Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Ketiga


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mitha sudah menyelesaikan menu sarapan di dapur. Dia tinggal menghidangkan makanan itu dan mandi ke atas. Pun Elang yang pamit keliling kompleks untuk lari pagi juga belum menampakkan batang hidungnya. Tidak biasanya suami anehnya itu berolah raga pagi. Sehabis sholat subuh, dia pasti langsung ke ruang kerjanya dan membenamkan diri dengan pekerjaan.


"Asalamualaikum."


"Walaikumsalam. Udah pulang kak?" tanya Mitha sambil menata telur mata sapi diatas piring lebar. Mie goreng spesial adalah menu pagi mereka. Elang masih sering kali belum bisa sarapan pakai nasi karena kebiasaan di luar negeri.


"Hmmmm.." sahutnya menuju kulkas dan menegak air dingin untuk membasahi kerongkongannya.


"Bisa buatkan aku kopi mocca?" pintanya seraya mengambil duduk di kursi makan.


"Tentu." Mitha segera membuatkan kopi pesanan Elang dengan cekatan lalu mengantarkannya pada sang suami.


"Kau benar-benar mau ke kantor mama pagi ini?" tanya sang pria sambil menyesap kopinya.


"Ya."


"Ikut aku." dan dia melangkah duluan ke ruang kerjanya. Mau tak mau Mitha mengikutinya dari belakang.


"Ini berkas-berkas yang kau minta. Duduklah." Mitha menyusul Elang yang sudah lebih dulu duduk disofa. Berlahan dia membuka tiap laporan yang tertera disana...tidak mengerti dengan deretan angka dan tulisan ruwet yang tercantum disana. Dia kuliah, hampir diwisuda tapi sama sekali buta soal perkantoran karena selama ini dia hanya pekerja kasar part time untuk mencari pengalaman dan uang secara mandiri. Tak terpikir dikepalanya jika suatu saat dia akan meneruskan usaha sang mama dan beberapa kali menolak ajakan wanita lemah lembut itu belajar dan mengelola resto mereka. Yang jelas Mitha sama sekali tak berminat terjun ke dunia bisnis. Entah apa yang dia ingini.


"Boleh aku mempelajarinya di kamarku?" tanyanya berharap. Kenapa dari kemarin dia tak berpikir meminta berkasnya lebih awal agar bisa belajar? jangankan statistik laporan...menu apa saja dan cara buat masakannya saja dia tidak tau.

__ADS_1


"Apa kau yakin bisa?" Mitha gamang. Mau belajar jungkir balik juga dia akan sulit mengerti. Berlahan Elang mendekat.


"Biar kujelaskan." ujarnya lalu mulai menjelaskan bagaimana membaca laporan itu, menyelesaikan dan menyikapi masalah. Mitha mendengarkan penjelasan pria itu dengan seksama. Wajah itu...kenapa dia begitu tampan dan penuh kharisma?


"Mitha perhatikan! jangan melihatku seperti itu!" lagi-lagi dia kehilangn fokus saat melirik Elang yang membuatnya terpesona. Apa ada pria setampan dan secerdas suaminya? aura kepemimpinan dan briliannya begitu terpancar.


"Apa...apa kakak ada waktu menemaniku ke kantor mama sebentar?" ragu, itulah yang ada dibenak Mitha kala bertanya hal itu pada Elang. Dia tau Elang amat sibuk dengan perusahaan papanya juga usaha rintisannya. Rasa tak percaya diri hinggap begitu saja dihatinya, takut ditolak.


"Ya. Hari ini aku akan menemanimu mengenal usaha mama Sarah dan mama Maria." ada yang mengharu biru disudut hati Mitha. Ini pertama kalinya Elang menyebut nama mamanya. Dia juga berkanan mengantarnya ke kantor sang mama yang pasti terasa asing jika dia memasukinya seorang diri.


"Terimakasih kak."


"Terimakasih saja tidak cukup Paramitha." rona serius tergambar kuat di wajah tampan itu. Mitha terhenyak. Apa Elang menginginkan sesuatu darinya?


"Jadikan aku satu-satunya pria dalam hidupmu." ujarnya mantap.


"Mana bisa begitu? ada papa juga dihatiku, juga...."


"Andra permana yang bertahta disana." tebak Elang dengan raut tak terbaca. Mata tajam itu terlihat berkilat.


"Itu dulu." pungkas Mitha lagi-lagi tak ingin berdebat.

__ADS_1


"lalu sekarang?" timpal Elang tak sabar.


"Kau pria ketiga dalam hidupku." Ingin rasanya Elang mengamuk karena jawaban pendek Mitha yang seakan menamparnya.


"Ketiga?? lalu siapa yang nomor dua?" makin kepo, makin memburu untuk bertanya dan mencari jawaban.


"Apa kakak lupa jika aku punya dua papa?" dan sekarang Elanglah yang terhenyak dalam diam. Mitha benar, dia akan jadi yang ketiga.


"Kakak jadi yang ketiga karena kakak adalah kakakku." lagi dan lagi jawaban Mitha membuatnya naik darah.


"Kau lupa aku juga suamimu." hardik Elang keras. Kenapa pula Mitha tak mengatakan dia jadi yang ketiga karena dia suami wanita itu. Kenapa harus kakaknya?


"Kakak yang lupa jika suda punya istri."


"Mitha cukup!!"


"Baiklah, aku akan diam."


"Aku tak ingin kau diam, apalagi mendiamkanku." Sekarang jadi membingungkan bukan? bicara salah, diam juga salah. Siapa bilang wanita adalah makhluk kompleks yang sulit dimengerti? buktinya kaum lelaki juga sulit dipahami.


"Terserah apa mau kakak."

__ADS_1


"Cepat mandi, ganti bajumu lalu kita berangkat." Mitha keluar dari ruang kerja Elang dan menuju kamar mereka. Dia harus bergegas agar Elang tak terlalu lama menunggunya. Ini moment penting dalam hidupnya, pertama kalinya dia menginjakkan kaki dikantor pusat S&M milik kedua mamanya.


"Mama...I'm coming.' lirihnya.


__ADS_2