
"Dia adikku." ucap Elang memotong penjelasan sindy. Tak hanya Mitha, Gea juga terperanjat mendengar pengakuan Elang. Hanya Sindy yang tersenyum samar sambil tetap bergelayut manja di lengan kekar Elang. Itupun tanpa penolakan.
"Oohh pantas Sindy terlihat akrab dengannya. Hay...aku Nida dan ini suamiku Tama." Wanita muda itu berinisiatif mendatangi Mitha yang masih berdiri kaku di tempatnya. Mitha segera membalas uluran tangan itu dan mencoba mengulas senyum.
"Saya Mitha kak, dan ini sahabat saya, Gea."
"Kalau begitu ayo masuk, kita semua sudah lapar." ajak Tama dan Nida ramah. Tapi Gea segera bertindak. Dia menarik tangan Mitha yang akan ikut masuk.
"Ehmm maaf semua..tapi kami ada janji dengan seseorang tadi. Tapi karena orangnya baru datang satu jam lagi, kami permisi mau muter dulu." untuk urusan mencari alasan dan hindar menghindar, Gea ini memang jagonya. Tingkat kecerdasan yang tinggi membuatnya cepat membaca keadaan. Tanpa menunggu jawaban dan drama lanjutan, dia menarik Mitha setelah berulang kali meminta maaf.
"Mith..ayo!!" mereka berjalan cepat menuju eskalator dan naik ke lantai atas.
"Ge...kita pulang aja yuk!" suara samar Mitha yang seperti orang mengigau membuat Gea menoleh, menatapnya penuh tanda tanya.
"Sebenarnya tujuan kamu kesini mau apaan sih Mith? kita beli dulu trus pulang."
"Nggak penting banget kok. Ayo!" Mau tak mau Gea menurut. Dia tau suasana hati sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Mereka kembali ke lantai dasar dan langsung ke parkiran. Mobil baru berjalan beberapa meter kala Mitha mulai membuka mulutnya.
"Ge..."
"hmmmm. Apaan?"
"Besok temenin aku wisuda ya." pinta Mitha lirih. Lagi-lagi Gea dibuat tak percaya pad perkataan sahabatnya itu.
"Kok aku? ada kak Elang yang lebih berhak. Kalau datang sih...aku usahakan datang Mith. Soalnya, sekretaris kakak ehh..suami kamu tuh nyebelin banget. Sumpah eneg liat mukanya."
"Ge, aku serius."
"Aku juga serius Mith. Dapat ijin dari manusia galak itu apa nggak. Kalau dia nggak kasi ijin juga aku bisa apa?" desah Gea lemas. Manusia modelan Bian memang sukar di tebak.
"Aku yang akan memintakan ijin pada kak Bian." seketika wajah Gea berseri. Kalau Mitha sendiri yang turun tangan, berarti masih ada harapan. Artinya besok dia bisa libur dan tak melihat wajah itu lagi. Besok mungkin merupakan hari kebebasannya.
"Baiklah, aku siap bos!!" katanya seraya memberi hormat. Mitha tersenyum kecil karenanya. Gea selalu begitu. Lucu dan humoris.
Selepas mengantar Gea ke kantor Abimana crops dan memastikan sahabatnya itu pulang, Mitha menuju rumah. Tubuhnya terasa lelah, pikirannya juga sedang tak baik-baik saja. Dia butuh istirahat, atau juga sekedar berbaring di ranjangnya. Dia rindu kasurnya, tempat paling nyaman yang pernah dia miliki.
Langkah lebar membawanya ke kamar luas itu, membuka gordennya pelan dan menatap cakrawala yang berubah Jingga. Niat awalnya rebahan langsung berubah kala iris coklatnya memindai lemari. Bergegas dia membukanya, mengambil setelan kebaya modern kuning gading dengan paduan kain batik dengan warna dasar hitam di bagian bawahnya yang akan dia pakai besok. Simpel namun terkesan elagan. Sebentar kemudian gadis itu kembali memasukannya di lemari karena mendengar ada yang datang.
"Sindy...." desisnya saat melihat wanita cantik bak model itu berjalan mengikuti suaminya memasuki ruang kerja.
__ADS_1
"Mau apa mereka?" gumamnya ingin tau. Tak urung dia kembali masuk ke kamarnya. Mencoba menepis segala tanya yang terus berlarian dalam benaknya.
Waktu makan malam tiba, Mitha yang awalnya enggan turun menjadi penasaran dan ingin ke bawah meskk perutnya sama sekali tak terasa lapar. Hampir saja dia berteriak kaget saat mendadak ada seorang wanita yang keluar dari dapur membawa nampan berisi dua porsi makanan.
"Anda....siapa ya?" tanya Mitha heran. Sepertinya saat pulang tadi tak ada siapa-siapa di rumah. Tapi kenapa wanita paruh baya ini tiba-tiba sudah ada di dapur? Menyiapkan makanan pula.
