
"Sayang...bangun." Mitha mengerjabkan matanya saat suara lembut Elang memanggilnya dengan elusan lembut di kepalanya. Tubuhnya terasa lemas dan mata yang terasa amat berat. Di sampingnya, Elang sudah duduk seraya menatapnya mesra dengan pakaian formal khas pergi bekerja. Jangan tanya betapa wajah tampannya terlihat amat bersinar dengan rambut basah yang membuatnya fresh. Hal yang amat kontras dengan dirinya yang berantakan dengan rona lelah.
"Mas mau pergi ke kantor?" tanya Mitha lirih seraya mengucek matanya. Elang memandangi wajah cantik yang barusan terjaga itu takjub. Entah sudah berapa menit lalu dia memandanginya tanpa jemu. Mitha kecil yang lucu sudah berubah jadi putri cantik yang dia harapkan. Dan wanita muda itu juga sudah menjadi istrinya sesuai keinginan orang tuanya. Apa sekarang dia masih akan menyalahkan perjodohan ini?
"Ehhmm...ya. Bian bilang ada klien yang tak mau dia gantikan. Tapi sebaiknya kau istirahat saja di rumah. Kau telihat amat capek." Ucapnya seraya membenarkan letak selimut yang sedikit tersingkap dari tubuh istrinya. Andai saja tak ada klien rewel itu dia pasti akan lebih memilih dirumah saja, bercengkrama dengan Mitha. Tapi Elang sadar, dirinya punya tanggung jawab yang amat besar di perusahaan.
"Gimana nggak capek? mas Elang mintanya terus-terusan, nggak berhenti." protes Mitha dengan wajah ditekuk. Elang tertawa kecil. Dia sangat ingat kejadian beberapa jam lalu. Bagaiman tubuh langsing istrinya itu sudah membuatnya ingin bermain lagi dan lagi. Rasa ingin dipuaskan dan cemburu berlebihan membuatnya seolah tak ingin berhenti menguasai tubuh indah itu. Apalagi Mitha juga sama sekali tidak menolak setiap sentuhannya. Dia yang sudah terengah kehabisan tenaga bisa kembali panas hanya karena sentuhan yang Elang berikan. Benar-benar parter idaman di atas ranjang walau dia masih harus beberapa kali mengajarinya, tapi Mitha termasuk cepat tanggap untuk urusan itu hingga berkali-kali Elang dibuat berteriak tertahan dan melengguh panjang dengan keringat yang mengucur deras membasahi tubuh athletisnya.
"Ohh astaga. Hampir tengah hari!" pekik Mitha saat melirik jam dinding. Padahal dia barusan tertidur setelah Elang memeluknya tadi. Suami tampannya itu juga tertidur walau sejenak. Itu artinya mereka melewati sesi percintaan yang cukup lama.
"Baru setengah hari. Percayalah, suamimu ini masih sanggup membuatmu melayang semalaman nanti." ucap Elang seraya tersenyum mesum membuat Mitha memukul lengannya pelan. Wajah cantiknya merah dadu. Dia tau Elang tak main-main dengan perkataannya.
__ADS_1
"Ya sudah. Mas berangkat sana!" usir Mitha saat tatapan mesum suaminya itu sudah kembali menjelajahi tubuhnya yang masih polos dibawah selimut tebal. Mitha jadi ngeri sendiri membayangkan jika lelakinya itu akan kembali menerkamnya. Bisa-bisa dia tak bisa berjalan nantinya.
"Kau tak ingin mengantarku walau sampai ke pintu utama saja hemm?" Mitha hendak bangkit dari posisi rebahannya karena ingat kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi tangan besar Elang sudah menahannya, menyuruhnya kembali merebah.
"Aku hanya bercanda baby. Teruskan tidurmu. Cukup berikan suami tampanmu ini ciuman terbaikmu." desisnya seraya melirik bibir sensual Mitha yang sudah berubah bengkak tentu saja karena ulahnya yang sama sekali tak bisa melepas ciumannya di bibir itu saat bercinta. Entah kenapa bibir itu terasa amat manis dan menggemaskan.
Sebuah senyum lebar terpatri di bibir sang pria saat wanitanya menarik wajahnya mendekat, mencium kedua pipi, kening dan bibirnya dengan amat lembut.
"Sure baby." Dan Mitha segera mencium tangan suaminya sebelum pria itu beranjak dari kamar mereka.
"Bik, jaga istri saya ya. Dia masih tidur di kamar." pesan Elang pada bik Sri yang sedang melintas di dekat dapur.
__ADS_1
"Ohhh iya tuan. Apa non Mitha sakit?" raut khawatir terlihat di wajah wanita paruh baya itu. Tak biasanya majikannya pulang kantor sebelum waktunya, langsung masuk kamar dan hanya Elang yang kembali bekerja.
"Cuma lemes sama ngantuk aja bik."
"Apa mungkin non Mitha hamil ya tuan?" Elang menghentikan langkahnya yang hampir mencapai pintu. Perkataan bik Sri membuatnya ingat dengan percakapannya dengan Mitha kemarin.
"Jika itu terjadi maka saya akan menaikkan gaji seluruh pekerja rumah ini." Mata bik Sri berbinar. Bukan karena gaji yang ditawarkan Elang padanya, tapi dia merasa jika putra kandung majikannya itu sudah membuka hati pada istri yang sejak awal di tolaknya mati-matian. Dia sudah cukup bahagia bisa membayangkan jika di alam sanapun Maria bisa merasakan kebahagiaan anak-anaknya pula.
"Kami akan selalu mendoakan agar non Mitha segera hamil tuan."
"Terimakasih bik." Bik Sri mengangguk penuh semangat.
__ADS_1