Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Raja Onta


__ADS_3

Ijab kabul berjalan lancar. Kini Andra yang sudah meninggalkan meja akad nikahnya menggandeng sang istri untuk menyalami para tamu yang sedang berada di acara ramah tamah dan menikmati hidangan acara. Acara yang dibilang hanya akad nikah sederhana itu nyatanya tak seperti bayangan Elang maupun Mitha. Mereka salah besar karena mengira pernikahan Zahra akan sama sederhananya dengan pernikahan mereka. Sederhana menurut kelas keluarga Andra itu tak sesederhana keluarga Abimana. Mereka bahkan mengundang kerabat, tetangga dan karyawan secara bertahap hingga tamu tak ada habisnya dari jam 10 siang hingga menjelang sore. Untung saja Zahra yang hamil muda masih kuat berdiri meski beberapa kali Andra harus menyuruhnya duduk karena Zahra yang terlihat kecapekan.


Semua yang terjadi sama sekali tak luput dari pengamatan Bian. Sekretaris perusahaan rakasasa Abimana grup itu sama sekali ta mengalihkan pandangannya dari sang adik meski tangannya masih setia menggenggam tangan Gea yang tentu saja terlihat rikuh disampingnya. Beberapa staf kantor perusahaan Permana yang mengenalnya karena beberapa kali terlihat kerja sama tentu saja menggoda sang perjaka tua yang sama sekali tak menghiraukan ocehan mereka. Hanya Gea yang salah tingkah dengan wajah bersemu merah. Cuma berani ngedumel dalam hati. Ingin rasanya mencabik-cabik wajah tampan sang sekretaris yang hanya tebar senyum sana-sini seolah mereka benar-benar pasangan dimabuk cinta. Berulang kali Gea berdoa dalam hati semoga tak ada tetangganya yang yang nyasar kemari dan memotret mereka. Apalagi jika ibunya tau...bisa hancur dunianya esok pagi.


"Maasss...." Elang sontak memegangi tubuh Mitha yang sedikit terhuyung. Hampir saja istrinya jatuh setelah beberapa kali harus ikut menjamu teman-teman kampus mereka yang diundang.


"Saayang duduk saja. Biar para pramusaji yang melayani mereka." bisik Elang ditelinga istrinya. Mitha hanya mengangguk lemah. Keringat dingin membasahi wajahnya. Elang segera berjongkok dan mengelapnya dengan tissu.


"Sebaiknya kita pulang." Tapi Mitha menggeleng. Dia tak ingin menghilangkan moment pernikahan sahabat baiknya itu. Gea yang tau Mitha terduduk segera menyeret Bian mendekat.


"Mith...pucat banget. Jangan-jangan asam lambung kamu kumat. Istirahat gih. Itu ada kamar tamu. Biar aku minta ijin Andra dulu." Gea tentu saja khawatir. Dia sangat ingat saat asam lambung Mitha kumat tahun lalu, gadis itu sampai opname beberapa hari di rumah sakit.

__ADS_1


"Nggak usah Ge...aku nggak pa-pa kok." Tapi Gea tak peduli. Dia menyentakkan tangannya yang digenggam Bian kuat hingga terlepas. Tapi ajaibnya sekretaris Abimana grup itu malah buru-buru memegangnya lagi, malah lebih kuat dari yang tadi. Sama sekali tak menggubris wajah galak Gea. Jika isteinya tak dalam keadaan sakit mungkin Elang akan menggoda mereka.


"Pak Bian maunya apa sih? Lepasin nggak?" Gea yang marah menunjuk tangannya dengan wajah garang. Tapi Bian santai saja menanggapinya.


"Nggak dengar kalau ini perintah? mau dipecat?" ancam Bian juga dengan wajah menyebalkannya. Sekali lagi Gea ingin mencakar wajahnya.


"Ya udah terserah pak Bian saja." dan tanpa ba-bi-bu lagi gadis itu bertindak arogan dengan berbalik cepat dan menyeret Bian hingga hampir terpelanting karena tak siap.


"Dasar tidak waras!!" maki Bian kesal. Anehnya Gea sama sekali tak membalas atau menghentikan aksinya. Siapa suruh pegang-pegang? toh dia juga ingin sesekali membalas perbuatan Bian padanya. Anggap saja impas.


"Kamar? Kalian mau ngapain? Jangan berbuat maksiat dirumahku. Kalau nggak tahan nikah woooiiii!!" Gea melotot balik. Zahra yang ada disamping Andra hingga cekikikan dibuatnya. Melihat gea marah sudah jadi hiburan buatnya.

__ADS_1


"Siapa bilang untuk kami? siapa juga yang sudi sekamar dengan raja onta ini? Jijik!! Tuh buat Mitha. Kecapekan kayaknya." Sontak Andra dan Zahra menoleh pada Mitha yang masih ditemani Elang.


"Apa kamu bilang? raja onta? kau pikir aku ini...ahhh..dasar tidak waras!!"


"Apa? Untung saja tidak kujuluki raja singa! Raja onta itu lebih beriman tau!!" ketus Zahra membuat para tamu yang antri bersalaman menahan tawa karenanya.


"Oke..oke...masuk saja." sahut Andra menghentikan pertengkaran kecil itu kemudian. Gea langsung kembali ke tempat Mitha. Tentu saja adegan gelandang menggelandang tadi kembali terulang. Entah berapa kali Bian memaki hingga menimbulkan senyum di bibir orang sekitar mereka.


"Pak, udah yuk..dibawa masuk aja." Elang sigap membantu istrinya berdiri dan berjalan lambat ke kamar tamu diikuti Bian dan Gea. Sampai di pintu kamar, Mitha berlari ke kamar kecil karena tak tahan menahan sesuatu yang mendesak dari mulutnya. Wanita itu muntah berat hingga Elang panik dan menyuruh Bian menghubungi dokter pribadinya agar datang kesana dan memeriksa istrinya.


Gea juga dengan sigap mengambilkan minyak angin dan menyelimuti sahabatnya itu. Mitha terlihat amat lemah dengan wajah pucatnya.

__ADS_1


"Heh raja onta, kapan dokternya datang?" tanya Gea galak karena hampir lima belas menit dokternya tak juga datang. Eneg rasanya melihat Bian yang terus mondar-mandir tak jelas di depan pintu kamar.


''Dasar cerewet. Rumahnya kan jauh. Paling lima belas menit lagi nyampe sini. Bisa diam nggak sih?" balas Bian meradang. Gea bersungut tak kalah jutek lalu memilih duduk di sofa.


__ADS_2