
Entah bagaimana perasaan Gea sekarang. Campur aduk tak karuan pastinya. Bian bukan hanya sudah berhasil melakukan ijab kabul dengan amat lancar dan sudah sah menjadi suaminya walau masih secara agama, tapi pria itu juga mendapatkan kesan positif dari saudara dan tetangganya setelah moment sakral itu berlalu. Sekretaris tampan itu tak hanya menunjukkan sikap bertanggung jawabnya, tapi juga sifat royalnya. Seluruh undangan diberikan bingkisan khusus sebagai rasa terimakasih. Dia yang dapat pujian tapi dibelakang layar Elang, Andra dan Leo lah yang dibuat pusing karena Bian main perintah-perintah saja secara dadakan. Terpaksalah mereka melakukannya karena rasa setia kawan dan persaudaraan yang mendalam.
Gea yang tadinya tegar jadi mewek seketika saat dua sahabatnya pamitan pulang. Mitha tak henti-hentinya memeluknya bergantian dengan Zahra yang sudah jadi adik iparnya memberinya kekuatan. Sebagai sahabat, mereka cukup tau beban yang di pikul Gea karena ulah Bian. Tapi sungguh...bagi mereka tak ada pria sebaik Bian yang pantas untuk Gea terlepas dari sikap angkuhnya padanya.
"Kami pulang duluan ya Ge." pamit keduanya diangguki Gea. Gea cukup tau jika dua sahabatnya itu sedang hamil dan butuh lebih banyak waktu untuk istirahat, terutama Mitha. Mereka berpelukan. Biasanya dia yang paling tegar dan tomboy, tapi sekarang...dia yang paling feminin. Di sampingnya, Bian menyalami seluruh tamu dengan ramah dan senyum lebarnya.
Seluruh sahabat dan kerabat sudah pulang satu persatu ke kediaman mereka. Hanya Bian, ibu dan dirinya yang tersisa. Gea merenggut kesal karena Bian yang tak kunjung pamitan padahal hari sudah merangkak malam. Sekretaris menyebalkan itu malah asyik ngobrol dengan ibunya.
"Ge, buatkan nak Bian minuman hangat gih." pinta bu Asih saat Bian mengambil minuman botol dari atas meja.
"Bu, ini sudah malam lho. Pak Bian juga sudah waktunya pulang." protes Gea dengan kekesalan tingkat dewa yang dia coba sembunyikan. Bu Asri menarik nafas dan menggelengkan kepalanya.
"Pulang? nak Bian itu sudah jadi suamimu. Malam ini dia sudah boleh tidur disini." lagi dan lagi Gea dibuat kaget dengan keputusan ibunya.
__ADS_1
"Kan baru nikah agama bu. Kami belum menikah resmi." Gea tetap berusaha mengusir Bian secara halus dengan minta dukungan ibunya.
"Apa bedanya Ge? Lingkungan dan tetangga kita juga sudah tau semua. Besok juga pernikahan kalian sudah dilegalkan. Sudah..ajak nak Bian istirahat di kamarmu. Ibu mau istirahat dulu." dan Bu Asri bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
"Ge..." panggil Bian saat Gea akan menuju dapur.
"Ya pak."
"Tidak usah dibuatkan minum. Aku tak biasa minum manis dimalam hari." Bian malah langsung masuk ke kamarnya tanpa sempat dicegah. Mau tak mau Gea menyusul dengan perasaan enggan. Sekantor saja dia malas, ini malah sekamar. Helllooo...musibah apa ini Tuhan?
"Kamar mandi. Badanku gerah." Gea mundur selangkah saat Bian melepas kancing kemejanya.
"Kamar mandinya di luar pak, dekat dapur. Kamar saya tuh kecil, nggak ada kamar mandi-kamar mandian." ketus Gea kembali kesal. Bian tak menjawab, dia memilih kembali keluar untuk mandi sedang Gea langsung mengganti kebayanya dengan baby doll dan membersihkan sisa make upnya. Wajahnya sudah terasa tak nyaman karena sapuan benda asing itu.
__ADS_1
"Ge, punya kaos nggak?" Gea melirik Bian sekilas. Pria itu memang sudah mandi, tapi masih memakai pakaian yang sama. Pasti Bian merasa tak nyaman. Mau bersikap judes juga, si menyebalkan itu sudah jadi suaminya.
"Kaos saya nggak akan muat dipakai sama pak Bian." balasnya kemudian. Meski membuat Bian berdecih sebal, tapi setidaknya dia tak berkata kasar padanya.
"Trus kamu mau membiarkan aku pake beginian sampai besok pagi begitu?" Gea mengangkat kedua bahunya.
"Ya kalau nggak mau, pak Bian pulang saja ke apartemen. Ambil baju lalu tidur disana. Bereskan?" lagi dan lagi Bian tak menanggapi. Gea sedikit bernafas lega setelah pria itu memilih keluar kamar dan berpikir dia akan pulang ke rumahnya. Berarti malam ini aman.
"Saatnya tiduuurrrrr!!" pekik Gea sambil menarik selimutnya lalu mencari posisi cantik dan imut untuk tidur. Memang ya...kamar itu tempat paling indah dalam sebuah rumah.
"Bisa beri tempat? Geser kesana misalnya?" Hea terlonjak kaget hingga terduduk seketika saat membuka mata dan Bian ada di depannya. Setelan piyama tidur warna biru membalut tubuh gagahnya. Cepat sekali? Kapan dia mendapatkannya?
"Tak usah heran begitu. Aku ini terlalu cerdas untuk sekedar mendapatkan baju ganti." Kata Bian mengejek. Gea jadi meruntuk dalam hati. Dia memang merahasiakan jika beberapa rumah dari tempat tinggalnya ada toko baju. Tentu saja agar Bian tak jadi menginap. Tapi suami barunya itu sudah tau semuanya.
__ADS_1
"Syukurlah." balas Gea cuek lalu kembali menarik selimutnya. Tapi sebentar kemudian Gea dibuat memekik kaget karena Bian dengan amat tenangnya malah ikut masuk ke dalam selimutnya.