Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Dimana


__ADS_3

"Mas, aku mau ke Gea sebentar ya." Elang melirik Mitha sekilas, mengalihkan kesibukannya menandatangani beberapa berkas yang bertumpuk di meja.


"Kenapa tidak dipanggil kemari saja yang?" Katanya penuh selidik. Mitha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebentar lagi jam istirahat, apa salahnya jika dia ke ruangan Mitha yang menjadi satu dengan ruangan Bian?


"Kami ingin bicara berdua saja mas." Mendengar jawaban Mitha membuat Elang makin curiga. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Mitha darinya.


"Kita suami istri yang...tidak ada rahasia diantara kita kan? lalu kenapa kamu malah begitu? jangan-jangan kau ingin...."


"Jangan menduga-duga tanpa alasan mas. Nanti jadinya fitnah. Hmmm...baiklah, aku panggil Geanya kesinia aja ya. Tapi mas Elang harus janji nggak akan ikut nimbrung. Cukup dengarkan saja oke?" Elang mengangguk samar. Tak diijinkan ikut bicarapun tak mengapa, asal dia bisa mendengar apa yang akan istrinya bicarakan. Takutnya mereka malah akan membahas sang mantan yang tentu saja berkaitan dengan peristiwa Zahra.


"Terimakasih honey." Mitha bersorak gembira seraya mengecup pipi kanan suaminya sekilas sebelum mengambil gagang telepon dan menghubungi Gea untuk datang ke ruangannya.


"Kenapa cuma kanan saja?" Mitha menatap suaminya penuh tanya. Walau lirih, tapi dia bisa mendengar dengan jelas perkataannya karena berada di sampingnya.


"Kau..bicara apa mas?"


"Ciumanmu...kenapa hanya kanan saja? Setahuku pipi manusia ada dia sisi. Kau berbuat tidak adil pada mereka." Entah sibuk atau pura-pura sibuk, tapi kali ini Elang tak menoleh sama sekali padanya dan hanya fokus pada laptopnya. Mitha menghela nafas panjang lalu mendekati suaminya, mencium pipi kirinya.


"Nah...sudahkan?"

__ADS_1


"Sini!" perintah Elang mengisyaratkan Mitha kembali dekat.


"Apa?" tanya Mitha penasaran. Wanita muda itu mencondongkan kepalanya ke deoan agar bisa sejajar dengan Elang.


.....cup.....


Mata Mitha berbinar saat sebuah kecupan tersemat di bibirnya yang dipoles lipstik maroon cerah. Siapa mengira suaminya akan berbuat begitu saat sahabatnya akan masuk ke ruangan mereka.


"Jangan lupa cium bibir suamimu setelah mencium pipinya." kata Elang sambil mengerling jenaka. Sebentar kemudian pintu di ketuk dari luar, membuat Elang segera fokus pada laptopnya kembali. Ekspresi tak ingin turut campur urusan istrinya.


"Selamat siang bu, anda memanggil saya?" tanya Gea formal. Mitha mengangguk, lalu mengajaknya duduk di sofa. Kening Gea mengerut bingung.


"Jawab Ge.... mas Elang sudah tau kok. Lagian aku tanya juga karena masalah Zahra. Aku kirim pesan juga nggak kamu balas dari tadi." Elang yang mendengar perkataan istrinya tentu sedikit emosi. Bagaimana bisa istrinya itu malah sibuk memikirkan Andra, sang mantan saat begini? tapi setelah dia menyebut nama Zahra, emosi Elang sediikit terkikis. Dia cukup tau kehamilah Zahra ada hubungannya dengan Andra.


"Andra...sudah ke Ausy sebulan yang lalu." Dari tiga orang sahabat Andra semasa SMA, hanya Mithalah yang sudah tak menjalin komunikasi dengan Andra karena sudah menikah lebih dulu. Elang tipe cemburuan dan dia tak ingin mengambil resiko atas kemarahan suaminya. Jika bukan karena masalah Zahra mungkin dia akan amat enggan menyebut dan menanyakan keberadaan seorang Andra permana.


"Kau bisa menghubunginya?" lagi dan lagi Gea dibuat salah tingkah akut. Matanya bergerak gelisah dan sesekali menatap ke meja Elang, tak enak hati.


"Dia tak pernah mengangkat teleponku. Hanya sekali dua kali membalas pesanku. Andra sudah banyak berubah sebulan ini." Nada perkataan Gea nyaris seperti keluhan. Saat Mitha memutuskan keluar dari grup, dia masih berbesar hati karena Mitha sudah menikah dan merupakan mantan pacar Andra, tapi dia? tentu dia ikut kehilangan setelah Andra juga keluar dari grup mereka secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.

__ADS_1


"Aku takut...."


"Apa?" potong Gea cepat saat Mitha menggantung kalimatnya. Mitha mengigit bibirnya enggan mengatakan hal yang ada dalam pikirannya.


"Kau takut jika kejadian Lusia terulang?" lanjut Gea kemudian hingga sebentar kemudian dia menepuk kepalanya, terkejut karena kebablasan bicara.


"Lusia?? siapa Lusia?" Serempak keduanya menoleh. Yang pertama kali terkejut adalah Mitha. Suaminya berjalan mendekati mereka dan duduk disebelahnya.


"Mas sudah janji nggak ikut campurkan?" sungut Mitha kesal. Tapi Elang seolah tak peduli. Dia malah menatap lurus ke arah Gea seolah mengintimidasi sekretaris istrinya itu.


"Siapa Lusia itu Ge,?" tekannya sekali lagi. Gea yang salah tingkah dibuat gemetaran, takut.


"engg...anu...itu pak..."


"Bicaralah jujur karena ini menyangkut nasib sahabatmu. Aku dan Bian sedang mencari info tentang apa yang sesungguhnya menimpanya.


"Dia...sepupu jauh Andra yang ehmm...diperkosa tuan Permana hingga hamil seperti Zahra. Tuab Permana.....menyuruh orang untuk menculiknya. Sampai sekarang tak ada yang tau bagaiman nasib Lusia."


"Mas...apa mungkin.."

__ADS_1


"Pangg Bian kesini Ge!" utus Elang tegas...


__ADS_2