Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
First


__ADS_3

Tidur singkat, itulah yang dilakukan Mitha sore itu. Hal yang sebenarnya dilarang mamanya. Pamali katanya. Tapi karena paksaan Elang dan tubuh kelelahan, dia tertidur juga. Tubuh lemahnya terasa amat sulit di gerakkan karena ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya.


Mitha melotot kala melihat Elang yang tidur nyaman sambil memeluknya. Berlahan Mitha hendak menyingkirkan tangan itu saat pemiliknya membuka matanya yang memerah.


"Mau kemana hemm?" tanyanya dengan suara serak. Hembusan nafasnya bahkan mengenai leher Mitha, seketika tubuhnya merinding.


"Hampir maghrib kak. Aku harus bangun." sahutnya salah tingkah. Bukannya melepaskannya, Elang malah kembali ke posisinya, memeluk tubuh wanitanya.


"Nanti saja kalau sudah adzan." lanjutnya lagi.


"Sebentar lagi juga adzan kak. Lepas. Aku harus menghangatkan makan malam kakak." ujar Mitha mencari alasan. Bukan apa-apa, detak jantungnya sama sekali tak bisa diajak kompromi. Dia takut Elang mendengarnya dan jadi salah paham.


"Seminggu ini aku menghangatkan makananku sendiri. Lagi pula kenapa kau menghindariku?" Elang yang sudah melepaskan pelukannya berbaring terlantang dan menatap intens kearah Mitha.


"Aku tidak menghindarimu."


"Lalu kenapa kau tidur dikamarmu? bukannya aku sudah bilang kita tidak boleh pisah kamar."

__ADS_1


"Itu hanya berlaku jika papa dan mama ada dirumah, jika tidak maka kita akan tetap menjadi seperti sekarang, kembali ke stelan pabrik." sahut Mitha cuek sambil bangkit dari duduknya. Tapi seketika tubuhnya ambruk kala sebuah tangan besar menariknya. Pekikan Mitha menggema di dalam kamarnya yang dipenuhi pernak-pernik bergambar si kucing pintar, doraemon.


"Apa katamu tadi? setelan pabrik? Kau pikir kita produk ponsel?" ketus Elang dengan mata tajam. Kilatan kemarahan terlihat jelas disana. Mitha hanya tersenyum seadanya.


"Bukannya begitu kenyataannya? diawal pernikahan kita, bukannya kakak yang minta agar kita berpura-pura?" sindir Mitha pedas. Elang terdiam. Bayangan kala perkataan itu muncul dari bibirnya berkelabat. Dia pikir Mitha akan lupa, tapi nyatanya Mitha masih mengingatnya.


"Itu dulu. Sekarang aku tidak mau itu."


"Oh ya? apa kakak lupa, para pria selalu memegang kata-katanya. Sekarang aku ragu apa kakak seorang pria." Hanya sekali helaan nafas kala tubuh semampai Mitha berguling dan tubuh kekar Elang mengungkungnya dengan tangan ditekan diatas kepala. Pria itu mendekatkan wajahnya.


"Aku akan membuktikan jika aku ini lelaki." ujarnya seraya mencium bibir mungil Mitha yang hanya sanggup melotot dengan tubuh menegang. Ini...pertama kalinya ada pria yang menciumnya, ciuman itu bahkan sudah menjadi ******* yang bercampur gigitan kecil membuat sesuatu dalam diri Mitha bergejolak. Mitha hanyut dalam pengalaman pertamanya hingga sebuat tangan besar meremas dadanya.


"Kenapa? apa pacarmu itu tidak pernah menciummu? Munafik sekali." ejek Elang seraya menyeka bibirnya yang basah. Mitha tak menyahut. Dia memilih segera pergi keluar.


Andra...beberapa tahun pacaran dengannya tak membuat pemuda tampan idola sekolah itu berbuat kurang ajar padanya. Dia bahkan sukses menjadi teman dan kakak yang melindungi Mitha dimanapun. Pemuda itu juga tak pernah meminta hal aneh padanya. Pacaran sehat, mungkin itu yang keduanya terapkan. Pergi nonton, antar jemput dan jalan berdua adalah agenda rutin mereka. Ahh...Mitha tiba-tiba rindu padanya.


"Apa kau ingat mantan pacarmu itu hingga terus tersenyum begitu?" deg....Mitha menatap Elang yang entah sejak kapan sudah duduk manis di depannya. Pria itu bersikap amat tenang, seperti tak pernah terjadi apapun diantar keduanya.

__ADS_1


"Ya." sahut Mitha lemah. Dia mengangkat masakan yang sudah dia hangatkan menuju meja makan.


"Makanlah, semua sudah siap." serunya.


"Kau mau kemana?" tanya Elang dengan wajah cemberut. Dia tidak suka makan sendirian.


"Belajar, besok sidang skripsi."


"Nanti saja. Temani aku makan." dan Mitha yang sudah lesu menghentikan langkahnya, berbalik dan duduk di dekat Elang. Tangan terampilnya bergerak lincah mengambilkan makanan untuk suaminya. Percuma menghindar, Elang pasti akan mempersulitnya.


Sebuah senyum kecil menghiasi bibir Mitha kala suaminya makan dengan lahap. Walau dengan nasi porsi kecil, tak tanggung-tanggung, dia bahkan menghabiskan semua hidangan yang dia buat tanpa sisa setelah Mitha menolak makan. Mitha segera membersihkan meja dan mencuci bekas makan suaminya sebelam naik ke lantai dua.


"Kakak ngapain kesini?" Elang hanya memasang wajah dingin kala Mitha bertanya. Sudah jelas dia ingin tidur dikamar Mitha, kenapa gadis itu terus bertanya?


"Tidur."


"Kamar kakak disana." tunjuk Mitha di kamar sebelahnya. Elang yang tak merespon malah menerobos masuk dan duduk diranjang mitha.

__ADS_1


"Kak, tolong keluarlah, jangan ganggua aku. Aku butuh belajar. Besok adalah hari penentuanku, aku tak ingin gagal." ujar Mitha memelas.


"Memangnya aku menganggumu apa? Aku hanya akan tidur tanpa suara. Kau bisa belajar disana. Atau kau takut jantungmu berlomba jika ada aku?" Mitha berdecih sebal sebelum berbalik menuju meja belajarnya dan mulai membuka bukunya.


__ADS_2