
Kedua manik hitam pekat itu membola melihat sosok cantik yang barusan keluar dari kamarnya. Setelan blazer dan celana bahan warna biru tua yang melekat pas ditubuh tinggi semampainya membuat kesan dewasa yang elegan. Lihatlah bros dari mutiara asli bergambar angsa putih itu tersemat manis di dada kanannya. Rambutnya yang dulu panjang sepinggang telah dipangkas cantik sedikit dibawah bahu dengan layer menarik dan modis. Elang terpana, menikmati keanggunan sang wanita yang berjalan menuruni tangga tanpa memperhatikan sekitarnya.
"Kak, aku sudah siap." lapor sang wanita dengan senyum manisnya. Ingin rasanya Elang menariknya kembali ke kamar dan menyembunyikan keelokan Mitha agar tak dapat dinikmati siapapun selain dirinya. Tapi itu mustahil. Wanitanya mengajak ke kantor pagi ini. Dia juga sudah berjanji menemaninya. Bukannya lelaki harus menepati janji?
"Nah kok ..baju kita samaan ya kak?" Sekarang Elang juga baru sadar jika setelan jas dan celananya senada dengan milik Mitha. Senyum samar membentang indah di sudut bibirnya.
"Apa aku perlu ganti baju?" gumam Mitha tak enak hati. Dia cuma takut Elang punya pikira berbeda pada ketidaksengajaan ini.
"Itu tidak perlu. Ayo berangkat!" Elang sudah menarik lengan Mitha dan membawanya ke mobil. Tanpa bicara mereka menuju S&M.
Mitha sedikit berdecak kagum kala mobil Elang memasuki halaman gedung berlantai tiga yang berdiri kokoh ditengah-tengah halaman luas yang mengelilinginya. Konsep taman dan keluarga begitu kental mewarnai tiap sudut resto yang terbilang mewah untuk hidangan dengan harga ramah dikantong. Tak heran jika resto ini selalu ramai dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat. Mamanya bahkan pernah menyebut penghasilan fantastis dari induk resto mereka ini.
"Ini resto pertama mama kita. Bangunan awalnya sudah begini sejak mereka buka usaha disini. Mama Maria hanya memugarnya agar sesuai dengan perkembangan jaman dan minat konsumen. Masuklah...kita bisa berkeliling sebentar sebelum para pekerja dapur dan stafmu datang." ajak Elang tetap mengenggam tangan lembut Mitha tanpa berusaha melepasnya walau beberapa kali Mitha sudah berusaha.
"Sepertinya kakak sangat paham sejarah resto ini."
__ADS_1
"Aku lahir sepuluh tahun lebih dulu darimu. Sedikit banyak aku tau perjuangan mama Sarah dan mama Maria mendirikan tempat ini." Mitha hanya mengangguk. Dia lebih banyak menatap suasan asri disekitarnya dibanding mendengarkan ucapan Elang. Dalam hati dia memuji mama mertuanya yang amat pintar menyulap tempat itu menjadi sangat nyaman. Maria memang putri seorang pebisnis andalan yang mewarisi sifat ayahnya. Mereka terus saja menjelajah hingga ke bagian produksi alias dapur besar dibelakang gedung kantor S&M. Benar-benar bersih dan rapi.
"Ada berapa orang yang bekerja disini kak?" tanya Mitha penasaran. Dapur sebesar ini...dua lantai lagi. Entah berapa orang yang berada disana setiap harinya.
"Hampir 50 orang."
"Hhhh...apa?? 50 orang????!!" tentu saja Mitha terkejut karenanya. Semua benar-benar diluar ekspektasinya. Dari rumah dia berpikir hanya akan memimpin resto dengan beberapa pekerja seperti dikafe tempatnya bekerja dulu. Tapi nyatanya???
"50 orang dibagian produksi, 20 karyawan resto sistem sift , empat security, enam orang cleaning servis dan sepuluh staf kantor." Mitha menghentikan langkahnya. Mencoba menelaah kata-kata kakak sekaligus suaminya itu.
"Berlebihan? tentu saja tidak. Semua sudah dipertimbangkan dengan matang. 50 orang bagian produksi juga sudah diatur secara baik oleh mama. 20 orang koki dan asistennya yang juga pakai sistem shift serta 30 orang pekerja reguler yang bekerja dilantai atas untuk membuat frozen food." Tentu saja Elang sedikit gemas dengan istrinya. Dia putri pengusaha besar walau sudah almarhum, juga menantu keluarga Abimana yang terkenal di dunia bisnis. Kenapa dia sama sekali tak tau bisnis orang tuanya? kemana saja wanita disampingnya itu selama ini?
"hmmmm..." hanya gumaman yang keluar dari bibir Mitha. Dia masih sangat sibuk dengan jalan pikirannya sendiri.
"Apa kau sama sekali tak pernah belajar dari mama?" Mitha melirik Elang sekilas.
__ADS_1
"Mama tak akan mengijinkan aku."
"Tapi kenapa?" buru Elang heran. Dia sangat tau siapa mamanya. Wanita yang melahirkan dirinya itu bukan tipe kolot hingga melarang wanita bekerja.
"Mama hanya ingin aku menjadi istri yang baik, ibu yang baik pula. Aku tak perlu bekerja karena suamiku nantilah yang akan mencukupi kebutuhanku."
"Seekstrim itu?"
"Ya."
"Mama terlalu percaya diri soal suamimu." tukas Elang terkekeh.
"Karena mama tau suamiku adalah putranya. Mama begitu berharap kakak seperti bayangannya. Menjadi suami terbaik yang akan menemaniku hingga akhir hayat." tutur Mitha berbisik. Bayangan Maria melintas dibenaknya. Tak terasa setete air mata jatuh membasahi pipinya.
"Aku kangen mama." lirihnya. Elang yang semula diam bergerak merengkuh wanitanya, membiarkan dia menangis di dalam dekapannya.
__ADS_1
"Menangislah hingga beban itu berkurang. Setelahnya, mari ke atas."