
Pagi yang cerah saat Elang dan Mitha berangkat ke kantor mereka bergandengan tangan. Senyum cerah menghiasi wajah kedua insan dilanda cinta itu walau tanpa berkata. Ada yang bilang jika cinta memang tak butuh pengakuan, tapi tindakan. Mungkin itulah yang berlaku dalam hubungan mereka saat ini.
"Ini mas Elang beneran mau makan di mobil?" Elang membenarkan seat belt istri cantiknya sebelum mengerling manja.
"Iya sayang. Kan tadi udah ngomong." Mitha mengelus pipi suaminya yang mengerjab lucu. Aneh, pagi ini Elang jadi manja mirip bocah TK yang akan berangkat sekolah. Minta dimandikan, dipakein baju, trus minta disuapin di dalam mobil padahal ini masih terlalu pagi untul berangkat ke kantor. Artinya mereka punya cukup waktu untuk sarapan dirumah. Tapi Elang bersikeras ingin makan dengan caranya. Mau tak mau Mitha menurutinya. Sang istri membawa kotak bekal sekalian tremos kecil berisi kopi susu pesanan Elang.
"Rasanya kali ini aku harus berpikir ulang kalau mau punya anak kecil." keluh Mitha sambil membuka kotak makannya, bersiap menyuapi suaminya yang menjalankan mobil mereka pelan membelah jalanan.
"Ada yang salah?" tanyanya merasa tak berdosa hingga Mitha dibuat gemas karenanya.
"Ya bagaimana aku mau konsen ngurus anak kalau bapaknya semanja ini? lagian mas Elang aneh deh." suapan pertama masuk ke mulut Elang dengan lancar selamat sentosa hingga tertelan sempurna. Menu anehnya juga membuat Mitha mengerutkan keningnya tadi. Bagaimana tidak, Elang malah minta nasi putih, telur mata sapi dan mie goreng seperti bekal anak TK.
"Anggap saja kita pacaran sayang. Nanti sampai kantor juga gantian aku yang suapin kamu kok." lagi-lagi sang suami mengerling manja hingga Mitha senyum-senyum dibuatnya. Apalagi saat melihat mahakaryanya masih terpampang dengan jelas di leher atas si tampan Abimana itu. Tanda merah kebiruan itu...entah kenapa membuat Mitha bangga. Itu hasil cetakan pertamanya setelah beberapa kali berhubungan.
"Kok malah senyum sih?" Elang mengerutkan keningnya lalu menatap intes sang istri. Untung traficlight masih menunjukkan warna merah hingga tak mengganggu acara berkendara pagi mereka.
"Akhirnya aku bisa juga membuatnya." Mitha mengelus lembut bagian itu hingga Elang mengambil jemarinya, menciumnya sekilas.
__ADS_1
"Aku sama sekain tak keberatan jika kau membuatnya lebh banyak lagi sayang."
"Iihh...maunya..."
"Ya emang maunya sama kamu."
"Mulai belajar jadi buaya ya?" ejek Mitha berdecih sebal. Elang terkekeh sambil kembali menjalankan mobilnya.
"Nggak semua laki-laki itu buaya sayang, lagian..buaya juga ada kok wanitanya. Aku cuma mau membuatmu bahagia Paramitha." perkataan yang amat ringan namun membuat Mitha melayang. Pipinya merona merah. Bahagia rasanya mendengar Elang berkata-kata manis untuknya.
"Minum dulu mas."
"Lho..kok dimakan yang?" Mitha menghentikan suapannya saat Elang menegur. Elang memang sudah berjanji akan gantian menyuapinya saat tiba di kantor nanti.
"Aku lapar mas." keluh Mitha. Pria itu dengab segera mencari lahan parkir lalu membelokkan kendaraannya ke tepi. Merebut segera kotak makan istrinya yang terkeju karenanya lalu mulai menyuapi Mitha.
"Sudah kubilangkan...tunggu aku. Maaf sudah membuatmu lapar. Besok aku akan menyuapimu dulu sebelum berangkat." katanya halus.
__ADS_1
"Aku bisa makan sendiri mas."
"Sayang...apa salahnya sih mesra ama suami hmmm?"
"Ya nggak salah sih...cuma ehmmm...risih aja mas." kilah Mitha. Padahal dia sangat bahagia dengan perlakuan istimewa Elang padanya.
"Nanti juga terbiasa." balas Elang tak kalah lembut dari yang tadi.
"Udah mas. Kenyang." Mitha segera meneguk air mineralnya juga membuat Elang berhenti menyuapinya.
"Mau berangkat sekarang?"
"Ya. ngomong-ngomong kita mirip pacaran memang. Tapi kalau kita pacaran aku malah takut jadinya."
"Takut apa yang?"
"Takut nggak kuat nahan kalau lihat yang bening-bening begini." tawa Mitha berderai, membuat Elang juga melakukannya. Pagi mereka yang ceria dam bahagia.
__ADS_1
Kantor sudah lumayan ramai saat pasangan pemilik perusahaan Abimana itu masuk keml lobi. Beberapa karyawan memberi salam pada mereka yang terus bergandengan tangan hingga tiba di ruangannya.