Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Siapa dia?


__ADS_3

"Ge, antar aku ke mall yuk." ajak Mitha pada Gea disambungan telepon. Sejenak Gea melirik ke arah Bian yang sedang serius di depannya. Kalau bukan Bian yang menyuruh dia mengangkat telepon, mana berani dia bertelepon ria di depan pria itu.


"Mau ngapain Mith??" bisiknya lirih, takut Bian mendengar.


"Ehm...sekarang posisi kamu karyawannya nyonya Mitha. Jadi belajarlah menyapa dengan benar."


....degh...


"Maaf pak." balas Gea tak enak hati. Pendengaran Bian tajam juga hingga membuatnya kaget. Dia terlihat serius dengab laptopnya, tapi juga bisa jadi pendengar yang luar biasa.


"Ge....." Kata Mitha memastikan sahabatnya baik-baik saja. Dia mendengar jelas teguran Bian tadi.


"Ehh ya Mith ehh nyonya." Tawa berderai di seberang sana membuat Gea makin kesal. Tega-teganya Mith menertawakan dirinya saat terjepit begini. Kalau saja bukan karena tawaran gaji fantastis yang Elang tawarkan, mungkin Gea sudah lari dari awal masa training. Kanebo kering di depannya ini sangat ketus dan memyebalkan.


"Gimana? ku jemput pas pulang kerja ya?" tanya Mitha setelah tawanya mulai reda. Jika karyawan lain pulang sesuai jam kerja, maka Mitha akan pulang satu jam lebih awal karena hanya magang disana.


"Okelah. Lalu motorku?" tau begini juga Gea ogah bawa motor. Jalan kaki saja seperti biasa. Toh jarak rumahnya dengan kantor Elang hanya 2 kilo meteran. Hal biasa yang dia lakoni hampir sepanjang tahun, jalan kaki untuk menghemat ongkos. Maklum, dia hanya anak seorang guru TK yang menyambi jadi pejahit rumahan. Bisa kuliah juga butuh perjuangan panjang dengan topangan beasiswa dan kerja part time tak kenal lelah.


"Motor taruh saja di parkiran." potong Bian cepat tanpa menghilangkan fokusnya pada laptopnya. Gea makin tak nyaman karena merasa terus dikuping olehnya.


"Iya Ge, nurut kak Bian aja. Nanti kuantar balik ke kesitu buat ambil motor kamu."


"Hmmm...baiklah." sahut Gea cepat. Makin cepat panggilan berakhir, makin membuat dia tenang. Lagian ini Mitha kok jadi rese telepon di jam kerja? biasanya juga chatt aja.


"Mau kemana?" tanya Bian datar. Gea melirik lagi padanya.


"Menemani nyonya Mitha ke mall." jawabnya tegas.


"Saya tau. Maksud saya mall mana?"

__ADS_1


"Ya mana saya tau pak. Orang saya juga cuma disuruh mengantarkan, bukannya mau ikut belanja. Lagian bapak kenapa sih mau tau aja urusan saya?" cerocos Gea kesal. Mau kemana diluar jam kerja kan bukan urusan atasan? dia bebas kemanapun sesuai keinginannya.


"Kalau yang kamu temani bukan istri bos sih saya tidak mau tau. Tugas saya memastikan nyonya baik-baik saja karena kamu masih dalam masa percobaan."


"Tapi ini diluar pekerjaan kan pak?"


"Tinggal jawab saja apa susahnya? kecuali kamu mau bawa nyonya pada selingkuhannya misalnya...." sindir Bian sambil tersenyum mengejek. Wajahnya benar-benar seratus kali lebih menyebalkan sekarang.


"Maaf pak Bian yang terhormat...kan sudah saya jawab jika saya tidak tau mau diajak kemana. Saya juga lupa tanya tadi." jelas Gea penuh penekanan. Bian menatap enggan padanya.


"Kalau begitu kenapa kamu tetap memandangi saya? tidak pernah dikasi tau guru ngajinya ya kalau memandang pada lawan jenis itu sudah zina mata? lekas kerjakan tugasnya! jangan harap kamu bisa pulang sebelum selesai." ancam Bian ketus. Apa tadi? zina mata? siapa juga yang mau menatap dia kalau bukan karena tuntutan kerja? Sok banget jadi orang. Pedenya over dosis.


"Baik pak." capek beradu argumen dengan pria dingin itu. Lebih baik cepat kerjakan lalu pulang. Aman.


