
Elang hanya diam saat Mitha kembali meminta maaf karena banyak kesalahpahaman yang menyinggung hati Elang hari itu. Suaminya itu sudah terlalu baik padanya hari ini. Dari teman-temannya dia jadi tau jika Elanglah yang mengundang mereka. Suaminya itu bahkan membelikan tiket pada Andra dan Zahra agar pulang ke Indonesia tanpa sepengetahuannya. Tak hanya itu, dia juga mempersiapkan tasyukuran tadi dengan begitu teliti dan hebat , itupun juga secara rahasia. Benar-benar pria penuh kejutan.
"Apa kau ingin mandi atau buang air misalnya?" Bukannya menjawab, pria itu malah balik bertanya tanpa menghilangkan ekspresi serius pada wajahnya.
"Kenapa?" Elang melihat ekpresi gamang di wajah Mitha. Tentu saja Mitha ragu. Tubuhnya terasa gerah karena belum berganti baju dari tadi pagi. Belum lagi desakan alam untuk buang air kecil yang membuatnya meringis menahannya dari tadi. Dia ingin berkata iya, tapi malu jika harus merepotkan Elang. Tapi jika menolak, dia tak yakin bisa berjalan hingga ke kamar mandi karena belum dibelikan alat bantu jalan tadi.
"A...aku...." Masih mencoba menahan gengsi, namun sebuah tangan kekar sudah membuat tubuhnya melayang ke udara. Mitha memekik kecil karenanya.
"M..maass!!"
"Hmmmm..." lagi-lagi hanya gumaman sebagai balasan. Mitha hanya salah tingkah saat Elang menatap lurus pada kedua bola matanya. Ohh Tuhan...kenapa wajah itu terlihat begitu tampan? wajah yang amat dikagumi oleh Paramitha sejak masih kanak-kanak. Wajah yang selalu dia impikan untuk jadi pengantinnya. Wajah yang membuatnya tak ingin berpacaran dengan siapapun hingga lulus SMA. Ingin rasanya mengelus mesra, tapi hati tak selaras dengan nyata. Mitha hanya sanggup menundukkan wajahnya, menatap ke arah lain asal tak menatap netra hitam kelam itu. Dia takut jatuh ke dalam pesonannya.
"Cepatlah." ujar Elang setelah mendudukkan Mitha diatas kloset. Bukannya lekas bergerak, Mitha yang masih berada dalam mode terpesona malah menatapnya aneh.
__ADS_1
"Bisakah kakak keluar sebentar? aku mau pipis." balasnya penuh keraguan. Walau mereka suami istri, tapi Mitha masih saja merasa canggung bila berdekatan dengan Elang. Apa mungkin ini faktor kekhawatiran sejak kecil?
"Kalau mau pipis ya pipis saja. Kenapa aku disuruh keluar? aku bahkan tidak yakin kau bisa berjalan sendiri hingga ke sana." tunjuk Elang pada bathtub yang sudah dia isi dengan air hangat dan aromatherapi agar tubuh Mitha lebih segar nantinya. Dia cukup tau betapa Mitha amat lelah hari ini. Berendam adalah ide cemerlang agar kembali bugar.
"A..aku..aku bisa sendiri mas." kata Mitha tergagap.Elang menaikkan kedua alisnya.
"Cepat buang air atau aku yang akan memaksamu buka baju disini." Mitha terdiam. Lirikan tajam Elang sudah membuat hatinya ciut. Apalagi dia cukup tau jika sang suami adalah tipe pria serius yang tak pernah main-main dengan perkataannya. Berlahan dia menurunkan celananya dan mulai pipis walau merasa amat risih.
"Sudah?" tanya Elang memastikan. Mitha hanya menganggukkan kepalanya sambil menggigit bibirnya, kembali salah tingkah saat Elang makin mendekat. Tubuh sintal itu tiba-tiba bergetar laksana tersengat listrik kala jemari kokoh itu melepaskan kancing kebayanya satu persatu. Pun saat tangan itu kembali bergerak membuka resleting roknya. Mitha masih saja diam dengan dada berdebar kencang.
"Hmmm...kenapa? Kau malu? Padahal aku sudah biasa melihatnya sejak kau kecil dulu." ucap sang pria datar. Tanpa mengindahkan protes Mitha, lengan kekar itu berayun. Untuk kedua kalinya tubuh semampai itu melayang. Elang menggendongnya menuju bathub dan meletakkannya dengan amat hati-hati disana.
"Mandilah. Atau..kau mau kumandikan?"
__ADS_1
"Mas...aku bisa sendiri." ujarnya kikuk sambil berusaha menutupi aset berharganya yang walau masih tertutup pakaian dalam namun tetap saja membuatnya malu. Ini pertama kalinya Mitha telanjang dihadapan seorang pria meski sekarang pria itu adalah suaminya.
Elang menghentikan gerakannya hendak menyabuni tubuh Mitha karena melihat gadis itu semakin salah tingkah dan gelisah. Dia tak ingin Mitha tertekan.
"Baiklah. Aku akan menyiapkan baju gantimu." Panggil aku begitu kau selesai nanti." ujarnya sebelum melangkah keluar. Untuk sesaat Mitha menarik nafas lega lalu mandi dengan tergesa.
........Bugh.....!!!!
Elang yang baru saja menyentuh ponselnya segera melemparnya ke sofa setelah mendengar bunyi berdebum dari dalam kamar mandi. Tak sempat mengetuk pintu karena terlalu panik, pria itu menerobos masuk begitu saja.
"Mitha!!" pekiknya saat melihat wanitanya telentang di lantai dingin kamar mandi tanpa terbungkus sehelai benangpun. Wajahnya memerah, jangankan bernafas dengan benar, meneguk ludah sendiri saja dia kesulitan. Tubuh putih bersih tanpa cacat di depannya itu begitu menggoda. Bagaimanapun dia adalah pria normal.
"M..mas ..tolong." rintih Mitha memelas. Menyadarkan Elang dari berbagai pikiran yang berkecamuk di rongga kepalanya. Sigap dia melingkari butuh telanjang itu dengan handuk besar yang tersampir di kamar mandi itu lalu menggendong Mitha keluar.
__ADS_1
"Bukankah sudah kubilang .... panggil aku saat selesai nanti. Kenapa kau begitu keras kepala?" omel Elang dengan wajah kesal.
"Maafkan aku hubby, maaf sudah merepotkamu." ujar Mitha penuh rasa bersalah. Tadinya dia hanya ingin mengambil handuk sebelum memanggil Elang. Naas, kakinya terpelset hingga dirinya terjatuh tadi. Tidak begitu sakit memang, tapi dia merasa amat bersalah pada Elang.