
"Berikan kakimu." Mitha yang barusan naik ke tempat tidur membulatkan matanya. Untuk apa? barusan juga kakinya dipijat. Apa Elang mau memijatnya lagi? padahal rasanya sudah mendingan. Namun saat melihat Elang terus menunggu di sampingnya, Mitha menarik selimut yang tadi dia gunakan menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Aku udah baikan kok mas." ucapnya datar. Elang tak banyak berkata, jemarinya menyingkap celana training yang dipakai Mitha tadi.
"Kau tak ingin ganti baju dulu?"
"Ganti baju lagi? pakai ini saja mas." Tentu saja Mitha menolak. Memangnya harus berapa kali dia ganti baju sore itu. Celana training itu juga lumayan nyaman untuk tidur.
"Ya sudah." Lalu sang pria menuangkan ramuan oles buatan bik Sri yang sesuai saran abang pijat tadi.
"Apa tidak sebaiknya aku turun saja mas. Baunya menyengat. Takutnya mengotori ranjangmu." ujar Mitha tak enak hati. Dia sangat tau jika Elang adalah tipe pria yang sangat bersih dan rapi. Kamarnya saja selalu bau wangi, rapi dan bersih, kontras dengan kamarnya yang kadang amburadul saat dilanda malas. Belum lagi banyaknya stiker doraemon yang tertempel disana sini, berdesakan dengan gambar sang idola dalam berbagai pose. Siapa lagi kalau bukan Song jongki, sang duda berwajah cute tak terkalahkan. Duda memang mempesonaš¤£
"Tetap disitu." tolak Elang sambil terus mengoleskan tumbukan beras, kecur dan asam itu ke kaki putih mulus Mitha berlahan. Gerakan yang amat halus. Mitha saja sampai menahan nafasnya karena dilingkupi perasaan aneh yang menyerangnya.
"Sekarang berbaringlah." Elang merebahkan tubuh Mitha yang duduk bersandar. Menata bantalnya agar bisa tidur dengan nyaman.
"Mau kemana mas?" tanya Mitha menginterupsi gerakan Elang membuka pintu. Sekejap pria tampan itu menoleh.
" Ke ruang kerja sebentar, ambil laptop." sahutnya datar. Mitha mengigit bibirnya.
"Lama?" tanyanya agak malu-malu. Dia takut Elang berpikir macam-macam.
"Kenapa? takut?" Tentu saja Mitha tidak takut. Untuk apa takut? Itu rumah yang dia tinggali dari kecil. Dia berani di rumah seorang diri walau tak ada siapapun. Tapi masalahnya dia sedang tidak baik-baik saja sekarang. Takut kalau-kalau ingin ke kamar mandi dan berakhir jatuh seperti tadi.
"Cuma sebentar. Aku akan bekerja disini." tukas Elang kemudian. Lama menunggu jawaban Mitha membuatnya paham jika wanitanya tidak mau ditinggal sendirian. Mitha hanya mengangguk lemah sesaat sebelum tubuh Elang menghilang di balik pintu. Untuk sesaat dia fokus pada ponsel yang barusan dia ambil di bawah bantal. Membuka grup chat para sahabatnya yang banyak mengirimkan foto wisuda dan kebersamaan mereka. Senyum manis terbit di bibir merah Mitha. Semua foto yang mereka ambil benar-benar mengekspresikan kegembiraan dan kebersamaan yang membuat hatinya berbunga. Tapi tak dapat dipungkiri, fokusnya lebih terarah pada foto dirinya dan Elang yang bersanding dalam beberapa pose yang amat manis. Sungguh...Elangnya adalah pria paling tampan yang pernah dia temui.
Pintu terbuka, sosok tinggi Elang masuk menenteng laptop ditangannya. Seketika Mitha tersenyum lega.
__ADS_1
"Belum tidur?"
"Belum." ujar Mitha kikuk. Apalagi saat Elang naik ke ranjang dan duduk disampingnya. Seketika tubuhnya panas dingin.
"Tidurlah." ucap Elang sambil membelai kepalanya penuh kasih sayang.
"Mas.."
"hmmmm,.."
"Terimakasih untuk semuanya." ucap Mitha tulus. Tangan lembutnya mengenggam jemari Elang yang semula berada diatas kepalanya. Tak disangka, Elang malah balik mengenggam tangannya dan menariknya mendekati bibirnya. Sebuah kecupan mendarat disana membuat Mitha salah tingkah dan merona merah.
"Tidurlah. Kau terlalu lelah hari ini." Mitha kembali mengangguk dan memejamkan matanya lamat. Sementara tangan besar Elang kembali membelai kepalanya. Pria itu juga sudah memangku laptop dan menyalakannya. Ada beberapa hal yang harus dia kerjakan setelah seharian ini meninggalkan kantor untuk menemani Mitha.
