedang tidak baik-baik saja. Dipegang saja sakit, apalagi dipijat. Bisa menangis jungkit balik dia. Apalagi dia bukan tipe wanita yang bisa menahan sakit.


"Sudahlah, ada aku. Aku akan menemanimu." Mitha sedikit bernafas lega. Walau sakit dia tak sendirian nanti.


Tak berapa lama pintu diketuk dari luar. Bianlah orang yang pertama kali muncul saat pintu dibuka oleh Elang. Rupanya sekretaris papanya itu belum sempat pulang kerumah karena masih mengenakan pakaian yang sama.

__ADS_1


"Orangnya sudah datang tuan muda. Mau disuruh masuk atau nyonya dibawa ke bawah?" tanyanya sopan. Bian memang banyak berubah. Dia yang biasanya bersikap sinis dan berkata seadanya menjadi lebih hormat dan patuh pada Elang. Perubahan sikap Elang pada Mithalah yang membuatnya berubah. Dia begitu menyayangi Mitha seperti adiknya sendiri.


Elang berpikir sekejap. Netra hitam pekatnya menatap Mitha yang juga balas menatapnya.


"Tunggu sebentar, aku akan membawa Mitha turun." putusnya kemudian. Membawa orang lain masuk ke kamar mereka bukan pilihan bijak. Elang tak suka kamarnya dimasuki orang lain selain orang tua dan pasangannya. Kehidupan di Eropa sudah membuatnya mengutamakan privasi dari pada hal lain.


"Anda perlu bantuan?" ujar Bian menawarkan diri.


"Aku tidak suka istriku disentuh orang lain. Tunggulah dibawah, kami akan segera turun." balas Elang penuh intimidasi. Mata tajamnya berkilat marah. Melihatnya, Bian tak merasaa tersinggung sama sekali. Senyum amat tipis tersungging disudut bibirnya sebelum beranjak pergi dari sana.


"Kan barusan ganti baju? kenapa harus ganti lagi sih mas?" protes Mitha. Elang tak menjawab, tangannya bergerak melepas daster lengan pendek yang melekat di tubuh Mitha lalu membantu istrinya berpakaian dengan cepat lalu tergopoh menggendong tubuh semampai itu menuruni tangga.


Diruang keluarga yang dilengkapi satu set sofa keluaran terbaru, Bian duduk menemani seorang pemuda seusia mereka. Keduanya langsung berdiri saat melihat Elang datang dan meletakkan tubuh Mitha di atas kasur yang baru disiapkan oleh Bian dan bik Sri. Sekilas Elang melirik Bian tajam.


"Silahkan dimulai bang." kata Bian setelah mereka sekian lama saling pandang dalam diam. Si abang tukan pijat mengangguk sopan lalu segera berjongkok menyiapkan peralatan pijatnya. Kesempatan yang tak disia-siakan Elang untuk menarik Bian sedikit menjauh meski tak menghilangkan fokusnya mengawasi Mitha.


"Kau ..kenapa tidak bilang jika juru pijatnya pria muda?" cerca Elang galak. Dari nada bicaranya sangat terlihat jika sang tuan muda amat geram. Bagaimana tidak geram...laki-laki ini terlihat sangat manis dengan lesung pipinya. Gagah dan tentu saja terlihat maskulin dengan pakaian kasualnya.

__ADS_1


"Kau juga tidak tanya dia laki-laki atau perempuan. Aku hanya menjalankan perintah untuk mencarikan tukang pijat." Jawab Bian tenang tanpa rasa berdosa. Begitulah mereka, bersikap formal hanya disaat tertentu saja. Sebenarnya sama sekali tak ada faktor kebetulan, Bian memang sengaja memilih pemijit muda untuk melihat reaksi Elang.


"Dasar brengsek! aku tidak akan segan memotong gajimu jika istriku tidak sembuh." hardik Elang masih dengan wajah kesalnya. Bukannya takut, Bian malah tertawa kecil.


"Dia tukang pijat profesional. Masih lajang, tampan dan..."


"Diam!!!" bentak Elang lirih. Dia segera melangkah panjang mendekati istrinya saat tukang pijat itu akan mulai menyentuh kaki istrinya. Jika tak ingat demi kesembuahan istrinya, pasti sejak tadi dia sudah mencincang pria itu bak potongan daging ayam.


"Segeralah mulai." ucapnya datar sambil duduk memangku kepala Mitha. Hal yang sebenarnya sama sekali tidak perlu karena Mitha hanya akan dipijit, bukannya mau melahirkan🤣


"Baik tuan. Hmmm nyonya..tahan sebentar ya.." dan telapak tangan tak kalah kekar dari tangan sang Elang itu sudah hinggap dengan lancang di kaki kanan Mitha dan memijitnya. Mata berkilat Elang seketika meredup saat Mitha merintih sakit.


"Tahan ya sayang." bisiknya lembut, membuat Mitha terpana karenanya. Tangan kekar sang Elang membelai kepalanya lembut. Terpesona dalam tatapan lembut itu hingga tak menyadari rasa sakitnya. Dia seperti terhipnotis pada sikap dan perhatian Elang sudah membuatnya amat bahagia. Mereka saling tatap, saling meremas tangan, dan serti tidak menyadari jika ada orang lain disana.


"ehm..eehhhmmmm." dehem Bian keras saat keduanya masih asyik saling pandang. Elang dan Mitha sontak kaget dan memutuskan pandangan saling memuja mereka. Wajah cantik Mitha jadi bersemu merah saat melihat Bian dan tukang pijat tadi senyum-senyum simpul sambil merapikan tasnya. Rupanya pria itu sudah selesai memijat kaki Mitha. Terlihat dari tampilan kakinya yang mulai berkurang bengkaknya.


"Maaf..bagaimana kaki istri saya bang?" Tanya Elang setelah cukup menguasai diri dan menetralisir detak jantungnya. Untung saja dia tidak kebablasan mencium bibir ranum Mitha yang amat menggodanya tadi. Mereka bisa malu dua kali karenanya.

__ADS_1


__ADS_2