Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Masih berlanjut


__ADS_3

"Awas kau Mitha! akan kubuat kau menyesal dan pergi dari sini. Dasar anak pungut!!" maki Sindy kesal sembari merapikan meja makan. Setelah acara makan pagi barusan, bik sri yang seharusnya bersih-bersih malah diusuruh ke pasar oleh Mitha. Tentu saja dengan faktor kesengajaan. Jadilah Sindy yang ditugaskan bersih-bersih.


"Siapa yang akan kau buat menyesal kakak ipar? Paramitha? ha...ha...walau dia anak pungut, tapi kau tidak bisa menyuruh dia pergi begitu saja. Kau lupa jika sekarang dia adalah istri Elang? Sebaiknya kau buang jauh-jauh mimpimu untuk menikah dengan pria kaya." sindir Bian yang entah sejak kapan sudah ada dibelakangnya. Mungkin karena dia terlalu sibuk menggerutu tadi hingga tak memperhatikan sekelilingnya.


"Jangan ikut campur urusanku!" ketus Sindy teramat kesal.


"Urusanmu akan tetap jadi urusanku karena kau istri Leo, kakakku." sergah Bian cepat. Ingat kakak kandungnya itu malah membuat hatinya nyeri seketika. Wanita di depannya inilah yang sudah membutakan mata hatinya. Leo bukan hanya mau menikahinya saat Sindy ketahuan hamil, tapi juga mengakui anak itu dan menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri. Padahal Sindy sama sekali tak mau membuka hati untuknya. Leo hanya digunakan sebagai suami diatas kertas, tak lebih dari itu. Rasa cintanya pada Sindy sejak SMA membuatnya begitu terobsesi hingga rela melakukan apapun diluar nalar.


"Leo saja tak pernah protes..apa hakmu ikut campur urusan rumah tangga kami?" ucap Sindy sengit.


"Aku memang tidak berhak, tapi aku akan berusaha membuat Leo meninggalkanmu." kata Bian tak kalah sengit. Sorot mata penuh permusuhan berkilat diantara keduanya.


"Silahkan saja kalau kau bisa. Kakakmu itu sama sekali tak berarti dalam hidupku. Ambil sana...ambil!! aku juga tidak akan merasa kehilangan karena pria bodoh itu." pekik Sindy keras.


"Leo tidak pantas untuk wanita sepertimu!!" kali ini Bian terpancing emosi juga mendengar ejekan Sindy pada kakaknya. Rasa tak terima tentu meraja mengingat Leo begitu banyak berkorban untuk wanita sialan itu.

__ADS_1


"Tentu saja tidak pantas. Wanita smart dan cantik sepertiku harusnya punya suami kaya, tampan dan punya segalanya seperti......"


"Elang Narendra abimana." serempak kedua manusia itu berbalik menatap Mitha yang berdiri anggun disana. Lagi-lagi keduanya tak menyadari kehadiran orang lain disana karena sibuk bertengkar. Mitha mengulas senyum tipis dan mendekati mereka. Tertatih.


"Iyakan kak Sindy?" tanyanya lembut penuh penekanan. Kembali Sindy menatap sinis padanya. Tapi ditanggapi biasa saja oleh Mitha yang sudah mulai kebal karenanya.


"Jika suamiku yang kau maksud maka kupastikan kau salah sasaran. Aku tidak akan tinggal diam dan mengalah pada tante-tante sepertimu." Mitha sengaja menekan kata tante agar Sindy sadar umur. Tapi bukannya sadar, ulat bulu itu malah makin terbakar amarah.


"Tante? aku yang tua atau kau yang masih bocah hemm??"


"Tentu saja aku yang bocah tante. Tapi sayangnya bocah ini sudah bisa membuat om-om tampan seperti mas Elang takhluk. Hebat bukan??"


"Kenapa malu?? Saya pakai baju. Sopan lagi." balas Mitha sok cuek. Tapi sebentar kemudian ekspresi wajah gadis cantik itu berubah. Baik Bian atau Sindypun dibuat bingung karenanya.


"Aaaoooww." teriaknya kencang saat melihat Elang menuruni tangga. Elang yang mendengar teriakan Mitha berlari kecil menuruni tangga demi melihat kondisi istrinya.

__ADS_1


"Apanya yang sakit?" tanyanya penuh rasa khawatir. Pria tampan itu bahkan langsung berlutut untuk memeriksa kaki Mitha yang terus merintih.


"Kakiku terasa linu hubby. Maukah kau membantuku ke sofa sana?" kali ini suara manja Mitha membuat semua orang tercengang. Tidak biasanya gadis cantik berkulit putih itu merengek manja.


"Tentu saja. Sini!" Elang langsung mengngkat tubuh ramping itu dan mendekapnya dalam pelukan.


"Tidak usah ke sofa. Kita ke kamar saja. Hemm...kalian, kosongkan semua jadwalku hari ini karena aku ingin menemani istriku." perintah Elang tegas sambil menaiki tangga.


"Tapi Lang...aku sudah menunggu. Berkas ini juga...."


"Bian, taruh berkas itu ke kamarku. Aku akan memeriksanya. Setelah itu kalian pergilah bekerja." potong Elang cepat.


"Baik tuan muda." balas Bian pendek sebelum Elang dan Mitha menghilang dibalik pintu.


"Apa kau tak dengar?? sini!!!" Bian bergerak cepat merebut berkas ditangan Sindy.

__ADS_1


"Apa kau tak dengar perintah tuan Elang? cepat pergi ke kantor tuan Elang jika kau masih punya etika. Kau masih istri kakakku. Jadi jangan buat dia malu karena kelakuanmu." skak matt!! Sindy hanya diam. Tangannya meraih tas kecilnya dan melangkah meninggalkan rumah mewah itu tanpa kata. Bian tersenyum sinis.


"Kau tak akan bisa hidup tenang Kahiyang Sindy parameswari." gumamnya penuh dendam.


__ADS_2