Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Dari awal


__ADS_3

Sebuah sentakan kuat membuat Paramitha terhuyung hampir jatuh. Tangannya refleks menggapai dan berpegangan pada bahu orang yang menariknya kencang itu.


"Mas!!" pekiknya saat sadar jika Elang orangnya. Memangnya siapa lagi? hanya mereka berdua yang tinggal di kamar ini. Tadinya dia ingin ke atas untuk memberitau agar Elang segera sarapan. Tiga jam lagi mereka sudah harus ke Bandara untuk melakukan penerbangan panjang. Masih ada sedikit waktu untuk menengok Abi di rumah sakit pagi itu.


"Kenapa tarik-tarik sih? bikin kaget tau!!" kecam Mitha keras. Kesal juga karena sungguh jantungnya menjadi berdetak cepat karena kaget. Belum habis rasa terkejutnya, tubuh langsingnya sudah dihimpit ke tembok oleh badan tegap Elang.


"Apa yang kau bicarakan dengan aunty? kau ingin pergi dariku?" tanya Elang marah. Wajah tampannya terlihat amat sangat kesal dan sedingin es.


"Aku hanya ingin pergi ke tempat yang baru." sahut Mitha dengan suara bergetar. Dia sama sekali tak mengira jika Elang akan mendengar perkataannya pada Mikha pagi itu.


"Dan meninggalkan aku?"


"Aku ....."

__ADS_1


"Apa???!! kau ingin meninggalkan aku seperti mama? papa? atau seluruh teman-temanku? kau jahat Mitha!" Mitha terlonjak kaget saat Elang menonjok tembok di dekat kepalanya frustasi. Mitha mengigit bibirnya, merasakan betapa sakitnya tangan itu. Kepalanya tertunduk, tak kuasa melihat pada sang Elang.


"Kau salah paham mas."


"Salah paham apanya? dibagian mananya? aku dengar pembicaraan kalian!" tanyanya makin marah. Mitha sampai bergidik ngeri dibuatnya.


"Mas aku melakukan ini untuk kebaikanmu. Aku hanya ingin kau bahagia. Itu saja."


"Kebaikan apa? Kebahagiaan apa? kau sangat tau jika aku tidak bahagia tanpamu." hardik Elang mulai emosi.


"Baik jika itu maumu!!" Elang segera mengambil ponselnya dan menekan nomer Bian. Waktu yang terlalu krusial untuk menelepon seseorang. Masih jam tujuh pagi di London, artinya Jakarta masih tengah malam mengingat selisih waktu London yang tujuh jam lebih lambat dari Jakarta. Tapi Elang harus segera bertindak agar kesalah pahaman antara dia dan istrinya tidak terus terjadi atau mungkin makin parah jika dibiarkan berlarut-larut.


"Bi...berhentikan Sindy dari pekerjaannya. Jual semua saham dan aset perusahaanku karena aku hanya akan fokus pada Abimana company saja." katanya cepat begitu panggilan terhubung. Mitha hanya bisa menganga tak percaya. Secepat itu??

__ADS_1


"Mas, aku hanya ingin Sindy berhenti bekerja diperusahaanmu, bukan menutup dan menjual semua asetnya." protes Mitha keras. Dia serasa menjadi orang jahat yang bahkan membuat puluhan karyawan diperusahaan rintisan suaminya itu kehilangan pekerjaan.


"Jika perusahaan itu tetap berdiri maka mau tak mau Sindy akan tetap disana karena aku sudah berjanji akan memperkejakan dirinya secara permanen disana. Sudahlah...aku sudah memikirkannya masak-masak." Mitha menatap lurus wajah suaminya. Sama sekali tak ada rona penyesalan di wajah tampan itu. Pria itu bahkan terlihat amat lega sekarang.


"Tapi bagaimana dengan para karyawan......"


"Kita akan mengalihkannya pada S&M. Kita akan memperluas jangkauannya, menambah ragam produksinya, juga melakukan penjualan secara online. Intinya S&M harus berkembang."


"Kita??" beo Mitha masih dalam mode bingung. Elang kembali merengkuh kedua pundaknya lembut.


"Iya...kita. Aku suamimu, kita akan saling membantu. Dua perusahaan itu milik orang tua kita. Sudah kewajiban kita untuk mengelolanya Mith. Mulai sekarang kita mulai semuanya dari awal lagi. Mari menata pernikahan ini." ujarnya lembut. Mata Mitha memanas. Sebulir air mata kembali luruh membasahi pipinya.


"Kenapa menangis? apa kau keberatan??"

__ADS_1


"Tidak!" sahut Mitha cepat. Gelengan kuat dikepalanya bahkan membuat Elang terkejut sakinh kuatnya. Spontan wanita muda itu memeluk pinggang suaminya dan menumpahkan tangis haru di dada lelakinya.


__ADS_2