Pagi menjelang saat Mitha menggeliat dan meregangkan otot tubuhnya. Bola matanya yang masih sayu seketika dibuat melebar saat dirinya sudah disuguhi pemandangan panas pagi itu. Elang yang masih berbalut handuk sebatas pinggang keluar dari kamar mandi, memamerkan dada bidang dan otot kekarnya berjalan ke arahnya, duduk disampingnya. Bau harum sabun mandi dan shampo menguar dari tubuh gagahnya. Jangan lupakan rambut basahnya yang masih meneteskan buliran air sehabis keramas yang sungguh membuatnya...seksi.
"Tidak usah mas. Aku bisa sendiri." Mitha tentu akan berusaha bisa. Berada dalam dekapan Elang yang masih belum berpakaian seperti sekarang bisa membuat jantungnya tidak sehat. Belum lagi serangan sesak nafas yang melanda. Interaksi terlalu dekat juga bukan ide baik mengingat dirinya yang masih bau asem.
"Kau yakin?"
"hmmm..yakin." sahut Mitha seraya mencoba berdiri. Elang yang masih khawatir memegangi bahunya. Saat Mitha melangkahpun pria itu masih tetap memeganginya. Tertatih Mitha berjalan ke kamar Mandi.
"Biarkan pintunya terbuka." kata Elang tegas. Tentu saja Mitha dibuat kaget karenanya. Tak menutup kamar mandi?
"Tapi mas..."
"Malu? aku sudah melihat tubuhmu sejak masih kecil dulu. Kau lupa, aku bahkan sudah melihat tubuh telanjangmu kemarin. Aku hanya tidak mau kau jatuh lagi." Meski ide gila, tapi Mitha bisa apa? selain masih trauma karena terjatuh kemarin, dia juga tak ingin berdebat dengan Elang yang sudah terlalu baik padanya.
__ADS_1
Akhirnya, Mitha mulai membersihkan diri. Walau tak terbuka lebar, pintu kamar mandi tak tertutup sepenuhnya agar Elang bisa memantaunya.
"Maaf, aku belum bisa menyiapkan keperluanmu mas." Elang menoleh, mendapati Mitha yang sudah berdiri tak jauh darinya. Mungkin tadi dirinya terlalu fokus memilah isi lemari hingga tak sadar istrinya sudah berdiri disana.
"Sudahlah. Aku hanya mencari pakaian rumahan saja." sahutnya kemudian.
"Mas Elang tidak pergi ke perusahaan?"
"Kau sedang sakit. Siapa yang akan menjagamu. Papa mama pasti marah jika tau aku meninggalkanmu sendirian di rumah."
"Aku nggak sendiri, kan ada bik Sri."
"Kau adalah tanggung jawabku Paramitha. Papa mama sudah mempercayakan kau padaku." lirh Elang sambil terus melangkah mendekatinya, membuat Mitha terus beringsut mundur karenanya. Hampir saja dia terjatuh karena kakinya membentur sisi ranjang jika Elang tak segera menangkap tubuh semampainya yang berbalut kimono mandi. Kedua bola mata mereka beradu tanpa menyadari jika kepala mereka makin mendekat.
"Elang!!!" pekik seorang wanita keras, membuat keduanya menoleh serempak. Sindy berdiri diambang pintu dengan wajah kecewa bercampur marah yang sektika membuat Elang melepaskan pelukannya pada tubuh Mitha. Sejujurnya Mitha kecewa. Sangat kecewa saat suaminya mendekati pintu tergesa, melepaskan dirinya yang berstatus istrinya untuk menghampiri Sindy yang hanya mantan pacarnya. Matanya berkaca, menatap nanar pada Elang yang sudah berdiri berhadapa dengan Sindy.
"Siapa yang menyuruhmu kesini?" tanya Elang dengan suara lirih tapi penuh penekanan.
"Aku perlu berjumpa denganmu Lang. Dari kemarin kau tak masuk ke kantor."
"Untuk apa?"
"Ehmm...aengg...berkas ini...berkas ini perlu ditanda tangani." jawab Sindy terdengar mengada-ada. Tangannya menyerahkan lembaran berkas pada Elang. Bukannya menerima, Elang malah menatap dingin sambil melirik jam dinding. Masih pukul enam lewat. Waktu yang terlalu pagi untuk berkunjung ke rumah orang lain.
"Ini bukan jam kerja. Kalau kau kesini untuk urusan pekerjaan, tunggu jam delapan nanti. Dan ingat, jangan main masuk ke kamar orang lain tanpa mengetuk pintu." Bukan hanya Sindy yang kaget mendengar suara ketus Elang, tapi Mitha juga.
"Tapi Lang..aku pengen ketemu kamu." ujar Sindy makin ngeyel.
__ADS_1
"Pulanglah sebelum aku panggil sekuriti." timpal Elang lagi.