Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Tak ada dia


__ADS_3

Seorang maid mengantarkan Mitha ke kamar Elang dilantai dua mansion mewah kakek Hans. Satu lantai dibawah kamar Richard dan mamanya yang memang menghuni lantai tiga. Mitha memasuki kamar luas bernuansa maskulin dengan cat hitam dan abu-abu yang mendominasi ruangan yang begitu luas untuk ukuran sebuah kamar itu. Benar-benar orang. Bahkan kamarnya di Jakarta saja hanya separuh dari kamar itu. Pandangannya tertuju pada sebuah koper yang ada di dekat pintu masuk. Ahh..rupanya dia mengabaikannya tadi.


Mitha menghampiri koper itu, menariknya mendekati ranjang dan membukanya. Dia mengambil pakaian ganti lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Tak ada lagi acara berendam. Mitha memilih mandi cepat agar bisa segera istirahat. Kepalanya berdenyut pusing.


"Nyaman sekali." gumam Mitha saat mendudukkan dirinya di ranjang king size yang ada di kamar suaminya itu. Tubuhnya memang terasa remuk karena perjalanan jauh yang mereka tempuh tanpa jeda. Berlahan dia menyelonjorkan kaki, menikmati kemegahan kamar dengan aroma pinus yang segar itu hingga lagi-lagi dia medaratkan pandangannya pada sebuah pigura kecil dismping nakas. Ternyata dia juga mengabaikan benda itu tadi.


Tangannya sedikit bergetar saat menjangkau kotak segi empat yang membingkai foto sepasang kekasih yang tengah berpelukan mesra dengan senyum lebar. Elang dan Sindi. Mereka tampak bahagia dengan background musim dingin di Inggris. Hatinya tersayat. Bahkan Sindy sudah pernah menyusul Elang ke Inggris entah atas bantuan dana siapa karena Mitha cukup tau jika Sindy tak sekaya itu untuk bisa sampai ke negara pangeran Charles itu. Pasti ada campur tangan Elang di dalamnya. Seketika matanya berair.


Suara langkah kaki yang mendekati kamarnya membuatnya refleks menyembunyikan foto itu. Gerakan bodoh karena dia hampir menjatuhkannya jika tak terhalan oleh selimut tebal yang menutupi separuh tubuhnya. Rasa gugup masih mendominasi saat pintu mulai terbuka, menampilkan sosok Elang yang juga terlihat sama lelahnya dengannya.


"Kau belum tidur?" tanya Elang sambil lalu. Pria itu lebih fokus pada lemari pakaiannya dari pada menatap istrinya yang masih terdiam, menata hatinya. Pria itu juga tak menunggu jawaban Mitha sebelum menuju kamar mandi dan menghilang dibalik pintunya.


"Kakak pasti sangat tersiksa dengan pernikahan ini. Bukan aku yang dia harapkan untuk berada di sampingnya. Jika mereka masih saling cinta...kenapa tak bersama saja? Kenapa aku dan kak Leo ada diantara mereka?" gumam Mitha seraya memijit pelipisnya yang kembali berdenyut sakit. Dia memilih segera memiringkan tubuhnya, membelakangi Elang dan mencoba tidur sebelum suaminya menyelesaikan mandinya walau tau itu semua tak kan mudah. Mitha tak akan bisa tidur dalam keadaan penuh pikiran dan dada sesak seperti sekarang.


Yang dia dengar selanjutnya hanya suara langkah kaki Elang yang sengaja mematikan lampu ruangan dan menggantinya dengan lampu tidur sebelum naik ke tempat tidur dan menarik selimutnya. Setelahnya...tak ada lagi gerakan.


Mitha masih terdiam dalam pikirannya yang berkecamuk hingga sebulir air mata jatuh lagi dan lagi. Diremasnya bingkai foto yang tadi dia sembunyikan di dalam selimutnya amat kuat seolah hendak menyalurkan rasa sakitnya. Dia bisa saja menjadi istri sah seorang Elang narindra abimana, tapi tak pernah memiliki hatinya. Lagi-lagi kisah lady Diana membayang dalam benaknya. Meski nanti dia melahirkan anak-anak suaminya, dia tetap tak bisa memiliki hatinya karena Elang sama seperti pangeran Charles yang mencintai Camila hingga menua dan membuat Diana putus asa dan memilih mundur untuk menjaga hatinya. Cinta pertama yang sulit dipisahkan.