"Ehh...saya Sri mbak, yang kerja disini." balas wanita itu sopan.
"Kerja disini? Siapa yang nyuruh mbaknya kerja disini ya?" tentu saja Mitha heran. Setahunya hanya bi Ijah dan bi Mun pembantu di rumah itu. Dan selama mereka ijin pulang kampung, tak ada niatan dari orang tuanya, Elang ataupun dirinya untuk menggantikan pekerjaan mereka dengan orang lain.
"Pak eh...maksud saya tuan Elang."
"Kakak??" gumam Mitha lagi. Rasa heran kembali menyelimuti diri Mitha. Elang bahkan tak pernah memberi tahunya perihal ini.
"Lalu ini untuk siapa?" tunjuk Mitha pada isi nampan di tangan mbak sri.
"Ini untuk tuan Elang dan mbak Sindy."
"Mbak kenal kak sindy juga??" wanita itu mengangguk.
"Calon istri tuan Elangkan?" tentu saja jantung Mitha seperti berhenti berdetak karenanya. Entah apa yang dikatakan Elang pada wanita ini tentang hubungan mereka.
"Terimakasih mbak." dan setelahnya Mitha bergegas mengetuk ruang kerja kakaknya. Tak berapa lama pintu terbuka, rupanya Sindy yang membuka pintu dengan senyum angkuhnya.
"Saya mengantarkan makan malam kalian kak."
"Hmmm..sini, biar aku saja." Cekatan Mitha mengambilkan satu piring dan segelas minuman untuk Sindy, sedang satunya lagi masih tertata rapi di nampan.
"Itu juga." tunjuk Sindy dengan dagunya.
"Ini akan saya antarkan sendiri."
"Sama saja kan? biar kubawa sekalian."
"Ini untuk suami saya lho kak...kakak kan sudah dapat jatah sendiri. Permisi!!" Tanpa aba-aba Mitha menerobos masuk diikuti Sindy dibelakangnya.
"Kak, ini makan malammya."
"Taruh saja disitu." jawab Elang tanpa memandang Mitha yang berada tepat di depannya. Sindy tersenyum lebar karenanya.
__ADS_1
"Bisa kita bicara sebentar?" ucap Mitha setelah menghela nafas panjang.
"Aku sedang sibuk." lagi-lagi ketus.
"Baik kalau begitu." tanpa ragu Mitha membalikkan tubunnya dan menghampiri Sindy yang masih tersenyum puas melihat perlakuan Elang pada Mitha.
"Karena kak Elang sibuk, maka aku akan bicara dengan kakak saja. Begini...meski ini belum larut malam, tapi berduaan di dalam kamar tanpa ada orang lain antara pria dan wanita itu tidak baik, bisa menimbulkan fitnah. Maka dari itu bisakah kalian bekerja di luar ruangan? ruang tamu atau ruang keluarga misalnya?" pinta Mitha dengan wajah serius. Sindy kembali tersenyum lucu, seolah menertawakan dirinya.
"Kau tak lihat kami sedang bekerja?" cibirnya.
"Bekerja itu di kantor kak, bukan dirumah." balas Mitha masih dengan ketenangan serupa.
"Ini lembur nona..ya terserah kami mau dikerjakan dimana."
"Oohh ..begitu ya?"
"Tentu saja." balas Sindy congkak.
"Kalau begitu tunggu!" Mitha berjalan cepat menuju brankas, memutar kuncinya dan membukanya. Ditariknya sebuah dokumen dari sana.
"Lihat dan baca baik-baik siapa pemilik rumah ini kak Sindy." senyum smirk tercetak jelas di bibir mungil Mitha.
"Paramitha putri pratama abimana." gumam Sindy sebelum dokumen itu kembali berpindah tangan dengan cepat.
"Sudah jelas bukan kak? aku sebagai pemilik rumah merasa sangat keberatan dengan hal ini."
"Tak masalah Yang, kita bisa kerja di rumah kamu saja." potong Elang cepat saat melihat Sindy terdiam. Rupanya pria itu berinisiatif membantunya.
"Hmmmm ide bagus. Leo juga baru pulang esok." timpal Sindy membuat Mitha meradang. Tentu saja dia tak akan membiarkan suaminya berduaan dengan Sindy dirumahnya.
"Aku ikut."
"Mau ngapain? lebih baik kamu cepat cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi lalu tidur. Besok wisudakan?" sarkas Elang dingin tanpa ekspresi.
"Ya mau menemani kakak."
"Aku bukan anak kecil yang butuh ditemani." ketus pria itu lagi sambil merapikan berkasnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Memang. Tapi aku istrimu. Aku berhak ada di dekatmu kan?''
__ADS_1
"Istri??" Elang terkekeh karenanya.