
"A...ak...aku? ke..kenapa a..aku?" ujar Mitha tergagap. Wajahnya yang semula penuh ekspresi sedih, menahan tangis dan gundah seketika berubah bingung. Beberapa kali dia mengerjabkan matanya, mencoba mencerna ucapan Elang. Jari telunjuknya juga masih mengarah pada wajahnya tanpa sempat diturunkan.
Takut salah dengar, atau tepatnya salah paham. Apa tidak salah jika Elang menyebut dirinya adalah sosok cinta pertama pria itu?
"Mas jangan bercanda." Mitha mencebik kesal saat dirinya sudah mendapati kesadarannya kembali. Dia tau pasti Sindy dan Elang pacaran sejak kelas dua SMA, saat itu dia masih anak-anak dengan rambut dikuncir dua yang lucu dan menggemaskan dengan seragam merah putihnya, kelas dua SD.
"Apa selama ini aku pernah bercanda gadis kecil?" lirih Elang dengan mata tajamnya. Elang benar, dia tak suka bercanda. Mirip papanya. Pria di depannya itu selalu menampilkan ekspresi serius. Tapi sejujurnya itulah yang membuat Mitha jatuh cinta. Aura tegas, smart dan protektif selalu melekat pada lelaki yang bahkan sudah dikaguminya dari kanak-kanak dulu. Salahkah dia yang selalu bermimpi bisa menikah dengan pria seperti Elang? tentu saja berharap jika pria itu Elang saja. Bukan sosok lain.
"Aku bukan anak kecil mas." hardik Mitha makin kesal. Memang itu kenyataannya bukan? dia sudah sarjana juga menikah sekarang. Mitha bukan lagi bocah kecil seperti yang disebut suaminya tadi.
"Aku tau. Gadis kecilku bahkan sudah sangat dewasa dan mendesah keras beberapa waktu lalu." sontak wajah Mitha memerah. Bayangan malam pertama romantis yang berakhir tragis. Amarah dan tuduhan menyakitkan Elang kembali berkelebat. Setetes air mata jatuh di pipi mulusnya. Lagi dan lagi Elang menghapusnya lalu memeluk wanitanya. Menyadarkan kepala itu di dadanya seraya mengelus lembut kepalanya.
"Kenapa kau menangis hemm?" tanyanya lembut. Mitha masih saja terisak.
"Kau terlalu banyak menangis hari ini. Tidurlah." ucap Elang sebelum Mitha melepaskan pelukannya agak kasar lalu menatap matanya berani.
"Harusnya mas tidak perlu berkata seperti itu untuk menenangkan hatiku."
"Mengatakan apa?"
"Cinta pertama."
"Apa ada yang salah?"
"Tentu saja salah. Bukan aku orangnya." bantah Mitha berang. Kesedihan dalam hatinya sudah beralih kembali ke mode sakit hati.
"Kalau bukan kau lalu siapa?"
"Tentu saja...."
__ADS_1
"Sindy??!" potong Elang cepat sebelum istrinya menyelesaikan kalimatnya. Pria itu terkekeh geli. Entah kenapa tiba-tiba dia berjalan ke lemari pakaiannya, membuka kotak khusus disana dan mengeluarkan sebuah album foto lalu membawanya naik bersamanya ke ranjang.
"Kemarilah." Mau tak mau Mitha mendekat, menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang seperti yang dilakukan Elang.
"Lihat." Wajah tampan itu mulai tersenyum tipis saat album itu terbuka. Mitha saja sampai melotot melihat lembar demi lembar yang terpajang rapi disana. Foto dirinya dari lahir hingga kuliah ada disana.
"Ba...bagaimana bi..bisa mas mendapatkannya?" tanyanya terbata.??? netra coklat terang itu terbelalak lebar menuntu penjelasan. Tentu saja dia heran. Sepuluh tahun lebih Elang meninggalkan Jakarta, tak pernah sekalipun suaminya itu ingin menelepon atau sekedar menanyakan keberadaannya hingga dirinya sampai pada satu kesimpulan jika Elang memang membencinya. Hanya foto-fotonya yang sering dia lihat saat mama papanya baru berkujung kesana. Foto yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Mama dan papa yang mengirimkannya." jawabnya enteng.
"Tapi untuk apa?" lagi dan lagi Mitha sangat ingin tau. Elang menangkup kedua pipinya dan menatapnya dalam.
"Karena kau calon istriku."
"Aku?"
"Ya. Sejak aku kecil mama yang selalu mengatakan jika kau adalah calon istriku nanti. Maka itu aku harus menjagamu. Aku yang salah paham jadi menuduhmu yang tidak-tidak dan meninggalkan rumah." kenang Elang dengan tatapan menerawang.
"Lalu kak Sindy? Kalian pacaran dari SMA kan?"
"Hanya teman dekat."
"Tidak ada pertemanan yang tulus dari seorang pria pada wanita mas."
"Bagaimana jika kukatakan posisiku dengan Sindy sama dengan posisimu dengan Andra?" Mitha terdiam. Dia menerima Andra bukan karena perasaan cinta atau tingkat kenyamanan seperti yang dia rasakan terhadap Elang. Tapi lebih pada rasa kasihan karena selama ini Andra sudah terlalu baik padanya.
"Sindy adalah satu-satunya temanku. Dan aku tidak bisa menyakiti hatinya saat itu."
"Benar-benar tidak masuk akal."
__ADS_1
"Bagian mana yang tidak masuk akal hemm?" dahi Elang mengerut kesal.
"Aku masih SD. Mana mungkin mas jatuh cinta pada anak SD?"
"Aku tidak tau. Yang aku tau...terasa ada yang hilang saat jauh darimu."
"Itu bukan cinta."
"Lalu apa?"
"Entahlah."
"Baik. Tak usah membahas masa lalu atau bertanya alasanku karena aku tidak tau. Sekarang cukup kau selalu disampingku, mencintaiku dan jangan meninggalkan aku. Besok kita kembali ke Jakarta." pungkas Elang tak terbantah.
"Secepat itu?" tanya Mitha tak percaya. Untuk apa dia susah-susah membawa koper jika hanya semalam saja berada disana? dan lagi suasana duka masih terasa di kediaman Larsons itu. Papa mereka juga belum pulih benar untuk ditinggalkan.
"Kita harus mengadakan acara tahlilan mama hingga enam hari kedepan. Kasihan Bian dan Gea jika mereka harus mengurusnya seperti malam ini."
"Jadi mereka sudah menggelar tahlilan dirumah?" Elang mengangguk. Mitha masih terpana melihat suami dinginnya itu. Pria itu memang penuh kejutan.
"Mitha...." Panggil Elang lembut.
"Ya."
"Kita anak-anak papa mama yang punya kewajiban yang sama. Mulai saat ini kita harus saling menjaga. Tidak akan ada perceraian, aku bersumpah untuk itu."
"Tapi ada syaratnya..."
"syarat??" ulang Elang meyakinkan.
__ADS_1
"Pecat Sindy sebagai sekretarismu."