Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Hiburan


__ADS_3

"Dia...siapa ya pak?" Deby menoleh dengan gaya angkuh juga raut wajah yang terkesan dibuat-buat pada Mitha yang langsung berdiri menyalaminya. Bukannya menyambut baik, wanita model ulat bulu itu malah terkesan mengabaikan dan membuat tangan Mitha yang akan menyalaminya menggantung di udara. Tentu saja dengan senyum kemenangan yang disembunyikan. Elang bergegas bangkit mendekati istrinya, meraih jemarinya lalu membawanya pada bibir tipisnya. Elang mengecupnya amat lembut dengan manik mata yang langsung menatap Mitha yang sedikit salah tingkah karenanya.


"Dia istri saya nona." ucapnya kemudian seraya merengkuh pinggang Mitha erat hingga tubuh tinggi semampai itu melekat dengan tubuh tinggi athletisnya. Mitha tersenyum canggung saat Elang mengecup pelipisnya sekilas.


"Ohh ya? jadi..jadi anda sudah menikah? kapan? kok saya tidak dengar berita pernikahannya?" kali ini Deby dibuat salah tingkah. Sudah terlanjut bersikap sombong karena mengira Elang masih lajang sesuai biodatanya, tapi nyatanya....pria beristri.


"Kami menikah beberapa bulan lalu saat saya baru kembali kemari. Pernikahannya tiba-tiba hingga belum bisa resepsi karena orang tua kami mengalami musibah." Deby manggut-manggut mencoba menerima penjelasan Elang.


"Saya turut berduka cita pak Elang." ucapnya kemudian. Wanita itu sejenak merapikan blazernya yang memang sengaja dia buka tadi. Tak enak hati juga dia melihat tatapan sejuk Mitha yang seolah menelanjanginya..


"Terimakasih. Sekarang bisakah kita bicarakan soal kerja samanya?"


"Ohh tentu saja." Hampir setengah jam berlalu dengan kondusif. Baik Elang maupun Deby bicara dengan profesional dan sikap formal. Mitha juga tak mempermasalahkan cara berpakaiannya yang bisa dibilang seronok. Dia juga pura-pura tidak melihat saat beberapa kali Deby mencuri pandang ke arahnya, entah apa maksudnya.


"Baik, saya akan mengabari anda melalui sekretaris saya secepatnya pak." Deby segera berdiri dari duduknya, mengulurkan tangannya untuk berpamitan. Hangat dan sopan pada Elang, namun berbanding terbalik dengan Mitha yang langsung dihadiahi tatapan tak bersahabat.

__ADS_1


"Saya dengar tadi anda mengajak kami makan siang nona, apa anda sudah menentukan tempatnya?" Ujar Mitha lembut namun lagi-lagi dihadiahi tatapan tajam sang lawan bicara.


"Ehmm..maaf, hari ini jadwal saya padat sekali. Mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama." jawab Deby berbasa-basi. Mitha tau pasti itu. Dia menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman kecil disana. Pun senyum itu tidak luntur tatkala si ulat bulu pamit pulang dengan jalan tegak, tak melenggak-lenggok seperti kedatangannya tadi.


"Eehhmmm..." dehem Elang keras. Sontak Mitha menoleh kesamping, tempat suaminya duduk di kursi kebesarannya. Senyum Elang juga terkembang lebar disana membuat aura ketampanan sang suami menyeruak tanpa bisa ditolak.


"Apa sekarang kau tau apa tugasmu sayang?" tanyanya dengan nada menggoda. Mitha melengos kesal karenanya.


"Tentu saja. Menyingkirkan ulat bulu yang akan membuat kulitmu gatal. Iya kan mas?" katanya tajam. Elang terkekeh karenanya.


"Kalau hanya masalah itu...security juga bisa. Atau serahkan saja pada Gea. Dia serba bisa kalau masalah begituan mas."


"Tapi aku maunya istriku yang membuat para ulat itu lari tunggang langgang. Lagian aku juga pengennya minum kopi buatanmu."


"Bilang saja kau menjadikan aku asisten pribadi mas." sarkas Mitha masih dengan perasaan mendongkolnya.

__ADS_1


"Kau harus menjaga suamimu Mitha. Pria ini penuh pesona dan mengkhawatirkan jika dibiarkan terlalu lama diluaran."


"Over Pede." gerutu Mitha amat kesal. Dia bahkan harus menghentakkan kakinya begitu kembali ke kursinya. Suara ketukan pintu terdengar. Elang segera mempersilahkan masuk.


"Selamat pagi bos. Ini laporan yang ada perlukan. Jam sepuluh nanti ada meeting dengan Indo star. Bos juga harus meninjau proyek pembangunan apartemen kita selepas makan siang." lapor Bian yang datang dengab setumpuk berkas ditangannya.


"Sudah disingkron dengan jadwal istriku, Bi?" tanya Elang pada Bian yang langsung mengangguk. Mitha hingga dibuat heran karenanya. Apalagi saat Gea muncul dibelakang Bian juga membawa tumpukan berkas ke mejanya. Mitha seolah bingung dengan rencana suaminya.


"Bu, ini laporan penjualan dan pengadaan barang untuk pabrik frozen food, kafe juga resto milik anda. Hari ini anda harus menengok pabrik sesuai jadwal yang tertera." sekilas Mitha meliri suaminya, minta penjelasan. Tapi Elang hanya menggidikkan bahunya tak mau tau. Terpaksa Bian yang akhirnya angkat bicara.


"Nyonya bos harus tau jika perusahaan ini menaungi S&M saja tanpa mengganti pemiliknya atau meminta keuntungannya. Istilahnya nyonya bos hanya ganti label saja dan tempat kerja saja. Jadi anda harus tetap mengatur perusahaan anda dengan Gea sebagai sekretaris anda." jelas Bian panjang kali lebar sama dengan luas.


"Aku mengerti kak Bian. Terimakasih." Bian mengangguk lalu berpamitan keluar bersamaan dengan Gea yang berjalan dibelakangnya.


"Jadi ini cuma akal-akalanmu untuk memenjarakan aku mas?" tuduh Mitha pedas. Elang hanya mengerjabkan matanya. Membuat istrinya dongkol adalah hiburan pagi yang menyenangkan baginya.

__ADS_1


__ADS_2