Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Sindiran


__ADS_3

"Jangan asal menjawab Za, keputusanmu ini akan mempengaruhi hidupmu nantinya. Jika kau memang belum ingin menikah kami akan membantumu merawat dan membesarkan anak ini." Elang langsung melotot pada Bian yang disaat krusial seperti sekarang malah memberi masukan negatif pada adiknya. Bisa-bisanya dia malah mengatakan itu saat ada orang yang mau serius menikahi adiknya yang sudah dalam keadaan mengandung.


"Ra...." ulang Andra mengingatkan jawaban akan pertanyaannya pada sang sahabat. Semua mata menatap padanya. Namun sesaat kemudian Elanglah yang dibuat terkejut dengan kelanjutan ucapan Andra yang entah sadar atau tidak mengucapkannya dalam keadaan gundah.


" Sekarang aku memang tidak punya apa-apa. Aku pengangguran karena seluruh aset keluargaku telah dikuasai papa tiriku. Cintaku padamu juga belum sedalam perasaanku pada Mitha, kau tau benar itu. Dia cinta pertamaku. Tapi jika itu yang membuatmu ragu maka kutegaskan bahwa aku mau belajar memulai segalanya dari awal bersamamu." Suami mana yang tak panas hati saat mantan pacar istrinya malah mengakui jika perasaan cintanya pada Mitha terlalu kuat untuk dilupakan. Tangan besar Elang terkepal kuat. Tapi Mitha sudah lebih dulu melingkarkan tangannya di lengan sang suami, menyandarkan kepalanya disana seolah mengatakan jika yang dicintainya hanya Elang seorang. Tangan kiri Elang mengelus kepalanya sejenak.


"Bayi ini...."


"Jangan bicara soal bayi itu Ra. Dia nyawa tak berdosa. Aku berjanji akan mencintainya seperti darah dagingku sendiri. Jangan gunakan dia sebagai alasan menolak pinanganku." Tak ada sahutan, yang terasa hanya keheningan.


"Segera urus surat-suratnya tuan muda Andra. Besok kalian akan saya nikahkan!" Ujar Leo mantap dan tegas. Dari semua yang hadir hanya Elanglah yang paling bersemangat mendukung perkataan Leo, tapi tidak dengan Bian yang langsung menatap tajam kakak sulungnya itu.


"Kak...."


"Stop Bi!!! Aku tidak menerima protes maupun keberatanmu. Kita adalah orang tua bagi Zahra. Kita tak mungkin menyuruhnya memutuskan suatu persoalan saat dia sendiri sedang bimbang. Dia butuh dukungan dan ketegasan sikap kita. Tuhan....semoga keputusanku benar." Bian terdiam, menahan bantahan yang siap meluncur dari bibirnya saat mendengar sentakan Leo. Bagaimanapun dia kakak tertua mereka yang wajib dihormati.


"Kurasa itu keputusan terbaik yang sudah kau buat Lew." Leo tersenyum miring mendengar sahutan Elang.


"Semoga ini bukan karena hal ini ada kaitannya dengan Mitha." sindir sang jaksa amat kalem. Elang berdecih, melirik istrinya sekilas yang juga sedang memandangnya.


"Sayang, rasanya kita harus pergi lebih dulu. Ini masalah keluarga. Sebaiknya kita mengurus keluarga kita sendiri." Mitha membolakan matanya tak percaya. Suaminya bahkan bisa bersikap begitu kekanakan saat sedang cemburu seperti sekarang.

__ADS_1


"Kita ajak Gea sekalian mas. Dia kan orang lain juga. Lagian dia juga harus ke kantor kan?"


"Bi, ajak Gea kembali ke kantor nanti. Ohh ya Ndra, aku sudah mengutus seorang perawat khusus untuk menjaga Gea saat kau ada keperluan diluar dan salah satu dari kami belum bisa kesini. Aku akan memastikan calon istrimu aman." Andra mengangguk, segera menyalami Elang yang akan beranjak.


"Terimakasih kak, aku tak akan melupakan semuanya." Balasnya amat tulus.


