
"Ayo pulang." Mitha mendongakkan kepalanya yang awalnya sibuk menatap laptopnya. Elang sudah berdiri lebih dulu dan merapikan tasnya.
"Pulang?" ulang Mitha bingung. Masih jam 3 sore. Belum waktunya para pekerja pulang.
"Ya." balas Elang singkat. Tangannya bergerak cepat menekan tombol save agar laporan itu tersimpan lalu mematikan laptop Mitha dalam sekali gerak. Terlatih dan cekatan.
"Kak tapi??"
"Kau pemiliknya bukan? Sesekali kau boleh pulang lebih awal. Biar sekretaris dan asisitenmu yang menyelesaikan tugasmu. Kau tinggal terima laporannya saja. Apalagi ini hari pertamamu masuk kerja." Mitha mengangguk, bergerak merapikan tasnya juga lalu berdiri dari tempatnya mengikuti langkah Elang keluar ruangan.
"Pak, bu kami pulang duluan ya." pamit Elang pad bu Dita dan rekannya. Serentak keduanya berdiri.
"Baik tuan, selamat sore." balas wanita paruh baya seusia mamanya itu ramah. Elang menggandeng tangan Mitha menuju lift tanpa menyadari jika mata wanita itu membulat sempurna karena perlakuannnya.
"Kak...bisa kakak lepaskan?" tanya Mitha saat tanda terbukanya pintu lift berbunyi. Bukannya menjawab, Elang malah menariknya keluar tanpa melepaskan tautan tangan mereka. Dia menyapa setiap pegawai yang berpapasan dengan mereka dengan ramah hingga sampai ke parkiran.
"Masuklah." utusnya saat dia sudah membukakan pintu depan untuk Mitha. Perlakuan yang amat manis. Salahkah Mitha jika dia ingin dunia berhenti berputar sekejap saja? dia tak ingin moment ini berlalu begitu saja.
"Kau mau makan dimana?" mobil hitam itu sudah melaju membelah jalanan yang belum begitu ramai. Maklum masih jam kerja.
"Dirumah saja." sahut Mitha yang masih tetap menatap lurus ke depan.
"Kau capek."
"Tidak kak, cuma duduk doang."
"Baiklah. Delivery aja."
"Aku mau masak kak." Elang menoleh menatap Mitha tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Makanan dirumah dimasak sendiri. Higienis dan sehat."
"Kau mengatakan masakan resto tak sehat?"
"Bukan itu maksudku."
"Lalu?"
"Pokonya aku mau makan masakanku sendiri."
"Dan kau memaksaku memakan masakanmu yang tak jelas rasanya itu?" Mitha menoleh, menatap sayu sang Elang yang beberapa waktu lalu sudah membuat hatinya berbunga. Tiba-tiba sudut hatinya kembali tergores.
"Aku tidak memaksa kakak melakukannya. Aku tau masakanku memang tidak enak. Terserah kakak saja." ujarnya pasrah. Tak ada gunanya berdebat. Pria ini memang sangat pintar mengaduk-aduk suasana hatinya hingga remuk tak berbentuk.
Elang membelokkan kendaraannya kesebuah resto masakan sunda yang menyediakan gurami bakar favoritnya tanpa berkata-kata lagi. Mitha turun dan berjalan lebih dulu walau berlahan. Dia tak ingin menunggu saat lagi-lagi sebuah tangan lagi-lagi menggandengnya dalam diam dan membawanya ke meja paling ujung. Tempat dengan privacy terjaga dan nyaman.
"Gurami bakar, jus mangga dan risol mayo." pesan Elang pada seorang pelayan yang sudah berdiri di dekat mereka. Terlihat sekali jika gadis muda itu begitu tertarik pada sosok Elang hingga bersikap sedikit genit saat menyerahkan buku menu.
"Samain punya kamu aja hubby." balas Mitha pendek sambil tersenyum miring pada sang pelayan yang langsung salah tingkah dan berpamitan setelah membaca ulang pesanan mereka.
"Apa tadi?? hubby?"
"Maafkan aku."
"Untuk apa minta maaf?"
"Aku hanya pura-pura. Tolong lupakan saja kak."
"Melupakan? kau pikir semudah itu?" dahi Elang mengerut heran.
__ADS_1
"Aku sudah minta maafkan kak?" sahut Mitha tak peduli.
"Apa semua cukup diselesaikan dengan kata maaf?"
"Lalu mau kakak apa sih?" kesal. Tentu saja Mitha kesal. Manusia es ini benar-benar sudah merusak moodnya.
"Panggil aku begitu!"
"Kan dari dulu udah."
"Dari dulu?"
"Iya, dari dulu kakaaaakkkk." sungut Mitha kesal. Apa pernah dia memanggil nama saja? Tidak bukan? bahkan saat kesalpun dia tetap memanggil Elang kakak.
"Aku bukan kakakmu!!" dengus Elang marah. Wajah seputih pualamnya menjadi merah.
"Kak, kita mau makankan? berantemnya ntar aja dirumah." sergah Mitha tak kalah marah. Apalagi saat pelayan tadi mendekati mereka membawakan pesanan. Saatnya akting bukan? Ulat bulu itu tak boleh tau.
"Silahkan pak, bu." Mitha sudah melotot horor padanya sebelum si ulat bulu sempat tersenyum. Wanita itu jadi salah tingkah dan mengambil langkah seribu.
"Serasa nonton Suzanna. Horor." sindir Elang penuh ejekan.
"Karena Suzanna tau caranya mengusir bibit pelakor dari muka bumi." timpal Mitha cepat.
"Pelakor dengan pengagum itu lain. Kau pencemburu rupanya."
"Maybe."
πππππππππ
__ADS_1
*Assalamualaikum readers....
Authornya minta maaf banget karena lama nggak up ya. Kebiasaan lama...sibuk mencari sebongkah berlianπ€£π€£π€£. Terimakasih sudah mampir dan memberi dukungan ya. Jangan lupa tab β€ agar kamu dapat info update setiap harinya. Selamat membaca dan lophe U puuuullllππππ*