Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Siap


__ADS_3

Gea hanya melirik tajam pada Bian yang terus saja menempel padanya. Seolah mereka benar-benar pasangan yang saling cinta. Andai semua orang yang hadir disana tau kebenarannya, pasti mereka bakal tertawa karenanya. Satu hal yang membuat Gea kesal. Kain bawah kebaya yang dipakaianya rupanya senada dengan kemeja batik yang dikenakan Bian malam itu. Rupanya semua sudah diatur oleh sekretaris yang....ahhh...kenapa Bian terlihat amat menawan malam itu. Dia bahkan tersenyum ramah dan tak segan berbincang ramah pada semua orang yang mayoritas tetangga dan saudara-saudaranya.


"Bu Asih, setelah dicari...hari baiknya ada pada pertengahan bulan depan." kata seorang pria tua yang memang dibawa oleh pakdhe Gea dari kampung. Ibunya memang orang Jawa tulen yang sangat percaya pada adat dn tradisi Jawa. Semua yang hadir manggut-manggut. Malam itu memang sudah direncanakan pula untuk menentukan hari pernikahan mempelai aneh itu.


"Maaf pak, tapi kami ingin menikah secepatnya. Kalau bisa minggu depan." kata Bian tegas dan tak ayal mengundang gelak tawa para tamu. Baru kali ini ada calon pengantin yang ngeyelnya minta ampun.


"Nak Bian..menikah itu untuk sekali seumur hidup. Kami pihak keluarga hanya berusaha mencarikan yang terbaik agar pernikahan kalian langgeng sampai akhir hayat." jawab pakdhenya Gea sabar.


"Tapi pakdhe, bukannya dalam islam itu semua hari baik ya? niat saya juga baik. Bukannya niat baik itu harus disegerakan?" tanya Bian amat berani. Leo sampai harus berdehem karena tak enak dengan para tamu yang terus meledek adiknya.


"Aduhh...bagaimana ya saya menjelaskannya? begini nak, semua hari itu baik, tapi alangkah baiknya jika kita mencari yanh paling baik diantaranya. Apalagi dalam tradisi kami ini ada beberapa aturan dan pantangan yang tak boleh dilanggar. Saya harap nak Bian mau mengerti." untung pakdhenya Gea sangat sabar hingga tak ikut terpancing dengan ulah nekat Bian.


"Tapi pakdhe..."

__ADS_1


"Stop!!!" sentak pria tua tadi ke arah Bian yang hendak protes untuk kedua kali. Tatapan matanya amat tajam pada Bian. Semua mata menatap pria tua itu penuh tanya. Seketika itu pula suasana jadi lengang.


"Kalau tidak mau menunggu minggu depan ya kalian menikah malam ini saja!" kata pria tua tegas.


"Apa???!!!" Bu Asih tentu saja kaget. Menikah? dia bahkan tak punya persiapan untuk acara dadakan itu. Para wanita juga terdengar berkasak-kusuk tak jelas. Pun Gea juga langsung berdiri dari duduknya karena kaget. Untung Bian segera menarik tangannya agar kembali duduk dengan wajah sumringah.


"Memangnya boleh pak?" tanyanya penuh senyum kemenangan.


"Ya boleh. Mumpung saatnya belum lewat. Sah saja dulu. Urusan menikah di kantor atau pestanya terserah keluarga. Yang penting ijab kabulnya harus dilakukan hari ini." Bian langsung mendatangi pria tua dan menyalaminya penuh syukur. Entah kenapa dia begitu bahagia ditengah ledekan dan kegundahan keluarga Gea.


"Pak Bian!! saya nggak mau!!" sergahnya membuat bu Asih kaget juga. Gea yang baru sadar akan ekspresi marah ibunya langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan lalu diam.


"Bi, penghulunya akan datang kurang dari setengah jam kemari." kata Elang seperti tak mempedulikan protes Gea. Sang bos sudah bergerak cepat mengutus seorang pengawal dan tetangga Gea untuk menjemput penghulunya. Masalah surat dan ijin, besok saja dibicarakan. Yang penting sekarang sah dulu. Bian mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar. Untuk urusan bergerak cepat memang Elang ahlinya. Para tamu yang tadinya tegang langsung tertawa bahagia. Apalagi Mitha segera membagikan kotak kue dan minuman yang tadinya untuk dibawa pulang agar mereka sudi menunggu acara ijab kabulnya. Andra dan Zahra juga langsung menelepon restoran terdeket agar membuatkan hantaran pulang para tamu sebagai rasa terimakasih.

__ADS_1


Lain Zahra, lain pula Leon. Sang jaksa wilayah bergegas ke mobil untuk mengambilkan jas dan kopyah untuk adiknya. Harusnya ada kemejanya juga, tapi waktunya terlalu singkat. Yang jelas Bian tak berdandan aneh di hari pernikahannya. Dia dibantu beberapa saudara Gea juga menyiapkan meja untuk akad nikah secepat mungkin. Semua jadi gaduh meski tak menghilangkan kesan bahagia pada keluarga.


"Bi...mas kawinnya..." Elang jadi ingat jika pernikahan itu mendadak. Pasti Bian sama sekali belum menyiapkannya.


"Aku hanya punya lima ratus ribu uang tunai di dompetku bos." katanya sedih. Elang menghela nafas kasar. Sudah dia duga.


"Sebenarnya tak apa-apa. Tapi lebih baik berikan saja rumah barumu sebagai mas kawin." Elang sebenarnya hanya berniat menggoda sekretarisnya itu. Tapi Bian menyikapinya dengan serius.


"Idemu sangat brilian bos." kembali acungan jempol Bian tunjukkan pada Elang, kali ini dengan dua jempol sekaligus.


"Ssttt...memangnya kau sudah bisa akad nikahnya?" kali ini Elang benar-benar khawatir pada sekretarisnya itu. Jangan sampai dia berbuat memalukan.


"Saya ini orang Aceh bos. Bisa akad nikah dua bahasa sekaligus." ujar Bian berdecak sebal. Elang terlalu meremehkan dirinya. Dari kecil dia sudah belajar membaca huruf hijaiyah juga bahasa Arab dengan fasih. Bagaimana mungkin akad nikah saja tak bisa? memalukan!

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu Bi. Sekarang cepat kesana. Penghulunya sudah datang." perintah Elang saat beberapa orang memasuki pekarangan rumah beserta orang suruhannya. Bian menurut. Sang penghulu segera mengambil tempat duduk di depan Gea dan Bian. Disampingnya, Pakdhenya Gea selaku wali yang mewakili ayahnya juga menempatkan dirinya. Tak ada rasa gugup atau keraguan pada diri Bian. Dia sudah sangat siap untuk menikah.


__ADS_2