"Kau marah rupanya." sundir Leo lagi. Tapi Elang seolah bersikap tak peduli, mengandeng tangan istrinya lalu melewati Leo yang berdiri tak jauh darinya dan sengaja menabrakkan pundak kekarnya ke tubuh Leo ringan.


"Aku akan marah pada siapapun yang akan mengambil milikku. Dan kau...jangan coba-coba menyindirku jika tak ingin seragammu ini teronggok di lantai tanpa pemiliknya." desisnya seraya menjulurkan lidahnya layaknya anak kecil yang saling mengejek. Hampir saja Leo dan Bian tertawa ngakak karenanya. Elang masih saja seperti dulu dan menganggap mereka masih kanak-kanak dulu. Lama di luar negeri sama sekali tak membuatnya banyak berubah.


"Sayang, ayo!" dan Mitha segera berpamitan tanpa acara salaman tentunya karena suami posesifnya melarang keras dirinya bersentuhan dengan orang lain.


"Mas Elang marah?"


"Mas .."


"Hmmm...."


"Aku dan Andra cuma masa lalu loh."


"Trus kenapa? apa kau bertanya?" sengit Elang dengan wajah tertekuk kesal.

__ADS_1


"Tidak, tapi sikap mas Elang membuatku tidak nyaman." gerutu Mitha yang tak suka disikapi aneh oleh Elang.


"Lalu sikapku yang mana yang membuatmu nyaman?" Hampir saja Mitha memekik kaget saat Elang ngebut di jalanan. Pria itu bahkan sama sekali tak menunjukkan keramahan saat melihat istrinya kaget. Mitha tak lagi protes. Melihat wajah kesal Elang saja sudah membuatnya ikutan kesal. Dia memlilih menutup matanya dan menarik nafasnya panjang, membaca rentetan doa sebisanya, mohon keselamatan hingga.....


"Turun!" Sontak Mitha membuka matanya. Beberapa menit dalam mode ketakutan sudah membuatnya tak memperhatikan jalanan.


"Lho...kok balik lagi kerumah?" tanyanya heran. Bukannya mereka sudah siap langsung ke kantor tadi. Bukannya melajutkan perjalanan, Elang malah berbalik arah dan membawanya kembali pulang. Aneh bukan?"


"Kalau tidak pulang memangnya kita mau kemana? hotel?" lirih Elang dengan wajah dinginnya sambil mendekatkan diri pada Mitha.


"Hotel? Apa ada meeting disana?" Elang melebarkan pintu mobilnya, menarik Mitha keluar lalu melangkah cepat memasuki rumah besar keluarga Abimana hingga bik sri dan dua pekerja lain melongo.


"Mas...mas Elang kenapa sih?" pekik Mitha saat Elang terus menariknya ke kamar mereka. Lagi dan lagi wanita muda itu dibuat kaget saat sang suami malah melepas sepatu, mempreteli baju dan celannya hingga hanya bertelanjang dada dengan celana pendeknya. Tubuh Mitha beku saat sang suami makin mendekat dan merengkuh tubuhnya, melabuhkan sebuah ciuman panas di bibirnya hingga mereka terlibat ciuman panjang. Nafas keduanya tersengal.


"Aku cemburu sayang...sangat cemburu!" desisnya sebelum kembali ******* bibir istrinya yang berusaha membalas dan mengimbangi ciuman si pria.


"Jangan pernah berdekatan dengan Andra Renaldi lagi." dan Mitha hanya mengangguk disela lengguhan yang sudah tak bisa dia tahan. Elang selalu saja membuatnya melayang walau hanya dengan sentuhan bibir dan tangan nakalnya.


"Mitha..."


"Eehhummm..."

__ADS_1


"Katakan kau mencintaiku, hanya aku." dan sebuah kecupan nakal sudah mendarat di leher dan dada Mitha yang terus menggelinjang karenanya.


"Aku...aku...sssshhh...I love you honey, more and more." Elang tersenyum penuh kemenangan, tangannya bergerak cepat menggendong wanitanya ke ranjang besar mereka. Ada sesuatu yang harus mereka tuntaskan pagi itu.


__ADS_2