
"Cantik...." puji Elang seraya mengelus kedua lengan istrinya yang sedang mengoleskan krim malam di wajah cantiknya. Bibirnya bahkan sudah mengendus leher jenjang itu dan mencercapnya hingga meninggalkan bekas merah disana. Mitha yang merasakan hembusan nafas yang terasa menggelitik itu mengelus kepala Elang lembut, membiarkan sang suami melakukan apapun yang dia mau.
"Aku menginginkamu Paramitha..." bisiknya dengan suara serak yang berubah berat karena dilanda nafsu. Sedikit gerakan saja sudah membuat Mitha berpindah ke tangannya yang langsung menggendong wanitanya ke atas ranjang tanpa perlawanan. Mitha yang sudah diliputi nafsupun hanya terus mengerang dan memeluk erat leher suaminya tanpa mau lepas sedikitpun dari sana. Pun saat tangan besar itu terus menelusuri lekuk tubuhnya dan menyingkirkan seluruh pakaiannya yang melekat di tubuh putihnya tanpa sisa.
"Apa mas Elang sungguh tak ingin tau yang terjadi sebelum ini padaku? aku akan...eemmpphhh...." sebuah ciuman panas kembali membuat bibir mungil Mitha tak dapat bicara. Jangan tanyakan bagaimana bibir tipis Elang yang menyerangnya tanpa henti, lidahnya bahkan sudah membelit lidah sang wanita hingga mereka tersengal kehabisan nafas karenanya. Mitha kembali memejamkan matanya, tak sanggup menatap bola sehitam jelaga yang menatapnya penuh damba dengan kabut nafsu yang mengurungnya. Pun saat lidah pria itu bergerak seduktif mengecupi kedua dadanya bergantian dia hanya sanggup melengguh pelan hingga pria itu beralih menyentuh inti tubuhnya yang mungkin sudah basah diterjang gelombang hasrat. Mitha hanya sanggup mendesah, mencoba menekan kepala sang suami yang masih setia bermain disana saat hampir mencapai puncaknya.
Elang tersenyum mendapati tubuh mulus istrinya melengkung keatas mendapati pelepasan pertamanya. Elang bergerak mensejajarkan tubuhnya dengan Mitha, mengelap keringat yang merembes dari pori-pori kepalanya dan menciuminya penuh kemesraan.
"Apa kau siap?" bisik Elang yang mendapati anggukan dari istri cantiknya yang dengan segera mengalungkan tangannya di leher lelakinya. Elang segera memposisikan dirinya untuk bersiap memasuki tubuh sang istri. Hentakan lembut yang dilakukannya bahkan gagal, sama saat pertama kali mereka bercinta. Ambang kesadaran sang pria yang menipis membuatnya tak sabaran dan kembali berusaha menghujam kuat.
"Aahh...." pekik kecil Mitha saat sang suami telah benar-benar memasuki dirinya secara sempurna. Untuk sesaat kesadaran Elang kembali. Pria berparas tampan rupawan itu menahan gerakannya hingga Mitha membuka mata karena ingin memastikan ada apa dengan suaminya.
"Sayang, apa ini sakit?" hampir saja Mitha meneteskan air matanya saat Elang bertanya dengan begitu lembut padanya. Seulas senyum terpatri di bibir merah mudanya yang langsung mengecup rahang tegas lelakinya.
__ADS_1
"Tidak." ucapnya sebelum menjauh dari si pria yang serasa kembali mendapatkan angin segar. Mitha yang melihat Elang seperti orang melamun bergerak aktif memancing hasrat lelakinya yang sedikit kehilangan fokus bercinta mereka.
"Kau nakal sekali gadis kecil." bisik Elang seraya tersenyum kecil. Bagaimana tidak? Wanitanya yang semula pemalu dan sangat polos berani menyesap lehernya hingga meninggalkan bekas seperti yang dia perbuat di leher sang istri. Mitha menunduk malu. Tapi samua tak berguna lagi karena sang Elang sudah kembali meraup bibirnya penuh hasrat, mamacu miliknya hingga ke dasarnya hingga lagi dan lagi Mitha terus mendesah.
"Maasss...."
"Mitha sayaaang..aahh...kau sempit sekali sayang..." teriak mereka hampir bersamaan saat mencapai puncak sebuah penyatuan. Elang kembali mengecup kening wanitanya, kali ini sangat lama sembari mengelus pipinya mesra.
"Terimakasih sayang." lirihnya sebelum menggulirkan tubuh gagahnya kesamping, mengatur nafas yang tersengal hingga baik dia atau Mitha kembali pada keadaan semula. Elang membiarkan Mitha menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa percintaan mereka walau dia ingin mengatakan jika itu tak perlu. Dia masih menginginkan lagi permainan berikutnya. Bodoh jika selama ini dia mendiamkan Mitha setelah sah menjadi suaminya. Istri kecilnya itu terlalu sayang untuk dibiarkan tanpa belaian dan sentuhan mengingat gaya permainannya yang memanas walau baru dua kali bermain dengannya. Mitha punya potensi membuatnya tergila-gila akan pelayanannya di atas ranjang. Elang segera masuk ke kamar mandi begitu istrinya keluar dari sana dan menyelesaikan pembersihan dirinya dengan cepat.
"Mas Elang butuh sesuatu?"
"Aku butuh kamu. Sini!!" Elang yang berbaring menyamping menepuk sisi ranjang disebelahnya.
__ADS_1
"Kenapa jauh-jauh sih? tadi kan barusan dekat, pelukan pula." goda Elang membuat pipi mulus Mitha merona.
"Papa sudah memberitau aku segalanya." Dahi Mitha mengerut. Berlahan dia membaringkan tubuhnya dalam pelukan Elang yang bahkan sudah merentangkan kedua tangan menyambutnya.
"Semuanya?" ulang Mitha menatap suaminya dengan bola mata gelisah. Ada ketakutan besar yang bersemayam dalam dirinya.
"Ya. Kecelakaan yang menimpamu saat aku barusan tiba di London dan tak pernah menelepon orang rumah."
"Sekarang mas Elang percaya bukan jika aku belum pernah berhubungan badan dengan siapapun selain denganmu?" Elang mengelus pipi istrinya, sebuah anggukan membuat Mitha begitu bahagia dan dengan segera membenamkan kepalanya ke dada bidang sang pria.
"Jika aku bertemu kuda yang sudah membuatmu cidera itu maka kupastikan kuda itu mendapat balasan setimpal. Berani-beraninya dia membuat istriku begini." kelakar Elang sambil mengelus titik sensitif Mitha. Sebuah kekehan kecil terus berderai dari bibirnya.
"Maafkan aku mas."
__ADS_1
"Maaf? Untuk apa minta maaf Mith?"
"Maaf sudah membuat mas Elang kecewa." kata Mitha penuh penyesalan.