Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Tak sengaja


__ADS_3

"Mas, bisa mampir ke supermarket sebentar? ada yang ingin kubeli." pinta Mitha saat mereka baru saja keluar dari halaman kantor Abimana grup.


"Tentu." jawab Elang singkat kemudian melajukan kendaraannya dalam kecepatan normal. Tatapannya berpindah pada tangan Mitha yang mengurut pelan pahanya.


"Capek?" tanyanya penuh perhatian. Dia tau hari ini baik Mitha ataupun dirinya sama-sama capek akibat semingguan tak masuk kerja. Banyak berkas dan laporan yang menumpuk di meja masing-masing.


"Sedikit. Lama-lama juga terbiasa mas." Mitha menyesap air dalam botol air mineral yang tersedia disampingnya dengan pipet panjang hingga separuhnya.


"Mas mau minum juga?" Mitha tak mungkin mengabaikan Elang yang juga terlihat haus karena cuaca yang masih terasa panas meski hari telah beranjak sore. Ac mobilpun seolah tak sanggup mengahalau panasnya.


"Hmmmm ..ya." Mitha hendak mengambil botol baru saat Elang malah menatapnya aneh.


"Itu saja Mith. Tidak usah ambil yang baru."


"Tapi ini bekasku mas." tolak Mitha tak enak hati. Walau mereka suami istri tapi sejak kejadian malam pertama penuh luka itu


"Memangnya apa yang salah?"


"Ya tidak ada. Baiklah, aku ganti pipetnya saja ya..."


"Kubilang tidak usah sayang." Seketika gerakan Mitha tertahan. Wajah ayunya merona. Elang yang diam-diam meliriknya hanya tersenyum simpul.


"Hanya pipet bukan? toh kita sudah pernah berciuman juga...olah raga bersama." Mitha kembali dibuat merah padam oleh perkataan Suaminya.


"Sayang kau ingin aku mati kehausan?" mau tak mau Mitha segera menyodorkan botol air mineral itu pada Elang yang langsung menyedotnya hingga tandas.

__ADS_1


"Mas, di depan ada supermarket." kata Mitha mengingatkan. Sebenarnya dia juga tak sengaja melihat balihonya dari kejauhan karena menghindari tatapan suaminya. Elang segera memelankan laju mobilnya sebelum berbelok menuju parkiran.


"Lho, kok turun mas? mau ikut belanja?" Mitha yang melihat Elang turun tentu merasa kaget. Padahal dia juga ingin membeli beberapa keperluan wanita karena sudah beberapa hari lagi mungkin tamu bulanannya datang, sedangkan dia sama sekali tak punya stok pembalut wanita dirumahnya.


"Ya." jawab Elang sambil menggandeng tangannya. Entah harus bahagia atau bagaimana. Yang jelas perlakuan kecil begitu saja sudah membuat hatinya berbunga.


"Mas...kok..." Mitha dibuat melongo saat melihat Elang mengambil troli dan mendorongnya.


"Ayo." ajaknya penuh semangat.


"Mas aku cuma mau belanja sedikit lho. Untuk apa pakai troli?" protes Mitha. Membawa troli hanya akan memperbanyak belanjaannya nanti. Pakai keranjang saja sudah cukup baginya.


"Kita belanja keperluan rumah sekalian."


"Kan udah dibelanjakan bik Sri mas. Kita nggak usah belanja lagi." Tapi Elang bersikeras.


"Tapi mas...ini tanggal tua lho. Kita juga lagi banyak pengeluaran untuk acara mama." Mitha benar, mereka sudah mengeluarkan banyak uang. Bukan bermaksud pelit, tapi sebagai istri dia hanya ingin berhemat. Elang hanya tertawa ringan menganggapi protes istrinya. Setengah memaksa dia menarik lengan Mitha agar ikut berjalan bersamanya.


"Sayang dengar...aku ini suamimu. Aku bekerja juga untuk kamu. Jadi kau juga berhak menerima nafkah dariku. Maaf jika selama ini aku mengabaikanmu. Tapi aku janji semua tak akan terulang lagi." Mata Mitha berkaca. Ternyata begini rasanya diperlakukan manis oleh pasangan. Mereka terus berjalan menyusuri rak tinggi sambil sesekali memasukkan barang yang Elang maupun Mitha inginkan. Hingga mereka tiba di rak berisi aneka pembalut yang menjadi tujuan utama Mitha berbelanja. Sedikit tergess Mitha memasukkannya ke dalam keranjang agar Elang tak mengetahuinya. Tapi mau bagaimanapun ukurannya yang cukup besar tentu mudah dilihat meski Mitha berusaha menutupinya dengan tumpukan tissu.


