
"Jangan pernah pergi tanpa ijinku." sergah Elang tegas tanpa melepaskan cekalannya. Iris hitam kelamnya terus tertuju pada bola mata kecoklatan Mitha yang terlihat resah.
"Kakak lepas!" Lirih Mitha sambil berusaha melepaskan dirinya, namun tangan kekar Elang yang menahannya masih lebih kuat darinya.
"Jawab dulu kalau suami bicara." Hembusan nafas beraroma mint dari bibir dan hidung Elang seketika membuat Mitha merinding. Seumur-umur ini pertama kalinya dia berdekatan dengan seorang pria, walau Elang adalah kakaknya. Wajah tampan itu kembali ke posisinya.
"I..iya kak." Elang tersenyum samar lalu melepaskan cekalannya. Mitha buru-buru kembali ke tempatnya, merapikan bajunya dan menutup pintu mobil.
" Pasang seat bealtnya." Ingin rasanya Mitha mendengus kesal karena kecerewetan Elang. Tak urung dia memasangnya pula.
Tak ada pembicaraan dari keduanya selama dalam perjalanan. Elang memilih fokus ke jalanan, sedang Mitha memeriksa beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Sekilas dia melirik ke jalanan.
"Lho kak..kenapa belok? kampusku lurus disana." tunjuk Mitha ke arah utara tempat kampusnya berada.
"Kita ke rumah Sindy dulu." balas Elang cuek sambil tetap melajukan kendaraannya menyusuri jalan anggrek.
"Tapi aku bisa terlambat ke kampus kak. Ada janji dengan dosen pembimbing." Rengek Mitha. Bisa-bisanya dia dinomor duakan karena seorang Sindy yang mungkin hanya pacarnya. Lagian kenapa wanita itu begitu menyusahkan saat pagi yang sibuk seperti sekarang? Tau begini dia tidak akan mendengarkan perintah Elang tadi.
__ADS_1
"Kita hanya sebentar." pungkas Elang tak terbantah.
"Tapi kak...." bibir Mitha mengerucut kesal karena perkataan maupun bantahannya dianggap angin lalu tanpa respon jelas dari Elang. Jangankan mendengarkan, pria itu malah seolah menganggapnya tak ada.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan rumah Sindy. Wanita itu mondar-mandir diteras rumahnya sambil memengang ponselnya. Senyumnya tiba-tiba merekah kala melihat mobil Elang datang. Adalah Kiara, si gadis kecil yang berjalan lebih dulu ke mobil sambil menenteng tas kecil bergambar pororo miliknya dan mengetuk jendela mobil Elang. Pria itu langsung membukannya dan tertawa lebar.
"Om, aku duduk di depan ya..." pintanya dengan gaya centil. Mitha saja sampai mengrenyitkan keningnya. Selama enam bulan mengajar Kiara di TK pelangi bunda, tak pernah dia melihat Kiara secentil ini. Elang juga ....baru sekarang dia melihat pria itu tertawa. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuknya menunggu tawa itu terlukis, tapi saat melihatnya, tawa itu bukan tertuju padanya.
"Bu Mitha, selamat pagi...." sapa Kiara. Mitha hanya tersenyum dan mengusap kepalanya.
"Pagi juga sayang...mau ke sekolah?" 0
Seperti sudah terbiasa, Kiara duduk dipangkuan Elang amat manja. Demikian pula Elang yang menciumi pipi chubynya berulang kali hingga Kiara tertawa geli. Mitha yang tau jika Elang menyetujui Kiara duduk disana merasa tau diri. Dia membuka pintu tepat saat Sindy sudah sampai di dekat mobil.
"Lho..mau kemana Mith?"
"Silahkan duduk di depan kak, Kiara tampaknya butuh mamanya." dan tanpa menunggu jawaban, Mitha membuka pintu belakang dan duduk di kursi tengah. Saat dia melirik kaca depan, matanya kembali bersitatap dengan Elang yang juga menatapnya.
__ADS_1
"Kita ke sekolah Kiara dulukan Yang?" tanya Elang seraya tersenyum lembut pada Sindy yang memnungkuk di dekat kacanya.
"ya."
"Kalau begitu segeralah masuk."
"Ayo ma, duduk sini, dekat Kia." ajak Kiara menunjuk kursi disamping Elang.
"hmmmm..lang, tunggu bentar ya, bekal Kiara ketinggalan." Belum juga naik ke mobil, ada saja yang ketinggalan. Padahal waktu begitu cepat berlalu dan Mitha sudah sangat gelisah. Kesal dia membuka aplikasi ojek online dan memesannya. Perjalanan menggunakan mobil akan butuh waktu lama, belum lagi mereka harus mengantarkan Kiara ke sekolahnya. Artinya akan butuh waktu lagi dan dia bisa terlambat. Orang lain tak akan tau betapa susahnya membuat janji dengan dosen senior itu.Siapapun juga tak akan tau perjuangannya agar bisa segera lulus dan bekerja di tempat yang lebih baik. Hanya dia saja yang tau apa arti berjuang diantara banyangan maya.
Hanya butuh dua menit saat orderannya diterima driver terdekat. Tak sampai lima menit sang driver sampai, bahkan Sindy saja belum kembali dari dalam rumah. Dalam hati Mitha membenarkan keputusannya. Cekatan dia membuka pintu hingga membuat Elang menoleh.
"Kau..."
"Maaf, aku pergi dulu kak." pamitnya tanpa ekspresi.
"Apa kau tak bisa menunggu sebentar saja?" ketua Elang, tapi kali ini Mitha tak ingin mundur. Ditatapnya mata itu tegas.
__ADS_1
"Menunggu itu membosankan kakak. Dan maaf, aku tidak suka menunggu. Permisi." dan setelahnya Mitha berlari kecil kearah sang driver, mengabaikan teriakan kesal Elang yang pastinya kesulitan menyusulnya karena Kiara yang ada dipangkuannya.