
Cukup lama Elang terlelap, dia membuka matanya dan memindai jam dinding kamar. Tentu saja bergambar sikucing biru, doraemon. Jam 11 malam. Dia melirik Mitha yang masih setia membaca dimejanya. Elang menggelengkan kepalanya. Ternyata Mitha tipe ambisius juga. Dia saja tak segila itu saat mau sidang skripsi. Pria itu bangki dan keluar kamar.
Langkah panjang membawanya ke dapur. Dia mulai mencari-cari bahan makan dikulkas lalu memasaknya. Usai itu dia kembali bergerilya mencari letak kopi susu sachet dan menyeduhnya, lalu membawanya keatas.
"Minumlah." hampir saja Mitha berjingkat kaget saat suara Elang begitu dekat di samping kanannya. Dia terlalu fokus hingga tak menyadari perginya Elang hingga balik lagi.
"Kakak mengagetkanku." gumamnya.
"Apa kau tidak jenuh disini sejak jam 7 tadi?"
"Aku belajar."
"Aku tau, tapi kau juga butuh mengistirahatkan otakmu. Setidaknya minum kopi ini dulu. Kau juga butuh asupan karbohidrat. Aku buatkan kentang goreng."
"Kakak tak perlu serepot itu."
"Ini hal biasa bagiku. Ayo." Elang membawa nampannya ke arah balkon diikuti Mitha. Tanpa aba-apa, pria tampan itu meletakkan makanannya dan duduk di sofa. Mau tidak mau Mitha mengambil tempat disisinya lalu meminum kopi buatan Elang.
__ADS_1
....glek.....
Rasanya manis dan nikmat. Dia bahkan dua kali menyeruputnya karena merasa pas dilidah. Herannya kenapa dia merasa apapun yang dibuat atau dimasak Elang pas dilidahnya dan selalu membuatnya tergiur? Sesaat kemudian dia melatakkan cangkir besarnya karena masih terlalu panas.Tapi tak dapat dipungkiri jika rasa panas itu membuat sensasi baru padanya. Jika dipikir-pikir Elang sangat perhatian dan tau apa yang dia butuhkan.
"Seperti mesin, otak kita juga butuh istirahat dan asupan bahan bakar. Jadi jangan terlalu memaksakan. Lagi pula apa yang perlu kau pelajari? kau sendiri yang menyusun skripsinya, secara naluriah kau hafal semuanya. Jadi tenang dan percaya dirilah."
"Tapi kak...."
" Sudah, ikuti saja kata-kataku. Kau hanya butuh tenang dan istirahat."
"lalu kenapa kakak bikinin kopi? bukannya istirahat yang ada aku malah bergadang nantinya." protes Mitha sewot.
"Maksud kakak...kita joinan gitu?" dan tanpa ekspresi Elang mengangguk, membuat Mitha terperanjat karenanya.
"Eng...tapi aku sudah meminumnya kak. Biar aku bikinkan lagi untuk kakak." tentu saja Mitha jadi tak enak hati karenanya. Kopi itu sudah dia minum duluan, artinya Elang akan minum sisanya dan itu amat dilarang oleh mamanya karena dinilai tidak sopan. Tau begini dia akan minum belakangan saja tadi.
"Tidak usah. Lagian kamu sehatkan? Nggak kena HIV, hepatitis atau..."
__ADS_1
"kakak apaan sih? aku sehat. Nggak penyakitan kayak doa kakak tadi."
"Lha terus apa masalahnya kalau kita joinan? Nggak masalahkan?" sahut Elang sambil mengangkat cangkir dan meminum kopi buatannya sendiri. Setelahnya tangan besarnya mengambil piring dan menyuapkan kentang yang sudah dicelupkan ke saus pada Mitha yang seketika dibuat gelagapan karenanya.
"Aku...aku bisa makan sendiri kak." ujar Mitha lirih sambil mencoba meraih kentang ditangan Elang, tapi pria itu menariknya hingga Mitha urung mengambilnya.
"Turuti perkataan suamimu, makan." Elang menepis tangan Mitha dan bersikeras menyuapkan kentang itu ke mulut istrinya. Mau tidak mau Mitha menerima dan mengunyahnya. Gurih. Itu kata pertama yang ingin dia ucapkan. Kentang itu terasa lain dengan perpaduan bumbu yang pas dilidah.
Tak ingin makan sendirian, Mitha yang merasa tak enak hati segera mengambil potongan kentang itu dan menyodorkannya di bibir Elang, bola mata hitam itu melebar. Berlahan dia mendekat dan membuka bibir merahnya, menerima suapan Mitha. Mereka menghabiskan sepiring kentang itu dalam diam.
"Kak, lihat...bintang bertebaran dimana-mana." pekik Mitha menunjuk gugusan bintang dilangit kelam. Gadis itu begitu takjub hingga berdiri dan memegang pembatas balkon sambil mendongak ke atas. Bibirnya tak henti-hentinya mengucap kekaguman.
"Mau berapa lama kau menatap bintang hem??" Mitha seketika berbalik kala mendengar suara Elang sangat dekat dibelakangnya.
"Maaf...aku sangat suka langit penuh bintang kak."
"Kalau begitu duduklah. Kau bisa menikmatinya dari sini." tunjuk Elang pada sofa mereka. Mitha menurut dan duduk di dekatnya. Tangan kekar Elang membantangkan selimut untuk menutupi tubuh Mitha.
__ADS_1
"Kakak...." Ada sesuatu yang terasa hangat dilubuk hati Mitha. Elang terlalu manis padanya malam ini. Apa dia bisa berharap lebih dari sikap suaminya kali ini?
"Udara sangat dingin. Aku takut kau masuk angin." Hanya itu yang keluar dari bibir Elang, selepasnya dia mengikuti arah pandang Mitha, mengagumi langit. Mitha mengulum senyum tipis disudut bibirnya. Perhatian Elang sudah membuatnya sangat bahagia.