"Kau sedang......" Elang menggantung kalimatnya. Agak canggung juga menyebutnya didepan istrinya.


"Belum..hanya siap-siap saja." Mitha mengalihkan pandangannya ke arah lain agar Elanh tak melihat rona merah yang lagi dan lagi menghiasi wajahnya.


"Berarti nanti malam bisa dong...."

__ADS_1


"Ehh..tidak!!" potong Mitha cepat seraya mengigit bibirnya. Sedikit menyesal kenapa dia berkata tidak tadi. Hampir saja dia memukul kepalanya saat menyadari dia melakukan kebodohan.


"Padahal aku hanya ingin mengajakmu makan malam." gerutu Elang setengah kecewa. Mitha buru-buru menoleh karena dilanda rasa tak enak hati.


"Ehh itu...ba..baiklah.'' jawabnya cepat dengan kegugupan yanga luar biasa. Jantungnya bahkan tak berhenti berdetak kencang saat menyadarinya. Elang tersenyum sinis lalu kembali mendorong trolinya ke kasir. Sedang Mitha hanya mengikuti dari belakang.


"Lang ...." dan sebuah pelukan hangat sudah menenggelamkan tubuh seksi seorang wanita berbadan ramping nan elok. Hampir saja Mitha memekik kager saat mengetahui siapa pelakunya.


"Kak Sindy...." lirihnya. Kakinya terasa membatu, pun dengan lidah yang berubah kelu. Pengganggu itu datang lagi.


"Lang ..akhirnya ketemu kamu juga. Sekretaris brengsekmu itu selalu menghalangiku untuk menemuimu. Ayo kita bicara." Dan Sindy sudah merangkul lengan kanan Elang mesra. Bergelayut disana lalu menariknya.


"Lepas!!" kata Elang tegas dengan wajah datar. Terlihat sekali jika dia tidak nyaman karena perlakuan Sindy padanya.


"Lepas kataku!!!" kali ini si pria nyaris berteriak jika tak menyadari mereka ditempat umum. Tangannya menyentak kuat hingga tangan Sindy terlepas, namun dengan liciknya wanita itu malah merangkulnya.


"Lang please...kita harus bicara." kata sindy terus memaksa. Tangannya terus berusaha menarik tubuh tinggi kekar yang tetap tak bergeming dari tempatnya hingga sebuah sentakan keras memaksa tautan tangan itu terpisah. Sindy menatap garang pelakunya.


"Kau...berani sekali kau!!" sentaknya dengan raut wajah yang teramat marah.


"Kenapa tidak berani hemm?? dia suamiku. Aku lebih berhak pada dirinya dari pada pelakor sepertimu. Apa kau tak dengar jika suamiku minta dilepaskam hemmm? Apa suamimu tidak bisa memuaskanmu hingga kau menginginkan suamiku?ahhhh....sebaiknya kau ingat umur tante, sadar diri juga. Udah tua lho anda. Tobat dikit kenapa? takutnya dijemput izrail sebelum waktunya." kata Mitha keras seraya terkekeh hingga bisa di dengar orang yang mengantri disana. Wajah tenang Mitha membuat Sindy meradang. Tatapan mencemooh beberapa wanita yang berada disekitar mereka mau tak mau membuat wanita itu shock.


"Awas kamu Paramitha!!" ketusnya dengan mata melotot tajam lalu melapaskan rangkulannya pada lengan Elang dan bergegas pergi dari sana.


"Sayang maafkan aku." kata Elang lembut, tak enak hati. Walau Mitha tak terlihat marah tapi sesungguhnya Elang merasa amat bersalah karena insiden tadi.

__ADS_1


"Ini bukan salahmu mas. Cuma kebetulan sajakan. Sudahlah...ayo, kita harus segera pulang." balas Mitha dengan senyum teduhnya. Tangannya bergerak merangkul sang suami yang juga balas meraih pinggangnya mesra.


__ADS_2