
Mitha meremas lembut jemari suaminya yang bergetar. Semuanya memang terjadi begitu cepat pada keluarga mereka. Cinta, perjodohan, kesalahpahaman, koma, hingga ajal menjemput mama Maria. Elang yang merupakan anak satu-satunya keluarga Abimana tentu saja amat terpukul karenanya.
"Istighfar mas." ucap Mitha lemah. Elang menghembuskan nafas panjangnya seiring dengan kepergian kakek Hans keluar ruang perawatan intensif itu. Sang kakek adalah orang yang paling kehilangan saat ini. Maria baginya adalah harapan hidupnya saat istrinya meninggal dunia. Jika Malika punya bakat bisnis seperti kakaknya mungkin dia tak perlu risau. Sayangnya putri bungsunya hanyalah seniman yang sangat mencintai dunianya. Dunia yang diwarisinya dari sang ibu yang telah lebih dulu tiada karena kanker stadium akhir, mirip yang di derita Maria semasa hidupnya.
Ada sedikit angin segar yang membuat tubuh yang mulai renta itu tetap bertahan. Baik Maria maupun Malika sama-sama mempunyai putra laki-laki yang tangguh. Regenerasi yang sangat cepat. Anak muda itu bahkan sudah bisa mengendalikan perusahannya hingga menghasilkan keuntungan diatas rata-rata. Kakek Hans terus berdoa dalam duduknya, memohonkan ampunan pada putrinya, kesembuhan untuk menantunya dan kebaikan pada cucu-cucunya.
Didalam sana, Elang masih terus tergugu dalam pelukan wanitanya. Tangan halus itu terus membelai kepalanya penuh kasih sayang walau air mata juga tak kunjung berhenti membasahi pipinya. Kesedihan Elang adalah kesedihannya, derita Elang adalah deritanya juga. Entah sejak kapan perasaan itu tercipta.
Elang meraup wajahnya kasar, menyeka air mata yang terus turun dari kedua matanya. Ditatapnya wajah sembab Mitha sayu.
Pintu kembali terbuka. Aunty Malika dan Richard masuk dengan langkah pelan kesana, mendekati pasangan suami istri yang sedang berduka itu.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu. Perjalanan panjang tentu membuat kalian lelah." kata Malika sambil membenarkan letak selimut Abi yang sedikit turun karena tarikan Elang.
"Kami akan tetap disini nyonya, Papa...." Hanya isakan Paramitha yang mewakili hatinya. Wanita muda itu tak sanggup meneruskan kata-katanya
" Panggil aku aunty. Aku ini bibimu..adik almarhumah mamamu. Tetaplah berdoa nak. Papa kalian sudah menjalani operasi transplantasi kemarin. Tapi entah kenapa dia malah berada pada kondisi koma. Kita hanya harus banyak berdoa."
__ADS_1
"Tapi kenapa tak ada yang memberitau kami?" desah Elang terlihat menyimpan kekesalan mendalam. Wajar jika sebagai anak dia merasa diabaikan.
"Ini permintaan orang tua kalian. Kak Maria sama sekali tak ingin menganggu kalian. Demikian pula kak Abi...dia...."
"Atau aunty saja yang ingin menggunting dalam lipatan?" sengit Elang bertambah kesal.
"Apa maksudmu Lang?" kali ini raut wajah Malika terlihat penuh selidik.
"Aunty ingin memanfaatkan keadaan papa agar bisa dekat dengan papa bukan? bukannya aunty orang yang paling bahagia saat mama tak ada? jangan berpura-pura baik di depanku." lanjut Elang masih dengan mimik dingin penuh kebencian.
"Kakak ...." desis Richard. Pria itu mengepalkan tangannya penuh kemarahan. Tapi Malika menahan tangan putranya, menepuk lengannya lembut dan memberi isyarat agar putranya tenang. Richard mundur.
"Tidak. Tapi aku sama sekali belum bisa berdamai dengan diriku sendiri aunty. Semua terasa begitu cepat dan menyakitkan untukku." ucap Elang lebih rendah lagi.
"Aunty paham soal itu. Tentang permintaan terakhir kak Maria....kita anggap saja tak ada. Keluarga kita akan tetap rukun seperti dulu."
"Kakak lihat!!" pekik Richard yang melihat gerakan samar dijari Abi yang masih terbaring lemah. Elang langsung mendekati papanya sementara Richard berlari keluar memanggil dokter.
__ADS_1
"Ma...Maria...." bisik Abi lemah. Elang meraih tangan pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu lalu mengenggamnya penuh perasaan.
"Papa..."
"Maria..." bisik Abi lagi.
Pintu ruangan terbuka. Seorang doktee masuk bersama perawat dibelakangnya.
"tuan..nyonya...tolong kalian tunggu diluar. Dokter akan memeriksa pasien." kata sang perawat sopan. Sontak satu persatu orang disana berjalan keluar agar Abi bisa segera diperiksa.
"Aunty...apapun yang diinginkan mama akan jadi kenyataan. Menikahlah dengan papak. Tolong kabulkan permintaan mama." lanjut Elang penuh harap. Malika terhenyak dikursi ruang tunggu.
"Tapi kenapa??" tanyanya dengan wajah sayu. Jelas-jelas dia mendengar jika nama kakaknyalah yang terucap dari bibir Abi dialam bawah sadarnya. Bukan dirinya. Tapi kenapa Elang malah meminta dirinya menikah dengan papanya?
"Karena papa hanya mengingat mama. Dan papa butuh aunty untuk bertahan hidup. Kembalikan cinta papa padamu agar papa bisa sedikit melupakan mama dan punya semangat hidup. Kumohon." pinta Elang lagi.
"Lang, bukan kamu yang harus memutuskan hidup orang tuamu. Biarkan Abi yang memutuskannya nanti." balas Malika tegas. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam jiwanya saat itu.
__ADS_1
Melupakan seorang Abimanyu dimasa lalu butuh perjuangan panjang yang amat sulit dan menyakitkan. Sama halnya saat dia meminta Abi melupakannya dan membuka hati pada kakaknya. Apa begini sakit yang dirasakan Abi dimasa lalu? lalu kenapa saat keduanya sudah saling melupakan, takdir malah mendorong mereka agar bisa bersama??
"Tapi aku juga berhak melihat papa mamaku bahagia aunty."