Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Entahlah


__ADS_3

Lagi dan lagi Gea dibuat bersungut kesal karena Bian. Pagi itu mereka berangkat bersama ke KUA dengan sepeda matic Gea tentu saja dengan drama beli gamis dan kerudung baru dulu. Gea benar-benar tak mau keluar rumah dengan bercak merah buatan Bian semalam. Pakdhenya juga sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan keponakannya. Anehnya, Bian dengan sabar melayani kemauan Gea. Hal yang tak biasa baginya. Bukankah jika mereka bertemu di kantor Bianlah yang mendominasi Gea dengan amat otoriter?


Kurang dari setengah jam mereka sudah menyelesaikan formalitas pernikahan. Pakdhe dan sepupu Gea juga sudah kembali ke rumahnya. Sedang Bian? dia malah membawa istrinya ke sebuah mall di dekat kantor mereka. Bian juga tak sungkan menggandeng tangan Gea walau gadis itu sudah beberapa kali menolak.


"Mau kemana sih pak?" Bian hanya menoleh sekilas. Selebihnya dia kembali fokus pada jalan di depannya hingga sampai pada sebuah toko yang menjual pakaian muslimah. Bian mengajak Gea masuk.


"Pak Bian nyuruh saya pakai pakaian beginian kayak Mitha?" tanya Gea tak percaya. Ternyata begini amat ya rasanya? Padahal saat dulu Mitha mengeluh padanya dia dengan amat bijak malah menasehatinya dengan kata-kata yang menyejukkan. Sekarang giliran dia sendiri yang merasakannya?????


"Ya. Kamu sudah bersuami dek. Setidaknya tutuplah auratmu. Tak perlu baju syar'i jika belum siap. Cukup pakai baju panjang dan kerudung saja. Disana banyak kok pakaian muslimah modern yang bisa kamu pilih. Ambillah sesukamu."


"Tapi saya nggak bisa pakai kerundung pak." keluh Gea dengan wajah memelas. Dia ingat betul jika dia memang tak bisa memasang jilbab segi empatnya pagi tadi. Bianlah yang dengan telaten mendandaninya hingga serapi sekarang. Tapi apa dia akan merepotkan Bian tiap hari? rasanya sama sekali tak masuk akal.


"Geeeeeeeee!!!!" sontak Gea menoleh. Dia mendapati Mitha berjalan ke arahnya dengan langkah lamban khas ibu hamil.


"Ahh Ya Tuhan..aku hampir nggak bisa mengenalimu lho kalau nggak lihat kak Bian tadi. Tapi swear..kamu tuh jadi cantik pake banget." seloroh Mitha memberinya pujian dan mengacungkan dua jempolnya. Gea jadi tersipu-sipu karenanya.


"Kak Bian nggak ke kantor? Upppss...maaf lupa. Pengantin baru." sekarang gantian Bian yang tersenyum samar malu-malu.

__ADS_1


"Nanti saya mampir ke kantor sebentar nyonya bos." sahutnya.


"Kalau begitu biar Gea belanja sama aku aja. Kak Bian ke kantor dulu baru jemput dia nanti." Bian berpikir sejenak mendengar tawaran Mitha. Dia tau di dekat mereka empat pengawal yang ditugaskan Elang sedang berjaga untuk keselamatan istri dan calon bayi mereka. Untuk masalah keselamatan dia tak perlu khawatir. Tapi sebentar kemudian Bian berbalik pada istrinya. Tangannya meraba dompet di saku celana bahannya. Masih kosong karena dia memang belum sempat melakukan tarik tunai hingga sekarang.


"Dek, pakai ini untuk membayar belanjaanmu ya. Pinnya hari pernikahan kita." Bian mengulurkan kartu ATM pada Gea yang masih melongo menatapnya hingga Mitha menyenggol lengannya dan memberinya isyarat agar menerima kartu itu. Gea menerimanya masih dengan pikiran kalut.


"Telepon aku begitu kau dan nyonya bos selesai belanja." pesannya lagi. Gea hanya mengangguk dan tak mengatakan apapun hingga Bian pemit ke kantor.


"Ya Tuhan Mithh...." dan Gea segera meraup wajahnya masih dengan ekspresi galaunya. Mitha yang tau sahabatnya itu sedang stres ringan mengajaknya menuju stand minuman.


"Kenapa sih? bukannya seneng diperlakukan uwuwwww seperti tadi...malah stress. Kak Bian soo sweat banget lho Ge. Apalagi apa tadi....dek? Manisnyaaaaa...aku saja tak pernah dipanggil begitu sama mas Elang." Gea menatap sahabatnya itu dengah kerlingan lucu.


"Aneh bagaimana maksudnya Ge?"


"Ya dia tuh jadi sok manis, sok perhatian, sok aahhh...pokoknya dia tuh jadi aneh!"


"Kalaua menurutku sih nggak aneh Ge. Dia cuman mengekspresikan jika dia sayang sama kamu."

__ADS_1


"Sayang?" ulang Bian membeo.


"Maksudku...cinta. Iya. Dia sedang ingin mengatakan jika dia sangat mencintaimu Ge." ulas Mitha penuh semangat. Tapi Gea jadi tak bersemangat karenanya. Wajahnya berubah layu.


"Sulit dipercaya." gumamnya.


"Sulit bukan berarti tak bisakan Ge?"


"Entahlah." pungkas Gea mengakhiri sesi percakapan itu.


🌺


🌺


🌺


Selamat malam readers...

__ADS_1


Hari ini sya beri double up ya. Author memberikannya sebagai rasa terimakasih pada kalian yang sudah setia menyimak dan memberikan kontribusi positif juga bersabar menunggu novel ini up. Tau sendirikan jika authornya tak bisa up setiap hari🤣🤣


Sekali lagi terimakasih yang tak terhingga saya persembahkan pada kalian. Jangan lupa tinggalkan jejak dan komentar kalian untuk mendukung author tetap berkarya. Selamat membaca🤗🤗🤗


__ADS_2