Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Manja


__ADS_3

Kicauan burung yang bertengger di dahan pepohonan sama sekali tak menganggu tidur pulas dua insan yang tidur saling berpelukan pagi itu. Si wanita bahkan sengaja menelusupkan kepalanya di dada lelakinya, mencari rasa hangat dan kenyamanan disana.


Tok


Tok


tok...


Ketukan dipintu membuat salah seorang dari mereka terjaga duluan, sejenak mengembalikan kesadarannya sebelum meregangkan otot kekarnya lalu berjalan terhuyung ke arah pintu.


"Selamat pagi bos, sudah satu jam aku menunggumu dibawah. Hari ini mau masuk kantor atau mau istirahat di rumah dulu. Secara nggak ada yang maksa juga kalau si bos mau bobok cantik sama...ahh ya Tuhan..mataku ternoda!!" pekik Bian yang sempat melirik ke dalam kamar dimana Mitha masih terbaring disana dengan selimut diatas dada. Bukan pemandangan ekstrim memang karena dirinya dan Elang sama sekali tak melakukan apa-apa selain tidur berpelukan. Terus terang pasangan itu sedang lelah jiwa dan raga.


"Sssstttt...bisa diam nggak? Mitha bisa bangun!" sergah Elang sambil menarik mantan sekretaris papanya itu menjauhi pintu kamar. Dia tak tega melihat Mitha kelelahan sejak semalam.


"Bisa. Lepaskan ishh." tepis Bian pada tangan Elang yang membekap mulutnya.


"Jadinya gimana bos? mau masuk atau rehat dulu??"ulang Bian lagi. Untung dia tipe sabar, kalau tidak pasti habis itu kamar si bos dengan gedoran keras. Bagaimanapun Bian selalu amanah pada pesan Abi untuk membantunya mengarahkan dan mengawasi Elang.


"Rasanya aku dan Mitha akan dirumah dulu sampai acara tujuh harian mama selesai. Kasihan Mitha masih capek dan berduka. Untuk sementara ini urusan perusahaan kupercayakan padamu, Bi." ucap Elang pada intinya. Tidak mungkin dia pergi bekerja sedang mamanya baru meninggal tiga hari yang lalu.


"Hmmmm baiklah bos. Untuk acara nanti malam sudah saya pesankan pada lapak baru secara bergantian."


"Itu lebih baik Bi, anggap saja kita berbagi rejeki dengan mereka." Elang memang menyarankan tak mengambil menu resto untuk acara sederhana itu. Dia mengarahkan agar Bian memesan menunya dari pedagang kaki lima yang berjualan disekitar kediaman Abimana. Bukan masalah uang, tapi pada keinginan berbagi rejeki saja. Selain tak perlu repot, keluarga mereka juga bisa membantu sesama.


'"Kalau begitu aku pamit dulu bos."


"Hmmm..jangan lupa kirim laporanmu lewat email Bi."

__ADS_1


"Ohh..tentu saja bos. Permisi." Bian segera undur diri dari sana.


Setelah kepergian Bian, Elang segera memasuki kamarnya kembali. Saat menoleh ke ranjang besarnya, dia tak melihat Mitha disana. Pasti istrinya itu sedang mandi karena terdengar gemricik air dari sana.


"Aaaahhh...." pekik Mitha kaget saat membuka pintu kamar mandi dan tubuh Elang tepat di depannya.


"Mas ngapain sih disitu? bikin kaget saja." sungut Mitha kesal. Niatnya buru-buru mengambil pakaian jadi terhalang tubuh tinggi athletis itu. Yang bikin kesal, bukannya memberi jalan, Elang malah dengan sengaja menghalanginya di depan pintu.


"Aku menunggumu. ck...lama sekali."


"Untuk apa nungguin aku sih?" sengit Mitha makin kesal.


"Masih pagi Mith...jangan terlalu emosi. Aku ini suamimu, bukan asisten rumah tangga atau tukang kebunmu." ucap Elang datar dengan wajah tak suka tentunya. Hal yang membuat Mitha menjadi merasa bersalah.


"Maafkan aku mas." balasnya ragu dengan wajah menunduk. Sebagai seorang istri dia memang tak harus berkata begitu pada suaminya. Bagaimanapun suami adalah imam yang wajib dihormati. Bukannya menjawab permintaan maafnya, Elang malah melewatinya dan masuk ke kamar mandi tanpa berkata-kata.


Kriieett...


"Kamu...." Elang yang baru saja selesai mandi dan membuka pintu tentu saja kaget melihat Mitha yang menunggunya. Gerakannya mengeringkan rambut dengan handuk kecil terhenti seketika.


"Maafkan aku mas." ucap Mitha, tak berani menatap Elang yang berdiri tepat di depannya. Dia sungguh menyesal dengan insiden kecil itu. Hubungan mereka baru saja membaik, dan dia sudah merusaknya dengan perkataan bodoh. Sejenak Mitha dibuat kesusahan menelan ludahnya sendiri kala menatap perus sickpack sang suami yang begitu maskulin.


"Hmmm...sudahlah." Baru saja melangkah pergi, Elang dibuat berhenti saat sebuah tangan sudah melingkar diperutnya, memeluknya dari belakang. Tak tanggung-tanggung, pria itu juga merasakan sebuah tubuh yang sudah melekat erat dengan punggungnya, menggoda.


"Ya Tuhan...kenapa aku seagresif ini..." batin Mitha salah tingkah. Dia tak peduli dikatakan murahan atau sindiran pedas lainnya yang mungkin akan keluar dari mulut suaminya. Dia hanya ingin Elang memaafkannya. Tanpa Mitha duga, tangan besar Elang sudah memegang lembut kedua tangannya yang masih melingkari perut berototnya. Cukup lama mereka terdiam hingga suara bariton itu memecah kesunyian.


"Bisakah kau menyeduhkan kopi untukku? aku ingin minum kopi dan sarapan mie goreng ayam buatanmu." Sontak Mitha melepaskan pelukannya. Hatinya berbunga. Tanpa dijawabpun dia tau jika Elang sudah memaafkannya.

__ADS_1


"Akan kubuatkan mas." ucapnya riang. Ini pertama kalinya suaminya minta dibuatkan sesuatu secara langsung. Mie goreng ayam adalah makanan favorit suaminya dari kecil. Mamanya bahkan sudah mengajarinya bumbu khusus yang digemari putra semata wayangnya itu sejak dulu.


"Tunggu." cegah Elang membuat langkah Mitha terhenti.


"Ada apa mas?"


"Bantu aku mengeringkan rambutku." dan tanpa disuruh Elang sudah duduk didepan meja rias sambil mengulurkan handuk kecil yang tadi dipegangnya.


"Kenapa tidak pakai hair dryer?"


"Aku ingin pakai ini saja." mau tak mau Mitha menerima handuk itu dan mulai menggosok rambut Elang berulang.


"Hmmm selesai." kata Mitha seperti bergumam. Dia segera menyampirka handuk kecil itu pada tempatnya.


"Sisir sekalian Mith." lagi...Mitha dibuat kaget dengan permintaan Elang. Tumben suaminya itu suka menyuruh atau lebih tepatnya bersikap manja padanya.


"Aku? tangan mas Elang sakit?"


"Tidak."


"Kok tumben nyuruh nyisirin rambut?"


"Memangnya tidak boleh sekali-kali dilayani istri sendiri?"


"Euhm...boleh kok. Tapi aneh saja sih kalau...."


"Lama-lama juga biasa." gumam Elang kemudianm

__ADS_1


__ADS_2