
Elang, Mitha dan Gea bergerak lamban meninggalkan ruang ICU setelah Bian datang menjemput. Sekretaris gagah itu segera membukakan pintu bagi sang atasan dan istrinya lalu kembali ke kursi pengemudi setelah Gea masuk dan duduk di sampingnya.
"Bi, segera kumpulkan berkas kejahatan Permana pada perusahaan kita beberapa tahun lalu juga kumpulkan saksi yang mengetahui tentang kejadian..."
"Lusia. Saya sudah menemukannya." kata Bian ringan, namun membuat Elang terkejut. Lusia juga merupakan korban yang bisa memberatkan Permana saat ini. Andra benar..papanya itu tak layak dibiarkan hidup bebas.
"Berhenti Bi!!" sontak Bian menginjak rem, untung mobil mereka tak melaju terlalu kencang hingga tak begitu ada benturan saat berhenti tiba-tiba. Tapi mau tak mau kaget juga berada dalam posisi itu.
"Ada apa bos?" tanya Bian agak kesal. Perintah Elang begitu mengagetkannya.
"Lusia katamu? sepupu Andra yang hilang itu?" Bian mengangguk. Tangannya bergerak menyerahkan beberapa lembar kertas pada Elang. Laporan penyelidikan Lusia yang baru saja dia dapatkan beberapa menit lalu.
"Dia ada di Bali?" Lirih Elang seraya menekuni laporan itu data diri Lusia. Gadis itu terlihat manis dalam balutan baju tradisional daerah itu.
"Setelah sembuh dari depresi dan kehilangan bayinya Lusia bekerja sebagai guide lokal disana. Selama ini dia selalu berpindah-pindah di wilayah Bali, NTT, NTB maupun Sumbawa agar keberadaannya tak terlacak oleh siapapun. Keluarganyapun kehilangan jejaknya hingga sekarang.
"Kerja bagus Bi, segera kirimkan lewat email pada Andra."
"Tugasku...kenapa banyak sekali?" gerutu Bian namun di dengar jelas oleh Elang yang tentu saja langsung terpancing untuk menjawab.
__ADS_1
"Ada Gea yang akan membantumu. Kalian satu tim kan?"
"Dia lagi...." Keluh Bian disambut pelototan tajam Gea yang seakan tak terima.
"Memangnya pak Bian mau dibantu siapa selain saya?" ketus Gea dengan bibir mencebik kesal.
"Bos, bisakah kau mencarikan aku asisten yang lebih ramah, sopan dan manis? wanita ini benar-benar bar-bar." protes Bian tak kalah kesal.
"Sayangnya tidak untuk sekarang Bi. Nikmati saja kolaborasi kalian." Baik Gea maupun Bian sama-sama berdecak kesal karena keputusan mutlak dari Elang. Entah kenapa kedua sekretaris itu sebentar baik, sebentar musuhan.
"Turunkan aku disini saja." pinta Gea tegas. Bian melengos melihatnya.
"Kau mau dikuntit berandalan di jalan jika berjalan sendirian?"
"Naksir kamu? Idiihh...semua wanita di kolong langit ini musnah sekalipun aku nggak bakalan naksir cewek jadi-jadian kayak kamu." sarkas Bian dengan kekesalan yang memuncak.
"Saya pegang ya kata-katanya pak Bian. Suatu saat jika pak Bian jatuh cinta maka saya juga akan menolak pak Bian mentah-mentah." Ancam Gea tak kalah marah. Bukannya balas marah, Bian malah tertawa ngakak hingga matanya berair.
"Heh gadis jadi-jadian. Jangan ngarep kamu. Noh...cuci muka lalu bercermin biar tau kalau kamu tuh nggak ada cakep-cakepnya!"
__ADS_1
"Terserah pak Bian! Pak Elang, Mitha, aku pulang dulu ya.. " Pamit Gea lalu segera turun. Bian yang menyadari Gea turun beraksi cepat, menarik tangannya hingga gadis itu meringis kesakitan karena kepalanya terantuk pintu.
"Pak Bian apaan sih!"
"Kamu keras kepala banget!"
''Saya mau pulang pak!"
"Iya saya antar!!" Gea menarik nafas jengah lalu menatap Elang tajam.
"Nggak perlu diantar pak. Itu rumah saya. Bapak mau antar saya kedalam trus nglamar saya sekalian gitu?" Seketika Bian menatap sekitarnya. Benar..itu rumah Gea. Kenapa dia sampai lupa...argghh...benar-benar memalukan! spontan dia melepaskan tangan Gea lalu mendorongnya agar segera pergi. Tanpa banyak kata dia juga langsung menaikkan kaca lalu tancap gas dari sana.
"Eehmmm sayang...sepertinya ada orang yang kemakan omongannya sendiri deh." Mitha yang masih bersandar di pelukan Elang hanya tertawa kecil.
"Kak Bian sudah waktunya menikah mas. Biarkan saja kenapa sih?"
"Bos..kalian ngeledekin saya?" timpal Bian masih dalam ekspresi dongkol.
"Hanya motivasi biar bujang lapuk kayak kamu cepat menikah Bi." sahut Elang ringan.
__ADS_1
"Tapi jangan yang seperti tadi bos. Galak." Elang dan Mitha tertawa lepas.
"Yang penting baik hatinya kak. Gea itu sebenarnya baik lho. Kak Bian saja yang sering membuatnya kesal." Bian hanya diam sembari melanjutkan perjalanan mereka ke rumah.