Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Berusaha


__ADS_3

"Ibu mau jalan-jalan?" tawar Bian pada bu Asih sang mertua saat wanita yang tak lagi muda itu keluar dari kamarnya. Masih jam enam sore. Lagi pula ini belum terlalu malam untuk membawa bu Asih jalan-jalan diseputaran tempat tinggal mereka. Ke mall mungkin...dan membelikannya sesuatu. Bersamaan dengan itu Gea juga baru keluar dari kamar utama dan langsung bergabung dengan mereka di ruang keluarga yang di desain cukup luas.


"Tidak Bi...ibu itu sudah cukup senang melihat lingkungan kalian tadi. Rumah ini juga menyenangkan. Tak usah lagi jalan-jalan." ucap bu Asih tulus. Perempuan paruh baya itu benar-benar bahagia melihat putri semata wayangnya dipersunting pria yang bertanggung jawab dan tentu saja layak disebut tampan seperti Ahmad Nabihan.


"Ibu mau tinggal lamakan?" tanya Gea dengan wajah penuh harap sambil menggenggam tangan ibunya. Berat rasanya berpisah dari wanita yang sudah membesarkannya dan tinggal bersamanya sejak kecil itu.


"Ge...besok pagi ibu sudah harus pulang. Siapa coba yang mau mengajar anak-anak. Kami tinggal bertiga sajakan?" Bu Asih dengan sabar memberi pengertian anaknya.


"Kan jaraknya tidak jauh dari sini bu. Nanti Gea antar jemput ibu tiap hari. Lagian Ge juga sudah jadi pengangguran sekarang." ucap Gea seperti keluhan panjang.


"Husstt!! Sekarang kamu seorang istri, jadi ibu rumah tangga itu pekerjaan mulia lho Ge. Sudahlah..nikmati masa-masa pengantin baru kalian."


"Tapi saya juga ingin ibu tinggal. Ibukan tau saya sudah tidak punya orang tua, bu. Saya juga ingin merasakan kasih sayang seorang ibu." Bu Asih menatap menantunya sendu. Bian benar. Mereka masih pasangan muda yang butuh bimbingan orang tua. Tapi sungguh, Bu Asih tak ingin merepotkan mereka juga mencampuri urusan keluarga mereka.


"Bi..ibu akan selalu ada untuk kalian. Tapi baiklah...ibu mau tinggal disini, itupun setelah anak pertama kalian lahir."


Degh..


Degh...


Deghh....


Anak??????


"Kalau begitu doakan agar kami segera punya anak ya bu." Bu Asih tertawa melihat ekspresi menantunya.

__ADS_1


"Tentu saja Bi. Berusahalah lebih keras agar segera dikaruniai momongan." Bian ikut tertawa. Dia juga mengerling nakal pada Gea yang sudah memasang wajah cemberutnya. Jika dilihat-lihat, istrinya itu makin cakep jika dalam mode ngambek. Apalagi saat rambut pendeknya jatuh menutupi separuh wajahnya. Entah kenapa Gea terlihat begitu mempesona.


Makan malam yang meriah. Mereka bertiga terus bercanda tawa sambil menceritakan banyak hal. Terutama masa kecil Gea. Lihatlah siapa yang paling tertarik dan tak ingin berhenti bertanya? tentu saja Bian orangnya. Pria matang itu tak hanya tertawa hingga mengeluarkan air mata ketika bu Asih menceritakan masa kecil Gea yang nyaris seperti anak laki-laki karena sama sekali tak punya teman perempuan disekitar rumahnya. Diam-diam Bian melirik kedepan dimana Gea juga berulang kali tertawa sambil menimpali cerita ibunya. Bian terpesona dalam keceriaannya.


"Kalian lanjutkan ngobrolnya ya. Ada telepon, Sebentar ibu angkat." pamit Bu Asih sambil masuk ke kamarnya. Ponselnya memang berdering beberapa kali.


"Memangnya siapa yang menelepon ibu malam-malam begini?" tanya Bian sambil membantu Gea membersihkan meja makan. Hari ini ART mereka ijin pulang karena anaknya sakit.


"Mungkin Rina." sahut Gea mulai mencuci piring. Bian mengerutkan keningnya.


"Rina? Siapa?" tanyanya ingin tau. Gea menatapnya sekilas lalu melengos.


"Kalau urusan wanita saja cepet banget reaksi." sindirnya pedas. Tapi Bian malah mendekat padanya, membuat Gea menggeser tubuhhnya.


"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin tau. Apa tidak boleh? atau...kau cemburu hemm??" bisiknya pelan. Wajah Gea merona, dia bahkan tak berani menatap Bian sama sekali.


"Lalu kenapa kau seperti ini? tinggal jawab saja apa susahnya sih?" buru Bian makin mendekat. Lagi dan lagi Gea bergeser hingga membentur tembok. Artinya dia sudah tidak bisa bergeser lagi.


"Dia guru baru disekolah ibu." jawab Gea pada akhirnya.


"Sekarang menyingkirlah." Gea berusaha mendorong tubuh Bian, tapi hasilnya sudah bisa ditebak, tak bergerak sedikitpun hingga Bian menangkap kedua tangannya, memeluknya paksa.


"Untuk apa aku menyingkir? Aku suamimu Ge...lagian aku sama sekali tak tertarik pada Rina-Rina itu. Istriku sudah sangat cantik dan sesuai kriteriaku. Hatiku tak cukup untuk menampung wanita lain lagi." Gea bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya. Nafas yang membuatnya merinding tak karuan.


"Bi...bisa lepaskan saya p..pak?" Tentu saja Gea gugup karenanya. Meski semua temannya mayoritas laki-laki tapi dia tak pernah seintens sekarang dengan seorang pria. Jantungnya berpacu.

__ADS_1


"Pak lagi? bukannya kemarin aku sudah menyuruhmu mencari panggilan lain dan menghilangkan kata saya anda diantara kita Ge? apa kau mau membangkang pada suamimu?" desis Bian galak. Gea kembali tergagap. Bola matanya bergerak gelisah.


"Engg..ehhh..."


"Apa?"


"I...itu..."


"Panggil yang benar!!" Gea terkesiap saat Bian terlihat galak seperti biasanya. Lagi dan lagi Gea gelisah.


"Panggil aku seperti Mitha memanggil suaminya. Bisa??" Kepala Gea terangkat. Menatap lekat bola mata hitam Bian.


"Ehmm..bi...bisa."


"Kalau begitu panggil Ge." perintah Bian tegas. Gea meneguk ludahnya kasar.


"M..m...ma...mas Bi..Bian."


"Bagus! terus panggil begitu."


"Lepaskan a...aku." Bian mengendurkan cekalanya hingga Gea bisa sedikit bergerak. Tapi itu tak lama karena pria itu dengan cepat bergerak kebelakang tubuhnya dan melingkarkan tangannya ke perut sang wanita yang kembali salah tingkah.


"M..mas?"


"Ibu bilang aku harus berusaha memberinya cucu bukan? Kau juga pasti ingin ibu berkumpul bersama kitakan? Jadi apa salahnya jika malam ini kita mulai berusaha?" bisik Bian di telinga kanannya lembut. Gea tak berkutik. Wajahnya memerah. Apalagi dia bisa merasakan sesuatu yang keras menyentuh bagian belakangnya saat Bian dengan sengaja malah menempelkannya di pinggulnya. Bulu kuduk Gea meremang. Nafasnya tertahan.

__ADS_1


"Aku menginginkanmu Ge..." bisiknya dengan suara serak.


__ADS_2