Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Menjaga


__ADS_3

Elang segera membersihakan diri setelah Mitha usai berganti baju di kamar mandi. Mandi kilat karena dia harus menanyakan sesuatu yang penting pada istri cantinya itu. Dia menyambar baju rumahan yang disiapkan Mitha dan segera keluar dari sana.


Iris mata sehitam jelaganya nyaris goyah saat menatap Mitha yang baru selesai mengulung rambutnya ke atas. Lihatlah leher jenjang itu terlihat amat mulus dan membuat dadanya berdesir tak karuan ingin mencercap wanginya. Baju tebal yang dia pilihkan tadi tak sanggup menutupi keindahan tubuh wanitanya yang amat menawan. Tapi dia masih butuh bicara serius dengan Mitha.


" Udah mandinya mas?"


"Ehmm...Mith, aku ingin bicara." Mitha mengikuti suaminya yang duduk di sofa, mengurungkan niatnya turun ke bawah untuk membuatkan minuman hangat sang suami. Rasa dingin yang tadi dia rasakan berangsur menghilang.


"Ya mas, ada apa?" Mata Mitha membulat sempurna saat Elang mengeluarkan tas pink miliknya dari balik bantal sofa. Rupanya tadi Elang menyembunyikan benda itu disana.


"Kau masih menyimpannya?" tanya Elang lirih dengan tatapan tajam menyiratkan ketidaksukaannya pada benda yang ada ditangannya. Mitha yang mengamati ekspresinya tertunduk sedih.


"Ya. Maafkan aku karena sudah menganggapnya....."


"Buang!!" sentak Elang hingga Mitha berjingkat kaget karenanya.

__ADS_1


"Aku tak ingin membuangnya mas. Setidaknya itu pemberian..."


"Kau masih sangat mencintainya ya? hingga akan terus menyimpannya. Kau sudah menikah denganku Paramitha. Tak pantas bagimu menyimpan pemberian orang lain termasuk mantan pacarmu itu." tegas Elang walau dengan suara rendah.


"Mencintainya? dia siapa yang kau maksudkan mas? dan ya...mantan pacar...siapa yang kau maksudkan?"


"Siapa lagi? Andra permana tentunya."


"Benda itu...Andra tak pernah memberikannya padaku." sanggah Mitha serius. Elang kembali terkekeh mendengarnya.


"Baguslah, ternyata kau begitu mencintainya hingga menyimpan benda bak harta warisan saja."


"Dulunya iya, tapi sekarang tidak lagi. Ternyata ini bukan pemberiannya." sahut Mitha tak bersemangat. Setetes air mata jatuh ke pipinya. Wanita muda itu begitu kecewa. Tangannya bergerak cepat membuka resletingnya dan menarik sebuah baju musim dingin berwarna biru tua dari dalamnya hingga Elang dibuat kaget karenanya.


"Itu...."

__ADS_1


"Ini pemberian mama papa yang katanya dari mas Elang. Sekarang aku tau jika mereka hanya ingin aku bahagia kala itu." Wajah cantik itu terus mengamati pakaian kesayangannya itu dengan wajah sedih. Elang menatap nanar baju itu.


"Aku membelinya pada sebelas desember sembilan tahun lalu di RR store saat mama papa akan kembali ke Indonesia. Saat itu pasti disini musim penghujan, dan aku menitipkan baju itu pada mereka untukmu." Sekarang gantian Mitha yang terkesiap mendengar penuturan suaminya . Jadi benar baju ini pemberian sang suami. Bukan akal-akalan mama papanya seperti dugaannya tadi.


"Jadi...baju ini benar pemberian mas Elang?" tanyanya tak percaya. Elang mengangguk.


"Aku membelinya dari gaji pertamaku bekerja di perusahaan kakek. Entah kenapa hanya kau yang kuingat saat itu gadis kecil." Tangan itu sudah berpindah ke pucuk kepala sang istri lalu membelainya sayang.


"Aku tak tau kau masih menyimpannya hingga sekarang." lanjutnya dengan senyum mengembang. Berlahan diraihnya tubuh langsing itu ke dalam pelukannya.


"Aku selalu memakainya saat merasa amat kedinginan. Aku...selalu membayangkan jika kau yang memelukku." Sebuah kecupan mendarat di kening sang wanita yang juga mendekap baju itu diantara tubuh mereka.


"Kau...masih memakainya? apa masih muat ditubuhmu hemm??" Tentu Elang harus menanyakannya. Dia membelikannya saat Mitha masih kelas satu SMP.


"Ya. Aku selalu menguruskan tubuhku agar masih bisa memakainya saat kangen mas Elang." Elang memeluk wanitanya amat erat. Sebuah senyum terkembang dibibir tipisnya. Sampai sebegitunya Mitha menjaga pemberiannya?

__ADS_1


"Sekarang tak perlu begitu. Aku akan selalu memelukmu tanpa kau menguruskan tubuhmu honey." dan lagi-lagi sebuah ciuman mengakhiri sesi perdebatan panas mereka. Jika tadi Mitha salah tingkah, tidak dengan sekarang. Wanita muda itu terlihat agresif membalasnya.


__ADS_2