Pengantin Bayangan

Pengantin Bayangan
Kesal


__ADS_3

Tok...tok..tok...


Seketika mitha melepaskan diri dari pelukan Elang yang masih terus mendekapnya. Pria itu seakan tak rela melepaskannya walau Mitha sudah beberapa kali memberontak.


"Masuk!" ucap Elang tanpa melepas cekalan tangannya.


"Ohh ehh maaf kalau ssaya menganggu anda tuan." ternyata bu Dita yang masuk dan jadi salah tingkah karena melihat kedekatan atasannya itu.


"Ehh...tidak bu, kami hanya...."


"Ada apa?" potong Elang cepat, berlahan pegangannya mengendur, membiarkan Mitha berdiri tegak diatas kakinya sendiri.


"Semua karyawan sudah mulai bekerja di tempatnya masing-masing. Jika nyonya ingin berkeliling, saya sudah siap mengantar anda nyonya." lapor wanita paruh baya itu lembut. Mitha tersenyum kikuk kala lagi-lagi lengan kekar Elang sudah melingkar dipinggangnya.


"Baik bu, saya akan menemani istri saya berkeliling."


"Baik, silahkan tuan." Bu Dita menggeser tubuhnya, memberi jalan pada sepasang pengantin baru itu lalu menutup kembali pintu ruangan mereka.


Acara berkeliling mereka selesai satu jam setelah makan siang. Bu Dita banyak memberikan cerita tentang apa yang biasa mamanya lakukan semasa masih menjabat. Mitha dan Elang benar-benar dibuat kagum oleh ketelitian dan kegigihan mama mereka dalam mengelola bisnisnya.

__ADS_1


"Sebentar lagi Bian dan Sindy akan datang." Mitha mengalihkan pandangannya ke arah sang suami.


"Mereka hanya minta tanda tangan." lanjut Elang tanpa diminta. Entah kenapa dia sama sekali tak ingin istrinya salah paham.


"hmmmm..." tampaknya Mitha tak ingin bereaksi berlebihan. Berdehem mungkin cukup manjur untuk menetralisir keadaan.


"Mungkin itu mereka." ketukan dipintu sudah membuat Elang menduga-duga. Benar saja, Bian masuk diikuti Sindy dibelakangnya. Mereka membawa beberapa map yang langsung disusun rapi dihadapan Elang.


"Duduk." perintah Elang. Kedua sekretaris itu mengambil kursi di depan Elang dan Mitha yang duduk berdampingan. Elang hanya butuh meneliti laporan itu sekilas saja sebelum membubuhkan tanda tangan karena mereka sudah mengirimkan kopiannya tadi.


"Besok istriku akan merekrut asisten baru. Kalian harus datang bergantian untuk mengajari dia selama masa training."


"Maaf pak, apa asisten bu Mitha belum berpengalaman?" tanya Sindy ingin tau. Sekilas Mitha melirik tak suka pada wanita itu. Tapi dia hanya ingin melihat reaksi suaminya pada wanita yang dia sebut sahabat itu.


"Kenapa tak ambil yang sudah pengalaman saja pak, dengan begitu kita bisa menghemat waktu dan tenaga tentunya.


"Kau sedang tak berada di posisi bisa protes Sin , ini perusahaan istriku. Dia yang berhak memutuskan siapa saja yang akan bekerja padanya. Aku hanya membantunya saja." Mitha masih bisa melihat senyum getir yang terbit di bibir Sindy karena jawaban Elang.


"Aku sudah memutuskan agar Bian saja yang akan melatih asisten baru itu." putus Elang tanpa bertanya lagi. Bian hanya mengangguk setuju. Sama seperti Mitha, dia memilih diam dan menurut saja.

__ADS_1


"Ini berkas yang harus anda tanda tangani nyonya." Bian memberikan dua lembar laporan pada Mitha yang masih menatap bingung saat menerimanya.


"Bacalah, biasakan begitu saat akan menandatangani sesuatu." bisik Elang lembut. Tangan Mita sampai harus bergetar karenanya. Untung saja Bian dan Sindy sedang bicara serius dengan suaminya hingga tak begitu memperhatikan dirinya.


"Sayang, apa kau sudah menandatanganinya?" sontak Mitha kaget, gerakan tiba-tibanya membuatnya menjatuhkan bolpoin di tangannya. Wajah kaku itu menatap Elang penuh tanya.


"Hati-hatilah, sekarang tanda tangani dan serahkan kembali pada Sindy." Elang kembali membuat kejutan dengan mengambilkan bolpoin yang jatuh itu dan meletakkannya di telapak tangan kanannya mesra. Suaranya yang biasa tegas menjadi amat lembut. Siapa yang tak terkejut karenanya??


"Kalau begitu kami permisi tuan." Bian yang lama terdiam mengamati interaksi pasangan itu mulai berpamitan. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. Amat tipis hingga sama sekali tak terbaca. Dia mengajak Sindy serta, membuat wanita cantik itu sedikit kesal karenanya.


"Kau lihat bukan?? Elang sangat mencintai istrinya. Jadi jangan mencoba jadi pelakor kakak ipar." ucap Bian saat mereka sudah sampai di lantai dasar.


"Itu semua tidak mungkin. Elang hanya mencintai aku saja."


"Kau terlalu percaya diri." sindir Bian tidak suka. Dia amat tau wanita seperti apa Sindy. Kakaknya saja yang dibutakan oleh cinta hingga tak melihat wajah asli istri tercintanya.


"Kita lihat saja siapa yang menang nanti Bian." kali ini Sindy sudah bersungut kesal. Adik iparnya itu benar-benar menguras emosinya.


"Aku sudah tau siapa pemenangnya jauh sebelum kalian berkompetisi. Semua hal akan kembali pada pemiliknya kakak ipar. Dan kurasa kau sudah tau siapa pemilik sang Elang."

__ADS_1


"Memiliki bukan berarti selamanya bukan? anggap saja dia sedang meminjamnya dariku."


" Meminjam? kau pikir dia barang? menyedihkan sekali." Bian lalu melangkah lebih dulu setelah mengatakan semuanya. Dalam hati dia meruntuki kebodohan Leo yang tetap menerima wanita licik itu walau tau Kiara bukanlah anak kandungnya.


__ADS_2