Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Tau


__ADS_3

"Hingga tiga tahun lamanya kami merantau kemari. Tak kenal lelah aku dan Maria mengembangkan modal yang dipinjamkan ayahmu secara cuma-cuma untuk berbisnis resto cepat saji seperti bisnis opa d London. Dari sana, kami punya sedikit simpanan untuk membeli beberapa saham dengan harga rendah. Nasib baik masih menyertai kami, saham itu melonjak naik dan terus naik hingga kami punya banyak keuntungan hingga papa merambah bisnis properti hingga sekarang. Kau tau, itu alasan papa ymembiarkanmu bekerja diluar sana. Agar nantinya kau tau bagaimana mengurus karyawan, mengembangkan usaha dan jadi penerus resto milik mamamu dan almarhumah ibumu. S&M pada resto itu adalah inisial Sarah dan Maria." benar, ditangan Mitha kini telah ada beberapa lembar surat kepemilikan tanah dan properti dari S&M resto yang barusan dialih namakan pada dirinya sehari setelah dia menikah.


"Kami membawa Elang pulang karena perekonomian sudah membaik, tentu saja dengan penuh drama karena Elang tidak mau meninggalkan orang tuamu. Anak itu menangis semalaman. Beberapa tahun kemudia kau lahir. Kau tau, ibumu sangat bahagia kala itu, saat akan pulang dari rumah sakit setelah melahirkamu itulah kecelakaan yang menimpa orang tuamu terjadi." kali ini air mata Abi luruh. Pria itu begitu sedih saat mengingat almarhum sahabatnya. Pun juga Mitha yang tak terasa juga menjatuhkan air mata.


"Sebuah truk meluncur cepat karena rem blong menghantam mobil orang tuamu tanpa ampun. Bukan hanya orang tuamu, tapi sopir truk itu juga meninggal ditempat. Tergesa kami membawa korban ke rumah sakit. Disana, Sarah dan Yoga yang sudah sekarat membuat kami berjanji mengurus dan menikahkanmu...dengan anak kami Elang. Saat itu juga aku menambahkan nama Abimana dibelakang namamu karena saat itu pula kau bukan hanya akan menjadi putri kami, tapi juga menantu kami. Yang harus kau tau, Abimana crop yang berdiri sekarang adalah gabungan antara perusahaan ayahmu dan diriku. Kau juga berhak atas semua ini nak."


"Tapi aku tidak tertarik pada abimana crop pa."


"Kau tetap mendapatkan hakmu. Demikian pula pada resto mamamu. Semuanya telah kami simpan disini." Abi menyerahkan buku rekening dan polis asuransi atas nama Mitha membuat tangis Mitha pecah karenanya. Abi meraih kepalanya dan memeluknya.


"Elang tidak berhak berkata kasar padamu karena kau dan dia punya hak yang sama." pungkas Abi kemudian.

__ADS_1


"Apa Elang pernah melakukan hal lain padamu?" pertanyaan penuh selidik yang terus terucap dari bibir sang papa.


"Tidak. Kak Elang memperlakukan aku dengan sangat baik, pa." jawab Mitha tegas. Kebohongan. Elang tak pernah berbuat baik padanya. Tapi bagaimanapun pria itu tetap suaminya, dan dia adalah sebaik-baik pakaian pada diri Elang.


"Dia...apa anakku sudah memberikan nafkah lahir batin padamu?" Mitha terkesiap. Lidahnya kelu untuk sekedar menjawab atau menggerakkan kepalanya.


"Sudah kuduga!" geram Abi sambil mengepalkan kedua tangannya murka.


"Papa harap kau tidak membohongi papa." tukasnya tajam. Mitha menganggukkan kepalanya. Kali ini dia harus meyakinkan papanya agar percaya. Sungguh dia tidak ingin membebani Abi dengan rasa bersalah.


"Bisa Mitha minta tolong papa untuk menyimpannya?" Mitha menyodorkan berkas-berkas itu pada Abi kembali, membuat kening pria itu berkerut.

__ADS_1


"Itu hakmu Mith."


"Tapi Mitha tidak menginginkannya pa. Mitha sudah cukup bahagia dengan apa yang sudah ada sekarang. Uang saku dari papa, uang belanja kak Elang, juga sedikit penghasilan Mitha menulis lebih dari cukup. Mitha belum membutuhkannya." secercah senyum menghiasi bibir Paramitha. Abi mengelus kepalanya penuh kasih sayang. Anak yang dia besarkan dan dia didik dengan penuh cinta ini tumbuh sesuai harapannya juga Maria. Gadis yang lembut, penuh cinta dan sangat cermat. Dia patut berbangga dengan sosok Mitha. Abi mengambil alih surat-surat itu dan memasukkannya ke dalam brankasnya. Amanah itu akan tetap dia jaga hingga Mitha memintanya.


"Boleh Mitha mengunjungi makam orang tua kandung Mitha pa?


"Tentu saja. Kau dan Elang akan kesana."


"Kenapa harus bersama kak Elang pa?"


"Karena dia suamimu Mith. Sudah semestinya dia mengunjungi makam orang tuamu dan memberi salam pada orang yang sudah membesarkannya. Elang berhutang banyak pada orang tuamu." tegas Abi.

__ADS_1


__ADS_2