"Selesai...silahkan cek dulu pak." ujar Gea sambil menyerahkan setumpuk kertas ke hadapan Bian setengah jam kemudian. Gadis itu berusaha ngebut mengerjakannya agar tak terlambat dan membuat Mitha menunggu.


Bian menatapnya datar, malah mengarah dingin lalu kembali menunduk memeriksa hasil kerja Gea. Dalam hati dia mengakui kecerdasan gadis itu. Cantik, cekatan dan mempesona tentunya.


"Terimakasih pak. Saya permisi." Lalu Gea meraih tasnya dan meninggalkan ruangan itu seiring dengan Bian yang berdiri untuk meregangkan ototnya dan sekedar melepas lelah mendekati jendela. Pemandangan jalan yang sedikit membuatnya fresh sambil menyesap kopinya.


"Hey ..gadis itu...kenapa cepat sekali sampai ke bawah?" gumamnya saat melihat Gea keluar dari lobi dengan langkah santainya, tanpa beban. Dia juga tak segan menganggukkan kepala dan tersenyum pada setiap orang yang berpapasan disana, ramah.


Untuk kali ini Bian salah. Gea sama sekali tak pergi ke toilet seperti dugaannya. Gadis itu langsung ke parkiran, melangkah mantap menuju bangku panjang di bawah pohon rindang sambil mengeluarkan ponselnya. Dia tak butuh merapikan diri apalagi repot sana-sini. Bahkan beberapa kali gadis itu menyugar rambut sebatas lehernya dengan tangan tanpa takut lecek.


Entah kenapa Bian terus mengamati Gea hingga mobil yang dikemudikan Udin datang mengampirinya. Mitha sudah lebih dulu menyembulkan kepalanya dan meyuruh sahabatnya masuk.


"Gadis aneh..." gumam Bian lagi saat mobil mereka sudah meninggalkan halaman kantor.


"Mau apa sih Mith. Niat banget pergi ke mall." tanya Gea penuh rasa ingin tau.

__ADS_1


"Yee...kamu lupa ya, besok aku wisuda. Aku mau beli sesuatu."


"Ohh ya ampun..aku lupa Mith. Ini gara-gara sekretaris suami kamu. Bikin stress aja." keluh Gea dengan wajah kesalnya. Bukannya berempati, Mitha malah lagi-lagi tertawa keras. Gea memang pernah cerita soal perlakuan Bian padanya di grup.


"Kak Bian memang begitu Ge. Tapi aslinya baik kok. Hati-hati saja kamunya jatuh cinta padanya kalau sudah kenal baik."


"Idih...amit-amit Mith." Gea bergidik ngeri mendengar perkataan sahabatnya itu. Untung saja mereka sudah sampai di mall hingga percakapan itu terputus begitu saja. Gea turun lebih dulu diikuti Mitha.


"Ge, ke counter makanan bentar yuk." ajak Mita yang memang belum sempat makan tadi. Perutnya terasa lapar. Pasti Gea juga begitu, makanya dia berinisiatif mengajaknya makan dulu.


Mereka masih berceloteh riang menuju stand favoritnya hingga....


"Kak Elang...." gumam Mitha, namun masih dindengar dengan baik oleh Gea yang langsung menatap ke arah yang sama. Ya, disana Elang tengah berjalan menuju tempat yang sama dengan mereka di dampingi Sindy dan dua orang lainnya di belakang mereka.


"Eehh Mitha..mau makan juga?" sapa Sindy memasang wajah ramah yang terasa dibuat-buat. Mitha membalas senyum itu terpaksa. Dalam hati dia meruntuk kesal. Kalau saja dia tak asyik bicara dan bercanda, mungkin dia masih bisa menghindar.


"Iya kak." balasnya singkat.


"Kalau gitu barengan kita aja. Iya kan Lang?" ingin Mitha menghempaskan tangan Sindy yang tiba-tiba sudah memegang lengan Elang mesra.


"Ya." balas Elang singkat.


"Hmmm...kami duluan saja kak, masih ada yang mau dibeli." potong Gea mencoba menyelamatkan mereka dari kekakuan yang tiba-tiba terasa.


"Nggak bisa gitu dong..kita makan bareng dulu. Kan Elang sudah setuju." ajak Sindy terlihat memaksa.


"Siapa sih?" tanya salah satu wanita dibelakang mereka yang datang dengan pasangannya.


"Dia......"

__ADS_1


"Dia adikku." ucap Elang memotong penjelasan Sindy.


__ADS_2