
Elang mengenggam Erat tangan Abi yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Wajah pucat papanya seakan mengiris hatinya. Pria itu...pengukir jiwa raganya telah terbaring tak berdaya dengan beberapa selang infus dan alat bantu pernafasannya. Rasa takut akan kehilangan pria itu membuatnya tergugu dalam tangisan.
"Papa...bangunlah. Aku dan Mitha datang untuk papa." ucapnya dengan suara bergetar. Entah berapa tahun dia mengabaikan pria itu untuk sebuah kekesalan karena mengangkat Paramitha sebagai anak mereka tanpa alasan jelas. Dia juga menuding Mitha adalah anak hasil perselingkuhan Abi dengan wanita lain tanpa bertanya padanya atau mendengar penjelasannya.
"Pa, bangunlah. Mama sudah pergi. Apa papa juga mau meninggalkan aku sendiri? mana janji papa untuk selalu menjagaku? bangun pa..jangan pergi menyusul mama. Tugas papa belum selesai. Kenapa putus asa seperti ini? mama pasti sedih jika papa begini. Setidaknya beri waktu padaku untuk meminta maaf padamu pa!!" teriak Elang frustasi. Mitha yang mendengar teriakan suaminya merangsak masuk. Memeluk erat suaminya, dan membenamkan wajah yang amat berduka itu dipelukannya. Elang terisak tanpa bisa dikendalikan, tak berbeda jauh dari ekspresi Mitha yang juga tak bisa menahan air mata. Air matanya bahkan sudah berjatuhan membasahi kepala sang Elang. Pintu kembali terbuka saat kakek Hans masuk. Sebuah pengecualian untuk pasien koma yang seharusnya hanya bisa dimasuki satu orang saja. Sekali lagi...uanglah yang berkuasa diatas segalanya.
Kakek Hans mendekati menantunya, menatapnya dingin. Elang tau kakeknya tak begitu menyukai papanya karena sudah dianggap memisahkan dia dari putri kesayangannya. Tapi melihat usaha sang kakek memberikan pengobatan terbaik pada papanya membuatnya harus berpikir ulang tentang bagaimana perasaannya pada sang papa.
"Kalian dan kau Abimanyu suryaatmaja, dengarkan perkataan kakek tua ini baik-baik." ucap Hans dengan suara berat. Dia bahkan mengenggam jemari Abi kuat sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Memang benar aku tidak pernah menyukaimu selama tiga puluh tahun ini. Tapi melihat cinta putriku yang begitu besar padamu, aku jadi ingin tau, pria seperti apa dirimu hingga aku menyadari jika tak ada satu priapun yang bisa bersabar dan tulus sepertimu. Abimanyu...dengar, kau harus bangun demi pesan terakhir Maria. Lakukan apa yang diinginkan putriku sebagaimana kau sudah menuruti semua permintaannya selama ini. Abi..kakek tua ini sudah sangat menyesal. Apa kau akan menambah penyesalan ini lagi?"
__ADS_1
"Apa...apa permintaan terakhir mama opa?" kali ini Elanglah yang sangat ingin tau. Mamanya begitu mencintai papanya, itu realita. Tapi melihat opanya yang begitu gigih mengatakan soal pesan terakhir mamanya membuat rasa ingin taunya meronta. Mitha bergegas menarik kursi agar kakek Hans bisa duduk dengan baik disana.
"Kau bisa lihat bukan, pilihan Maria tak pernah salah." senyum penuh rasa terpaksa membayang disudut bibir Hans saat Mitha amat memperhatikannya. Elang hanya mengangguk pasrah. Memang tak ada yang salah pada diri Mitha. Dialah yang salah karena tak bisa mencerna perasaannya.
"Mamamu ingin Abi menikahi Malika, auntymu."
"Aunty???? itu tidak mungkin opa!!" sangkal Elang cepat. Dia tau jika Maria pernah ingin menjodohkan Abi dengan Zahra hingga membawa gadis itu ke London agar mereka bisa dekat. Nyatanya...Abi sama sekali tak tertarik padanya. Lalu kenapa sekarang malah menjodohkannya dengan auntynya? Elang menggeleng kuat.
"Apanya yang tidak mungkin Lang? Auntymu sudah bercerai dari suaminya. Papa Richard itu sudah menikah dengan orang lain hingga punya dua anak tanpa sepengetahuan Malika. Benar-benar pria durjana." tangan Hans mengepal kuat. Wajahnya mengguratkan kekecewaan. Selama ini dia salah menilai menantunya itu. Pria yang dia anggap dari keluarga kaya, keturunan bangsawan dan terpelajar itu malah menyakiti hati putri bungsunya juga membawa lari uang perusahaan yang dikelolanya. Kejahatan yang sempurna.
"Apanya yang tidak bisa?"
__ADS_1
"Opa...papa hanya mencintai mama saja. Dia tidak akan bisa berbagi hidup dengan wanita lain. Aku tau pasti itu." sergah Elang berapi-api. Dia tak ingin papanya makin tertekan dan mengakibatkan jantungnya kembali bermasalah karena sebuah permintaan dari orang yang sudah meninggal dunia. Tidak..mereka tak boleh seegois itu. Apa kata keluarga besar papanya di Indonesia jika tau putranya menjadi sebuah pion dalam permainan catur keluarga Larsons???
"Ada yang harus kalian tau nak...." Kakek Hans menarik nafas dalam dan menghembuskannya kuat, menekan hatinya. Matanya kembali berkabut.
"Yang dicintai papamu adalah Malika, bukan Maria."
"Kakek jangan mengada-ada. Aku bahkan sudah mendengar langsung dari bibir papa jika mereka nekat kawin lari karena saling mencintai." kakek Hans terkekeh mendengar penjelasan Elang.
"Bukan kawin lari nak...tapi Abi terpaksa membawa lari mamamu karena permintaan Malika yang terus memohon agar Abi menikahi kakaknya ya. Marialah yang kujodohkan dengan Barry, papanya Richard saat itu, tapi dia sudah terlajur jatuh cinta dengan Abi. Dia bahkan sudah dua kali mencoba bunuh diri karena tau Abi menjalin hubungan dengan Malika . Maria...dia sudah dibutakan oleh cinta pada papamu ini."
"Tapi itu tidak mungkin opa..."
__ADS_1
"Itu mungkin Lang. Kau juga harus tau. Kakek membenci mamamu karena keegoisannya memisahkan Malika dari Abi hingga auntymu harus menjalani hidup yang berat dengan menikahi Barry, menggantikan Maria. Dan papamu ini...pria bodoh yang juga sudah dibutakan cintanya pada Malika hingga sama sekali tak punya pendirian. Pria ini malah menghabiskan seluruh hidupnya untuk membahagiakan mamamu demi menepati janjinya pada Malika. Kau pikir opa tidak memantau mereka? Opa tau semuanya. Tapi opa lebih tau saat bertemu langsung dengannya. Papamu ini mungkin pria paling bodoh di dunia...tapi dia juga pria sejati yang selalu menepati janjinya. Dia selalu memperlakukan Maria bak seorang dewi, berpura-pura mencintainya hingga ajal menjemputnya. Maria...semoga kau mendapatkan tempat terbaik disisi Nya nak." Elang terduduk lemah dikursinya. Menatap pria yang terbaring tak berdaya di depannya itu nyalang. Selama ini dia sudah terlalu jahat padanya.
"Papa bangunlah. Berikan aku kesempatan untuk minta maaf." dan lagi-lagi pria tampan itu tersedu.