.......klek.......


Hampir saja Mitha memekik kaget saat bunyi itu terdengar amat nyaring dalam keheningan kamar itu. Tangannya seperti tertusuk sesuatu dan cairan hangat mengaliri kulitnya, menyisakan rasa perih hingga berlahan dia menarik tangan keluar.

__ADS_1


''Ahh...Ya Tuhan!!!" refleks Mitha menoleh saat suara bariton itu menggelegar dibelakang tubuhnya. Elang yang masih duduk dan bersandar di kepala ranjang segera menghidupkan lampu besar lalu menarik tubuh Mitha agar menghadap padanya seiring dengan suara pecahan kaca. Pria itu segera memutar tubuhnya pada asal suara. Matanya nanar saat mendapati bingkai foto itulah yang pecah karena gerakan tiba-tiba Mitha tadi.


"Maafkan aku kak." cicit Mitha takut. Wajahnya memucat seketika. Elang pasti akan marah karena dia memecahkan bingkai fotonya. Dia sudah pasrah.


Tak ada sahutan. Elang juga tak berteriak marah seperti dugaannya. Pria itu malah bangkit membuka laci paling bawah dan mengeluarkan kotak obat dari sana.


"Kemarikan tanganmu!" ucapnya memerintah. Tapi sama sekali tak ada reaksi dari Mitha yang masih terlihat ketakutan dari pada sedih. Elang menghela nafasnya kasar lalu meraih tangan itu paksa.


"aku bisa sendiri kak." Elang tak menganggapi. Dia malah lebih fokus membersihkan luka itu, meneteskan obat lalu menempelkan penutup luka.


"Jangan bersikap terlalu manis padaku." bisik Mitha hampir tak terdengar. Elang mengangkat wajahnya, menatap tajam wanitanya.


"Apa yang kau katakan hemm??" Mitha hanya menundukkan kepalanya, lagi dan lagi air mata membasahi pipinya.


"Apa yang membuatmu berpikir demikian? siapa yang menyuruhmu menangis dan...apa tadi? Kakak? aku tak suka panggilan itu paramitha! apa karena ini?" Elang mengangkat sehelai foto dirinya dan Sindy yang tadi terinjak olehnya.


"Jawab Mith!" desaknya keras. Andai saja kamar itu tak kedap suara, mungkin suaranya akan menggelegar dan membangunkan seluruh penghuni rumah.


"Mas bisa kembali padanya, kapanpun karena aku tidak akan memaksa mas Elang tinggal."


"Kalau aku tidak mau?" Mitha menengadahkan kepalanya, menatap Elang masih dengan air mata berlinang.

__ADS_1


"Aku yang akan pergi darimu." ujarnya mantap walau diucapkan dengan suara bergetar.


"Kau tak akan bisa melakukannya." jawab Elang tak kalah mantap. Diraihnya kedua pipi wanitanya lalu dilapnya air mata yang tetap mengalir itu dengan ibu jarinya. Mitha tercekat karenanya.


"Kita sudah berjanji pada kakek." lanjutnya lagi. Mitha menggeleng lemah.


"Janji bukan pondasi kuat dalam sebuah pernikahan mas. Kau takkan bisa melupakan cinta pertamamu. Selamanya aku akan jadi istri bayangan seperti lady Di." isakan itu kembali terdengar.


"Aku memang tidak bisa melupakan cinta pertamaku. Sampai kapanpun tidak Mitha."


"Lalu kenapa kita harus terbelenggu dalam ikatan tanpa cinta ini mas?" suara Mitha makin lirih dan bergetar menahan sakit di dadanya.


"Hanya kau yang tidak cinta." balas Elang dalam.


"Maksudmu?"


"Kau tau jika cinta pertama itu sulit dilupakan."


"Maka itu kembalilah padanya."


"Dia? dia siapa yang kau maksudkan? tidak ada dia Paramitha. Karena kau...kau cinta pertamaku." mata Mitha membola. Ditatapnya manik mata Elang bergantian.

__ADS_1


"A...aku?? ke ...kenapa a..aku???


__ADS_2